Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-97)

Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-97)
Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) Atas uraian Nabi Danil tersebut, raja memberikan hadiah wilayah untuk kaum Yudea untuk menjadi tempat tinggal mereka di Babilonia dan memberi barang-barang berharga kepada Nabi Danil. Oleh Nabi Danil dengan memohon kepada raja, agar wilayah tersebut penguasanya diberikan kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang dirinya mohon diperbolehkan tinggal di Istana raja. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Nebukadnezar. Tidak lama kemudian, mungkin terinspirasi oleh mimpinya, dan agar tidak terjadi peristiwa seperti yang dimaknakan Nabi Danil atas mimpinya, Nebukadnezar membuat patung besar Dewa Marduk terbuat dari emas, tingginya 60 hasta (sekitar 18 meter) dan lebarnya 6 hasta (1,8 m). BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-96) Ketika patung Dewa Marduk itu jadi, dalam pentahbisannya semua raja sekutunya dan para pejabat kerajaannya diminta hadir dan bila didengarkan suara sangkakala, maka mereka semua wajib sujud dan menyembah Dewa Marduk. Setelah itu, diumumkan pada seluruh rakyat, jika telah diperdengarkan sangkakala, maka rakyat harus datang untuk menyembah patung Dewa Marduk tersebut. Siapa saja yang tidak mau menyembah maka akan dihukum mati dengan dibakar dimasukkan dalam tungku api besar yang selalu menyala yang terletak di dekat patung tersebut. Kitab Danil 3 mengisahkan, suatu saat terdengar kabar bahwa terdapat orang dari wilayah kaum Yudea yang tidak mau menyembah patung Dewa Marduk. Orang tersebut adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Oleh pegawai istana kerajaan hal tersebut kemudian dilaporkan kepada rajanya dan membuat Nebukadnezar II sangat marah dan disuruhnya pengawal istana untuk menyeret tiga orang tersebut ke hadapannya. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-95) Ketika telah dihadapkan kepada raja, diancamnya untuk dimasukkan ke api yang menyala dan panasnya akan diperbesar dari biasanya. Namun tiga orang ini bertahan dengan keyakinannya dengan mengatakan bahwa Allahnya mungkin akan menyelamatkannya dari api itu, dan meskipun tidak diselamatkan, mereka tetap tidak akan menyebah Dewa Marduk. Dengan kemarahan yang meluap-luap, raja memerintahkan untuk membesarkan dan meningkatkan panas api dari tungku api yang ada di dekat Dewa Marduk, dan setelah mencapai besar dan panas yang dinginkan, lalu Sadrah, Mesakh dan Abednego dalam keadaan terikat dilemparkan ke dalam tungku tersebut. Dari kejauhan raja melihat pembakaran itu, namun dilihatnya di dalam tungku tersebut justru kelihatan ada empat orang yang tidak terbakar, baju maupun rambutnya juga tidak terbakar dan mereka berjalan-jalan dengan bebas, sedang ikatan pada tiga orang Yudea itu telah terbakar. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-94) Penglihatan itu membuat raja, pejabat istana dan rakyat yang diwajibkan menonton menjadi tercengang. Kemudian raja memerintahkan membuka tungku dan menyuruh mereka menghadap raja. Dan ketika keluar dari tungku ternyata bukan empat orang tetapi tiga orang saja sedang yang satu orang telah lenyap tidak nampak lagi. Ketika tiga orang tersebut datang, berkatalah raja, “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang telah mengutus utusannya menyelamatkan hamba-hambaNya“. Setelah peristiwa itu Nebukadnezar mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa manapun yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego akan dipenggal kepalanya. Sangat mungkin Nebukadnezar sangat takut terhadap tuhannya kaum Yudea, sehingga melarang rakyat melakukan penghinaan. Bagaimanapun hebatnya kelebihan orang Yudea dan agamanya, namun status mereka adalah budak di Babilonia. Jika karena ada perselisihan antara orang-orang Yudea dengan orang Khaldea, maka bisa terjadi penghinaan yang dikhawatirkan Nebukadnezar. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-93) [caption id="attachment_79306" align="alignnone" width="720"] Lukisan tentang Nebukadnezar melihat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dibakar di tungku api, namun yang nampak ditungku api berjumlah 4 orang. (Sumber: Wordpress.com)[/caption] Raja khawatir atas perbuatan rakyat Khaldea kemudian Tuhan orang Yudea sangat marah pada bangsa Kaldea dan mengirim utusan untuk menghukum Khaldea dan penduduknya. Sejak peristiwa itu kaum Yudea diberikan kebebasan oleh Nebukadnezar II untuk melaksankan ibadah menyembah Allah, melaksanakan ajaran tauhid dan diperbolehkan mendirikan Bait EL nya sendiri di Babel. Namun peristiwa di tungku api itu tidak membuat Nebukadnezar sadar tentang Allahnya Bani Israel yang telah menunjukkan Maha KuasaNya dan membuat Dewa Mardukh tidak ada artinya. Nebukadnezar dan rakyatnya tetap menyembah Dewa Mardukh. Sifat kekuasaan yang menindas juga tetap ditunjukkan oleh Nebukadnezar. h. Raja Yang Menolong Bani Israel dari Perbudakan di Babilonia. Ketika Kaldea menjatuhkan Yerusalem, mertua Nebukadnezar yaitu Raja Midia melanjutkan serangan invasinya ke Asia Kecil di wilayah kerajaan Lydia. Ternyata kerajaan Lydia tidak mudah untuk ditaklukkan. Selama lima tahun, sepanjang tahun 590-585 SM, kedua pasukan beberapa kali bertempur di seberang sungai Halys, namun tidak pernah ada pihak yang memenangi peperangan. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-92) Nebukadnezar mengambil kesempatan untuk merangkul kedua belah pihak dengan mengirim utusan perdamaian, yaitu Nabonidus. Perdamaian terjadi setelah disepakati dengan perkawinan Astyages anak raja Cyarxes raja Midia dengan Aryenis putri Alyates raja Lydia. Bukan kebiasaan Nebukadnezar memilih jalan damai untuk menyelesaikan masalah perebutan kekuasaan wilayah. Namun dengan inisiatif perdamaian tersebut, Khaldea mempunyai dua negeri sekutu yang menghormatinya sebagai pemimpin sekutu. Langkah tersebut juga mungkin sangat dipengaruhi oleh mimpinya yang ditakwil oleh Nabi Daniel. Tidak lama kemudian Cyarxes meninggal dan kekuasaannya digantikan Astyages saudara istri Nebukadnezar. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-91) Astyages hanya memiliki anak perempuan dari istri-istrinya. Salah satu anak perempuannya yaitu Mandane diperolehnya dari Aryenis. Hingga Mandane dewasa Astyages juga belum memperoleh anak laki-laki. Astyages sangat khawatir tidak mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi calon penggantinya. Dia tidak ingin suami anak perempuanya tiba-tiba menggantikannya. Bahkan Asytiages juga berpikir jika nantinya tahtanya langsung jatuh ke cucunya, yang hal itu tidak dinginkannya, yaitu jika Mandane bersuami kemudian mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi penggantinya. Jika hal itu terjadi, maka cucunya itu juga cucu musuhnya. Astyaghes melihat jalan keluar pada raja negeri kecil taklukan Midia, yaitu kerajaan kota Anshan. Kemudian Mandane dikawinkan dengan Kambises yang telah menggantikan tahta ayahnya, yaitu Cyrus. Dengan demikian Astyages telah menjauhkan atau bahkan menyingkirkan Mandane anaknya satu-satunya tersebut dari istananya. Mandane segera hamil. BERSAMBUNG