Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-79)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

145
Lukisan tentang mukjizat Nabi Ilyas yang mendatangkan tentara Allah untuk membebaskan Kota Samaria dari kepungan pasukan Aram. (Sumber: JW.org)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Nabi Ilyasa’ juga menolong perempuan setia terhadap suaminya, meskipun suaminya sudah tua. Dengan pertolongan Nabi Ilyasa’ kemudian perempuan tersebut dapat mempunyai anak dari suaminya yang sudah tua. Ketika anaknya sudah besar anak tersebut mengalami kecelakaan di ladang sehingga meninggal. Lalu perempuan tersebut mendatangi lagi Nabi Ilyasa’ minta tolong, yang kemudian karena permohonan Nabi Ilyasa’ kepada Allah, anak tersebut hidup kembali.

Mukijizat ini seperti mukjizat Nabi Ilyas ketika menginap dirumah janda di Sidon ketika anak janda tersebut meninggal yang dengan mukjizat Nabi Ilyas membuat anak si janda dapat hidup kembali. Pada suatu daerah miskin yaitu di daerah baalsalisa, Nabi Ilayasa’ memberi makan ratusan orang dengan hanya sekantong roti. Dengan mukjizat itu, penduduk miskin tersebut kemudian meninggalkan pemujaan terhadap baal. Masih ada beberapa mukjizat Nabi Ilyasa’ dalam perjalanan dakwahnya yang ditunjukkan pada Bani Israel.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-78)

9. Nabi Ilyasa’ membantu Samaria melawan serangan negeri Aram.

Suatu ketika, kerajaan Samaria kembali diserang oleh negeri Aram. Serangan tidak hanya berada dalam satu lokasi saja tetapi berada dibeberapa lokasi. Pasukan Samaria kesulitan menghadapi beberapa serangan dari Aram. Pada saat sulit tersebut, Nabi Ilyasa’ mengirim utusan ke raja Samaria, memberitahukan bagaimana cara mengalahkan pasukan negeri Aram dengan memberi tahu tentang rencana serangan yang akan dilakukan oleh raja Aram.

Dengan informasi ini, bala tentara Samaria dapat memukul mundur serangan negeri Aram sebelum bala tentara Aram melaksanakan rencananya. Kaget dengan kekalahannya kemudian raja aram mencari tahu siapa yang membocorkan rencana serangannya. Seorang pegawainya mengatakan bahwa Nabi Ilyasa’ yang membocorkan rencana tersebut karena Nabi tersebut dari tempat tinggalnya dapat mendengarkan igauan raja ketika tertidur lelap.

Bala tentara raja Aram kemudian mengepung kota Dotan tempat tinggal Nabi Ilyasa’. Melihat kepungan tersebut Nabi Ilyasa’ kemudian berdoa kepada Allah agar penglihatan bala tentara Aram di buat keliru dan menurut pada perintahnya. Setelah berdoa kemudian Nabi Ilyasa’ menghampiri bala tentara Aram dan mengatakan bahwa mereka salah mengepung kota dan akan menunjukkan kota yang harus didatanginya. Bala tentara Aram menurut apa yang dikatakan Nabi Ilyasa’ dan kemudian diajak mengikutinya hingga akhirnya dibawa ke kota Samaria dan dibawa ke istana raja.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-77)

Kemudian Nabi Ilyasa’ berdoa lagi agar penglihatan dan kesadaran bala tentara Aram dipulihkan kembali. Bala tentara tersebut tentu kaget karena mereka merasa tiba tiba telah berada di kota Samaria di istana raja. Raja Samaria bertanya kepada Nabi Ilyasa’ apakah mereka harus dibunuhnya, namun dilarang oleh Nabi bahkan disuruh menjamunya. Setelah selesai dijamu, mereka disuruh pulang ke Aram dan melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada rajanya. Setelah peristiwa tersebut, raja Aram untuk beberapa saat tidak melakukan serangan ke wilayah Samaria.

Suatu ketika raja Aram yaitu Benhadad mengepung kota Samaria lagi, namun tidak diserbu. Pengepungan berjalan lama, sehingga membuat kota Samaria kekurangan bahan makanan. Pengepungan tersebut membuat berbagai bahan makanan harganya naik berlipat lipat sehingga menyebabkan kelaparan penduduk kota Samaria. Pada saat seperti itu Nabi Ilyasa’ tidak datang ke kota Samaria untuk menolong sehingga membuat raja marah kepadanya, dan kemudian raja bersama beberapa orangnya pergi untuk membunuh Nabi Ilyasa’.

