Perbedaan NU dan Muhammadiyah untuk Saling Melengkapi

301

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Saad Ibrahim menyampaikan bahwa relasi Muhammadiyah tidak terbatas hanya dengan sesama organisasi masyarakat Islam, melainkan juga dengan organisasi lintas iman, termasuk dengan pemerintah.

Demikian disampaikan oleh Saad pada, Sabtu (11/2) di acara Bincang Sudut Pandang ‘Muhammadiyah-NU Merawat Indonesia’ yang diselenggarakan secara online oleh MQFM Jogja. Hubungan yang luas Muhammadiyah sesuai ayat 13 Surat Al Hujurat.

“Kita harus melihat pihak lain positivistic dan optimistic. Dan ini adalah pandangan Islam yang melihat seluruh manusia yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah, oleh karena itu ini yang menjadi dasar dalam bahu membahu dan membangun kerja sama.” Ungkapnya.

Lebih-lebih dengan Nahdlatul Ulama, menurut Saad Muhammadiyah telah berelasi sangat lama dan senantiasa dinamis. Dia mencontohkan seperti dukungan Muhammadiyah terhadap perayaan Harlah Satu Abad NU yang beberapa waktu lalu di gelar di Sidoarjo. Bahkan sebelum itu, di acara kick off Harlah Satu Abad NU, Muhammadiyah sudah aktif berpartisipasi.

Namun demikian, perbedaan yang ada antara Muhammadiyah dengan NU bukan menjadi alasan untuk memutus silaturahmi atau membuat jarak yang jauh antara keduanya. Tetapi dari perbedaan yang ada antara Muhammadiyah dengan NU, menjadi bagian dari untuk saling melengkapi dalam berkhidmat selama ini.

“Kerja sama untuk isu-isu keagamaan yang strategis menjadi bagian untuk bergerak Muhammadiyah maupun NU ke depan. Untuk hal-hal yang kita memiliki pandangan yang sama, maka itu menjadi penguat antara yang satu dengan yang lain. Namun jika ada perbedaan kita harus saling memahami,” imbuhnya.

Saad menegaskan, bahwa kolaborasi dalam isu-isu keagamaan strategis Muhammadiyah bukan hanya bisa berelasi dengan NU, tapi juga dengan Ormas Islam lain yang concern terhadap isu-isu tersebut.

Menyongsong tahun politik 2024, posisi Muhammadiyah tetap sama menjaga jarak dengan politik praktis. Tetapi bagi para kader yang ingin dan memiliki kemampuan berpolitik dipersilahkan untuk masuk ke partai-partai politik yang dikehendaki, sebab Muhammadiyah tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik manapun.

“Di Muhammadiyah tidak ada misalkan instruksi untuk memilih partai A, partai B dan lain sebagainya. Karena kita menjaga kedekatan jarak dengan seluruh partai politik itu. Soal pilihan-pilihan real nya itu urusan pribadi masing-masing,” ungkapnya. (Al)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here