Subhanallah! Dikubur 17 Tahun, Jasad Guru Ngaji di Subang Masih Utuh

481

Subang, Muslim Obsession – Masyarakat dusun Cikadu, Kecamatan Tanjungsiang, Subang, Jawa Barat dihebohkan dengan kabar adanya jasad seorang guru ngaji bernama Muhya bin Rudia yang masih utuh, meski telah dikubur selama 17 tahun.

Kondisi jasad sang guru ngaji itu masih utuh diketahui saat makam Muhya dibongkar dan jasadnya hendak dipindahkan.

Ujang Ading, murid almarhum menuturkan, semasa hidupnya Muhya bin Rudia memang dikenal baik, shalih dan rajin beribadah. Almarhum merupakan guru ngaji beberapa generasi di kampung ini.

“Setiap hari, waktunya banyak dihabiskan di masjid, mengajar mengaji Alquran kepada anak-anak dari generasi ke generasi, dari mulai ayah saya sama saya sendiri pernah mengaji sama almarhum,” kata Ujang Ading, Selass (18/1/2022).

Almarhum Muhya meninggal sehabis melaksanakan shalat Ashar. Alamrhum keluar dari masjid. Saat duduk di teras masjid, darah tinggi almarhum kambuh, kemudian pingsan. Saat dibawa dibawa ke rumah, ternyata Muhya bin Rudia telah meninggal dunia.

Jasad almarhum guru ngaji ini dipindahkan pada Minggu (9/1/2022). Namun video pemindahan makam baru viral setelah diunggah di media sosial dua hari lalu. “Almarhum Muhya meninggal saat berusia 65 tahun seusai melaksanakan shalat Ashar,” kata Ujang Ading.

Video amatir pembongkaran makam dan pemindahan jasad guru ngaji yang masih utuh tersebut viral di media sosial. Rekaman berdurasi 2 menit 50 detik itu memperlihatkan proses pembongkaran makam almarhum Muhya bin Rudia

Saat pembongkaran makam berlangsung, warga yang hadir mengenakan kpiah dan membacakan shalawat dan doa. Mereka terlihat khusyuk. Tak ada suara lain selain lantunan shalawat.

Saat jasad almarhum diangkat dari liang makam, terdengar orang-orang mengucapkan takbir, Allahuakbar, Allahukbar. Sedangkan orang yang berada di atas liang makam langsung membungkus jasad yang masih utuh itu dengan kain kafan yang baru dan bersih.

Betapa terkejutnya para penggali makam saat mendapati kain kafan almarhum sang guru ngaji masih relatif utuh. Selain itu, tubuh sang guru ngaji pun tidak rusak.

Padahal faktanya, jasad almarhum telah terkubur selama 17 tahun. Umumnya, jasad yang telah dimakamkan selama itu pasti hanya tinggal tulang belulang dengan kain kafan yang telah hancur.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, pemindahan makam almarhum dilakukan dianggap tidak layak, berada persis di pinggir kandang domba atau kambing. Sementara, almarhum merupakan tokoh masyarakat kampung setempat.

Akhirnya, berdasarkan kesepakatan antara keluarga almarhum, tokoh, dan masyarakat, makam almarhum dipindahkan ke Tempat Permakaman Umum (TPU) Pasirnaan yang lokasinya tidak jauh dari makam awal.

Ace Kosasih, penggali kubur mengatakan, melihat dengan mata kepala sendiri kondisi jasad almarhum Muhya bin Rudia masih utuh saat dipindahkan. Kulitnya masih ada dan tulangnya juga masih menyatu.

“Memang jasad almarhum terlihat kering tapi tidak mengeluarkan bau busuk malah mengeluarkan aroma harum. Biasanya jika jasad sudah dimakamkan selama 17 pasti tinggal tulang belulang,” kata Ace Kosasih.

Kini, makam almarhum Muhya bin Rudia telah berada di lokasi lebih layak dibanding sebelumnya. Makam almarhum pun telah dipasang kijing, batu nisan dari marmer. Keluarga dan warga sepakat menjaga dan merawat makam almarhum dengan baik. Mereka akan sering menziarahi dan membacakan doa di makam itu. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here