Kisah Haru! Semua Bisa Meneladani Keluarga Ini

Kisah Haru! Semua Bisa Meneladani Keluarga Ini
Oleh: H. Winarto AR bin Darmoredjo (Majelis Dakwah Edwin Az-Zahra) Saya tuliskan sebuah kisah dari seorang ustadzah pemandi jenazah. Semoga kita bisa ambil hikmahnya. *** Suatu sore tadi saya yang biasa menolong memandikan jenazah, menerima panggilan telepon. Orang itu meminta saya untuk mengurus jenazah ibunya yang baru meninggal dunia. Saya pun bergegas ke rumah duka yang letaknya tidak jauh dari kediaman saya. Setiba saya di sana, hari sudah lewat petang. Banyak peziarah yang terdiri dari sanak saudara, tetangga dan handai taulan yang sudah memenuhi rumah duka. BACA JUGA: Mereview Kehidupan: Berdoalah, Allah Ta’ala Pasti Kabulkan Saya melangkah masuk ke rumah duka dan bertemu dengan suami serta anak-anak dari almarhumah. Setelah rapat keluarga, kami mendapat keputusan bahwa pengurusan jenazah akan dilaksanakan esok hari, karena hari sudah terlalu malam. Malam itu jenazah hanya dibersihkan dengan mengelap tubuhnya menggunakan kain sambil dibantu oleh anak-anaknya yang berjumlah 4 orang. Dua lelaki dan dua perempuan, semuanya sudah besar dan beberapa di antaranya sudah menikah. Keesokan harinya, pagi sekali saya sudah tiba di rumah tersebut. Pada saat akan memandikan jenazah, salah seorang anak datang kepada saya dan berkata: "Bolehkah kami memandikan sendiri jenazah Ibu kami..?” tanya si anak tadi. "Tentu boleh," jawab saya yang dengan senang hati mendengar permintaan si anak. Memang itulah sebaik-baiknya. Lebih afdhal anak sendiri yang uruskan jenazah ibu dan bapak mereka. BACA JUGA: Kerja Keras untuk Dunia Lupa Akhirat "Tapi Ustadzah, kami tidak pernah melakukannya. Kami tak tahu apa-apa. Ustadzah ajarkan kami ya..,” kata salah seorang anak perempuan. "Mari.. tidak masalah. Saya akan mendampingi dan memberi petunjuk," jawab saya. Saya mengajari anak perempuan saja, tapi rupanya dua orang anak lelaki dan suami almarhumah juga ingin turut serta memandikan jenazah. Atas permintaan mereka, saya menyetujuinya, karena memang Islam tidak melarang seorang suami boleh memandikan jenazah istrinya dan begitu pula sebaliknya. Namun dikarenakan anak lelaki juga ingin memandikan, maka saya terpaksa membagi tugas. Suami almarhumah saya minta bersihkan bagian kepala, anak lelaki di bagian kaki dan anak perempuan dari bagian badan dan ke bagian paha. BACA JUGA: Allah Pleaser Yes, People Pleaser No "Gunakan sarung tangan masing-masing,” ujar saya sambil mengulurkan sarung tangan karet untuk digunakan memandikan jenazah. Tapi suami dan anaknya menolak seraya berkata: “Semasa kecil ibu mandikan kami tidak pernah pakai sarung tangan. Kami tak mau memakainya,” tolak si anak lembut. Saya sedikit tersentak mendengar kata-kata itu. Kagum dengan jawaban si anak. Terharu saya mendengarnya. Saat saya hendak membersihkan bagian dubur, si suami menolak karena dia ingin melakukannya sendiri. "Ini istri saya, biar saya yang lakukan. Ustadzah tolong ajarkan saya,” pinta si suami. Saya menyetujui dengan kehendaknya. Saya arahkan si suami supaya menekan perut secara perlahan-lahan untuk mengeluarkan najis di dubur. BACA JUGA: Buah Kesabaran Nabi Ayyub ‘Alaihissalam Ketika si suami melakukannya, jiwa saya bagai dirobek-robek. Jiwa saya tersentuh mendengar lafazh ikhlas suaminya. Sambil menekan lembut perut istrinya, si suami bersuara lagi: “Sayang, ini rahim yang