Ketika telah berhadapan dengan Nabi Ilyasa’, raja berkata: “malapetaka yang menimpa kota Samaria datangnya dari Tuhan, lalu mengapa dirinya harus berharap kepada Tuhan”. Kemudian Nabi Ilyasa’ mengatakan kepada raja bahwa besuk harga harga di Samaria sudah normal lagi, dan raja dimintanya pulang. Perkataan Nabi Ilayasa’ tersebut dibantah oleh pembantu raja, yang langsung dijawab oleh Nabi Ilyasa’ bahwa besok hal tersebut akan disaksikan olehnya, namun pembantu raja tersebut tidak dapat makan dari keadaan tersebut.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-76)

Pada sore hari berikutnya, penjaga gerbang kota yang kelaparan karena tidak tersedia makanan, bersepakat tidak masuk kota karena di dalam kota juga sedang dilanda kelaparan. Mereka justru pergi menuju perkemahan tentara Aram yang mengepung kota untuk meminta makanan dengan tidak memperdulikan akibat perbuatannya terhadap penduduk kota.

Ketika para penjaga kota sampai diperkemahan bala tentara Aram, mereka terheran heran melihat perkemahan bala tentara Aram dalam keadaan kosong dengan suluruh peralatan perang dan perbekalan makanan dan minuman bala tentara ditinggal di perkemahan. Kemudian mereka makan dengan sepuas-puasnya. Setelah itu mereka membawa apa saja yang berharga yang dapat mereka bawa dan setiap orang menyembunyikannya untuk diri mereka sendiri. Setelah itu mereka melaporkan keadaan perkemahan bala tentara Aram kepada kepala pasukannya yang langsung melaporkannya kepada raja pada malam hari itu juga.

Raja kemudian memerintahkan beberapa tentara berkuda untuk memastikan keadaan perkemahan dan kepergian bala tentara Aram. Mereka mendapati perkemahan yang sudah kosong dan peralatan serta perbekalan perang yang ditinggalkan. Ketika mereka menelusuri jalan kepergian tentara Aram, mereka mendapati di jalanan sampai ke sungai Yordan banyak pakaian dan peralatan perang yang ditinggalkan oleh bala tentara Aram di sepanjang jalan. Kemudian mereka kembali ke kota Samaria dan melaporkan keadaan tersebut kepada Raja.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-75)

Kabar kepergian bala tentara Aram seperti dalam kondisi yang tergesa-gesa karena ketakutan tersebut segera menyebar ke seluruh penduduk kota. Penduduk segera berhamburan pergi ke perkemahan bala tentara Aram untuk mengambil bahan-bahan makanan yang ditinggalkannya. Ternyata bahan makanan yang dipersiapkan untuk mengepung kota dalam waktu lama tersebut sangat banyak. Penduduk kota Samaria mengambil sebanyak mereka mampu membawanya.

Keadaan itu membuat para pedagang makanan yang akan menjual dagangannya tidak bisa lagi menaikkan harga secara berlipat. Harga-harga langsung kembali pada keadaan seperti biasanya.

Pembantu raja yang sempat membantah perkataan Nabi Ilyasa’ juga menyaksikan keadaan tersebut, dan ikut berdesak-desakan dengan penduduk kota. Malang baginya, pembantu raja terpeleset kemudian terinjak injak penduduk kota yang berebut mengambil perbekalan bala tentara Aram sehingga menemui kematiannya. Pembantu raja menyaksikan perubahan drastis tersebut namun tidak dapat menikmati perubahan situasi tersebut.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-74)

Konon tentara Aram, pada malam hari itu seperti mendengar dan melihat ribuan tentara berkuda yang mereka pikir rombongan tentara dari Het yang disewa raja Samaria untuk menyerbu dan mengusir mereka. Mereka melihat jumlah tentara yang datang jauh lebih banyak dari jumlah mereka sehingga mereka ketakutan dan lari dari perkemahan tanpa sempat mengemasi semua barang barang mereka, sehingga ditinggalkan begitu saja.

Mereka juga merasa di kejar selama perjalanan sehingga untuk mempercepat gerak larinya, mereka melepaskan dan membuang apa saja yang membuat langkah mereka menjadi berat dan memperlambat pelarian. Sedang keadaan sebenarnya tidak ada ribuan tentara Het yang mengejar mereka. Hal itu yang membuat perkemahan bala tentara Aram telah kosong dengan meninggalkan semua peralatan perang dan perbekalan makanan serta minuman dalam jumlah yang besar.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-73)

10. Nabi Ilyasa’ berdakwah ke Damsyk.

Banyak bantuan Nabi Ilyasa’ atas lemahnya kondisi kerajaan Samaria, sehingga tidak ada konflik antara raja dan bala tentaranya dengan Nabi Ilyasa’ maupun para Nabi lainnya di semua wilayah suku-suku Bani Israel dalam kerajaan Samaria. Meskipun raja Samaria masih menyembah berhala, namun raja tidak menghalangi dakwah Nabi Ilyasa’ maupun para Nabi lainnya.

Izebel yang sudah semakin tua tidak lagi berbuat kejam dan menindas para Nabi. Penduduk kerajaan Samaria dapat bebas pergi ke Yerusalem untuk beribadah ke Haikal Sulaiman tanpa merasa takut akan disakiti oleh bala tentara kerajaan. Keadaan kerajaan Samaria semakin membaik.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here