Subhanallah, Saat Ramadhan Imam Abu Hanifah Khatamkan Al-Quran 60 Kali

90
Seorang warga binaan permasyarakatan sedang melakukan kegiatan pengajian tadarus Al-Quran di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Tangerang, Jumat (23/04/2021). (Foto: Edwin B/ Muslim Obsession)

Jakarta, Muslim Obsession – Ulama-ulama dulu memang dikenal tekun dalam belajar dan beribadah. Terlebih di bulan-bulan tertentu seperti Ramadhan, dimana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah.

Tadarus atau membaca Al-Quran adalah ibadah yang sudah dilakukan oleh para ulama dulu saat Ramadhan.

Bahkan, seorang ulama besar, yakni Imam Abu Hanifah disebut mampu mengkhatamkan Al-Quran 60 kali saat Ramadhan.

Abu Hanifah seorang mujtahid besar. Pendiri Mazhab Hanafi, satu dari empat mazhab fiqih Islam. Nama lengkapnya adalah Abu Hanifah al-Nu’mân bin Tsâbit (w. 150 H).

Menurut Imam al-Dzahabi, Abu Hanifah termasuk dalam kalangan tabi’in karena ia berjumpa dengan Sayyidina Anas bin Malik (annahu ra’a anas bin mâlik) sebagaimana perkataannya:

حَدَّثَنَا سَيْفُ بْنُ جَابِرٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا حَنِيفَةَ يَقُولُ: رَأَيْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Artinya, “Saif bin Jâbir bercerita, sesungguhnya ia mendengar Abu Hanifah berkata: “Aku berjumpa dengan (Sayyidina) Anas radhiyallahu ‘anhu.” (Imam Abu ‘Abdillah Muhammad al-Dzahabi, Manâqib al-Imâm Abî Hanîfah wa Shâhibaihi Abî Yûsuf wa Muhammad bin al-Hasan, Hyderabad: Lajnah Ihya al-Ma’arif al-Nu’maniyyah, tt, halaman 14).

Dikenal memiliki wajah tampan dan gemar bershodaqoh, Imam Abu Hanifah selalu mengisi waktunya untuk mengajar.

Bahkan, salah seorang karibnya, ahli hadits yang terkenal ketsiqqah dan keadilannya, Imam Mis’ar bin Kidam (w. 153 H) menyaksikan sendiri kesibukan Abu Hanifah dalam berbagi ilmu.

Saat ia mendatangi masjidnya Imam Abu Hanifah, ia melihatnya sedang shalat subuh, kemudian membuka majlis ilmu sampai waktu dhuhur.

Setelah selesai shalat, ia kembali membuka majlisnya sampai ‘ashar, kemudian membuka majlisnya kembali sampai hampir maghrib. Begitu seterusnya sampai waktu ‘isya, dan itu dilakukan setiap hari. (Sayyid ‘Afîfi, Hayâh Abî Hanîfah, Kairo: al-Mathba’ah al-Salafiyyah, halaman 67-68). Abu al-Walid berkata:

ما رأيت أحرص منه علي علم يعمل به ويعلّمه الناس

Artinya “Aku tidak melihat (orang) yang lebih peduli darinya tentang ilmu yang diamalkan dan yang diajarkan kepada manusia.” (‘Afîfi: 69)

Imam Abu Hanifah adalah orang yang wara’, bertakwa dan bersikap sangat baik terhadap teman dan saudara-saudaranya (mufdlilan ‘alâ ikhwânihi). Ia dijuluki al-watad (pasak) karena banyak melaksanakan shalat.

Menurut penuturan Imam Abu Yusuf, ia mengkhatamkan al-Qur’an di setiap malam dalam satu rakaat. Katanya:

كَانَ أَبُو حَنِيفَةَ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي رَكْعَةٍ

Artinya “(Imam) Abu Hanifah mengkhatamkan al-Qur’an di setiap malam dalam satu rakaat.” (al-Dzahabi: 21).

Jika di malam-malam biasa saja Imam Abu Hanifah mengkhatamkan al-Qur’an secara penuh, tentu ia tidak akan melewatkannya saat Ramadhan tiba. Diriwayatkan oleh Yahya bin Nashr bahwa Imam Abu Hanifah mengkhatamkan al-Qur’an sampai enam puluh kali selama Ramadhan. Ia berkata:

رُبَّمَا خَتَمَ أَبُو حَنِيفَةَ الْقُرْآنَ فِي رَمَضَانَ سِتِّينَ مَرَّةً

Artinya “Kerap kali (Imam) Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali di (bulan) Ramadhan.” (al-Dzahabi: 23).

Di riwayat lain, Ali bin Zaid mengatakan:

رأيت أبا حنيفة ختم القرآن في شهر رمضان ستين ختمة: ختمة بالليل وختمة بالنهار

Artinya “Aku melihat (Imam) Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan (sebanyak) enam puluh kali: khatam (satu kali) di malam hari, dan khatam (satu kali) di siang hari.” (‘Afîfi: 68-69)

Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Imam Abu Hanifah tetap menyibukkan diri membaca al-Qur’an, ditambah dengan menyedikitkan ucapannya. Bayangkan saja, Imam Abu Hanifah yang sudah sangat terkenal pendiam, menjadi lebih pendiam di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Muhammad bin Jabir menggambarkan pribadi Imam Abu Hanifah dengan mengatakan:

كانَ أَبُو حَنِيفَةَ قَلِيلَ الْكَلامِ إِلا بِمَا يُسْأَلُ عَنْهُ، قَلِيلَ الضَّحِكِ كَثِيرَ الْفِكْرِ

Artinya “(Imam) Abu Hanifah adalah orang yang sedikit bicara kecuali pada hal yang ditanyakan kepadanya, sedikit tertawa (dan) banyak berpikir.” (al-Dzahabi: 18).

Di saat-saat akhir Ramadhan, Imam Abu Hanifah lebih menyedikitkan lagi ucapannya. Ia mendedikasikan dirinya dalam ibadah kepada Allah. Abdullah bin Labid mengatakan:

كان أبو حنيفة إذا دخل شهر رمضان نفرغ لقراءة القرآن, فإذا كان العشر الأواخر فقليل ما يوصل الي كلامه

Artinya “(Imam) Abu Hanifah saat bulan Ramadhan masuk ia membaktikan (dirinya) untuk membaca al-Qur’an. Ketika Ramadhan (memasuki) sepuluh hari terakhir, ia sangat jarang berkata-kata.” (Imam Abu ‘Abdillah Husain bin Ali al-Shaimari, Akhbâr Abî Hanîfah wa Ashhâbihi, Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1985, hlm. 57)

Itulah sosok Imam Abu Hanifah ulama besar yang patut ditiru. Sudah 1.000 tahun lebih ia wafat, tapi orang-orang masih sering menyebut, menulis, mengkaji dan menceritakan kisah-kisahnya, dan mungkin akan terus terjadi selama 1.000, 2.000 atau 3.000 tahun lagi. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here