melahirkan anak-anak kita, menghasilkan quratta a’yun, dzuriyat kita. Terima kasih, sayang,” tutur si suami lembut dengan matanya berkaca-kaca. Air mata saya tertumpah.... Kemudian saya pegang gayung berisi air bersih dan guyurkan air ke muka jenazah. Suaminya lalu membersihkan wajah istrinya. Ketika membersihkan wajah istrinya, satu drama yang menyayat hati dan penuh emosi berlaku kembali. Sambil menggosok lembut wajah jenazah istrinya, suaminya mengungkap kembali satu persatu segala kenangannya ketika mereka hidup bersama. "Sayang, inilah wajah manis yang Abang tatap semasa hidup. Inilah wajah yang Abang pernah sayang. Wajah yang pernah jadi istri Abang,” tutur suami sambil tangan lembut membersihkan wajah jenazah istri tercinta. BACA JUGA: Takut Hadapi Masa Depan? Selesai membasuh muka jenazah, si suami beralih pula ke mulut, sekali lagi ungkapan manis terpantul dari mulutnya. "Sayang, inilah mulut yang selalu senyum pada Abang. Inilah mulut yang selalu bersenda gurau dengan Abang, menghibur Abang selama ini. Mulut yang berikan Abang semangat ketika menghadapi masalah,” ungkapnya dengan linangan air mata. Saya yang menyaksikan tindakan spontan suami itu turut menjadi terharu. Terharu mendengar kata-kata ikhlas dari suaminya. Saya tahu ini suami yang benar sayang pada istrinya. Selesai bagian ayahnya, dua anak perempuannya pun mengambil tempat. Sekali lagi hati saya tersentuh hingga jadi tersedan. Sambil membersihkan tangan jenazah ibunya, si anak menyampaikan segala jasa ibu mereka. “Ibu, inilah tangan yang membesarkan kami, mendidik kami. Tangan inilah yang menyuapkan makanan ke mulut kami. Inilah tangan yang mendoakan kami. Jari jemari ini yang mengusap air mata kami saat kami bersedih dan menangis. Tangan ini juga yang gendong kami sewaktu kecil. Ibu, jasa ibu amatlah besar,” tutur seorang anak perempuannya. Air matanya masih mengalir. BACA JUGA: Kejarlah Surga Hingga ke Telapak Kakinya Disaat sampai ke bagian perut, seorang lagi anak perempuannya bersuara, "Ibu, inilah perut yang mengandungkan kami. Terima kasih, Ibu telah melahirkan kami.. mendidik dan membesarkan kami,” ungkap si anak tersebut. Air mata mereka terus bercucuran. Bukan hanya mereka, sanak saudara yang menyaksikan turut menangis. Apalagi saya yang berada di sisi mereka. Sungguh, waktu itu terasa begitu hening. Suasana sangat pilu. Menyaksikan semua kata-kata ikhlas ini dari suami dan anak-anak almarhumah. Setelah selesai tugas anak perempuan, anak lelaki pun mulai melakukan tugas bagian mereka. Sambil membersihkan kaki, mereka meluapkan segala jasa-jasa wanita yang melahirkan mereka itu. "Ibu, inilah kaki yang berjalan mengantarkan kami untuk ke sekolah. Kaki inilah yang turut membesarkan kami. Kaki inilah yang bawa kami jalan-jalan, menghibur kami. Jasa Ibu tak terbalas. Terima kasih ibu,” ujar seorang anak lelaki dengan suara tersendat. Menyaksikan semua itu, air mata saya tak dapat dibendung lagi. Sesekali saya berpaling ke arah lain, menghapus air mata yang kian deras mengalir. BACA JUGA: Nikmat Memasuki Tahun Baru Di luar, air mata sanak saudara mereka yang menyaksikan drama itu semakin ikut larut dalam duka. Saya tahu, semua yang menyaksikan terharu. Saya sendiri turut tersentuh dengan sikap keluarga ini. Sungguh, suaminya memang seorang yang baik dan sangat menghormati jasa seorang wanita yang menjadi istrinya. Begitu pun dengan anak-anak yang sangat berbakti, baik semasa hidupnya hingga ajal menjemput ibunda mereka. Sudah banyak jenazah yang saya mandikan, tapi inilah pertama kali saya menyaksikan adegan yang sangat menyentuh jiwa. Hati saya tersentuh, sedih sekali. Selesai dimandikan dengan drama yang menyentuh jiwa, jenazah dibawa ke ruang tamu untuk dikafankan. Di sini pun kerja sama dilakukan dengan baik oleh anak-anak dan suami almarhumah dengan petunjuk dari saya. Walaupun mengambil waktu yang agak lama, semuanya selesai dengan mudah sebelum jenazah dibawa ke tanah pekuburan. BACA JUGA: Makna Pergantian Tahun: Adakah Pencapaian yang Sudah Teraih? Selesai tugas ini, maka saya serahkan pula kepada suami saya untuk proses selanjutnya. Selepas kubur dan ketika suami saya hendak memulaikan bacaan talqin, suami almarhumah datang meminta izin. “Ustadz, bolehkah saya mau bacakan talqin untuk istri saya..?" tanya dia kepada suami saya. Suami saya mengangguk dan si suami tadi mengambil tempat di sebelahnya. Dalam keadaan suara yang serak karena masih bersedih, si suami tadi memulaikan bacaan. Bacaan kali ini memang lain sekali dari kebiasaannya. "Sayang, hari ini merupakan hari terakhir kamu di muka bumi ini. Kamu berpisah dengan anak-anak dan berpisah dengan Abang. Sayang, malam ini Abang akan berteman hanya dengan anak-anak di sisi Abang. Sayang, nanti akan datang malaikat Munkar dan Nakir bertanya: siapa Tuhan kamu, siapa Nabi kamu, apakah agama kamu, apakah Kiblat kamu, apakah pegangan Iktikad kamu, siapakah saudara-saudara kamu? BACA JUGA: Duluan Siang atau Malam? Abang minta tolong dari Sayang, jawab dengan tenang, dengan lidah yang lancar, bahwasanya Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, Islam agamaku, Ka'bah kiblatku, Al-Quran petunjukku dan orang Islam adalah saudara-saudaraku,” tutur si suami dengan suara sedikit tercekat. "Insya Allah nanti kita akan berjumpa lagi di surga, Sayang. Tunggu Abang di sana, Abang akan tetap merindukan Adinda hingga akhir hayat Abang,” sambungnya penuh haru. Sungguh, waktu itu sekali lagi air mata saya berderai. Bukan hanya saya saja, hampir semua hadirin lain pun menangis. Saya tahu mereka menangis dan bersedih bukan karena kepergian almarhumah, tapi tersentuh melihat kejadian tersebut. Satu drama yang benar-benar nyata, memperlihatkan kasih sayang, kejujuran, kesetiaan dan cinta yang tulus ikhlas dari seorang suami kepada istrinya. Kisah kasih sayang antara anak-anak dan ibu dalam keluarga ini. BACA JUGA: Memulai dengan yang Baik Saya benar-benar kagum dan terharu dengan keluarga tersebut. Anak-anaknya tidak memiliki pendidikan yang tinggi atau berlatar belakang pendidikan agama. Mereka juga tidak bergelar ustadz atau ustadzah, tetapi mereka semua mempunyai budi pekerti dan akhlak yang tinggi. Lihat bagaimana mereka menghargai jasa seorang ibu sehingga ke akhir hayat. Bagi saya mereka jadi begitu merupakan hasil didikan seorang ibu yang berhasil memberikan kasih sayang dan didikan dengan sempurna. Sungguh, jenazah wanita hebat yang memiliki suami dan anak-anak seperti itu. Semoga kita semua dan keluarga bisa meneladani kisah ini. Dan bagi Anda yang membagikan kisah ini, semoga menjadi pahala jariyah. Aamiin.  
#Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan kepadanya dari rezekimu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.” (HR. ‘Abdurrazaq).

Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group