Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-80)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

133
Lukisan tentang Izebel dilemparkan ke bawah dari jendela kamarnya (Express.co.uk, arhaelogy news)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Nabi Ilyasa’ pada suatu hari mendapatkan wahyu yang memerintahkannya agar pergi ke kota Damsyk di negeri Aram. Kedatangan Nabi ilyasa’ di Damsyk akhirnya didengar oleh Benhadad raja Aram yang saat itu sedang sakit dan terbaring lemah. Kemudian diutusnya orang kepercayaannya yaitu Hazael untuk menemui Nabi Ilyasa’ dengan membawa hadiah.

Hazael diperintahnya menanyakan apakah dirinya akan sembuh dari sakitnya. Ketika hal itu ditanyakan kepada Nabi ilyasa’, dikatakannya bahwa Benhadad akan sembuh namun akan mati karena dibunuh serta akan muncul raja baru.

Kemudian Hazael pulang, dan melaporkan bahwa raja akan sembuh. Benhadad memang sembuh. Namun pada suatu malam, Hazael menyelinap kedalam kamar rajanya kemudian menyekap kepala Benhadad dengan selimutnya yang dibasahi air, hingga menemui ajalnya.

Dengan kematian itu, Hazael yang selama ini menjadi kepercayaan Benhadad akhirnya menggantikannya sebagai raja Aram. Sangat mungkin pembunuhan yang dilakukan oleh Hazael karena terinspirasi oleh apa yang disampaikan oleh Nabi Ilyasa’. Benhadad telah membuat banyak kesulitan terhadap Bani Israel dan setelah terbunuhnya Benhadad, Nabi Ilyasa’ telah mengenal raja baru Aram.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-79)

11. Perubahan besar di Kerajaan Samaria.

Yosafat raja Yehuda, kedudukannya digantikan oleh putranya yang juga bernama Yoram, nama yang sama dengan raja Samaria. Karena memperistri anak Ahab, lalu Yoram bin Yosafat meninggalkan ajaran tauhid dan ikut menyembah berhala. Perkawinan tersebut mungkin dimaksudkan untuk mendekatkan hubungan dua kerajaan karena raja Yehuda menjadi ipar raja Samaria, namun dengan mengurbankan iman tauhid raja Yehuda.

Karena perbuatan tersebut raja Yehuda kemudian tertimpa masalah. Kerajaan Edom melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Yehuda. Yoram bin Yosafat kemudian menyerang kerajaan Edom, namun tidak berhasil bahkan Yoram mengalami banyak luka dalam perang. Pasukan kerajaan Yehuda lari tercerai berai, Yoram bin Yosafat pulang dalam keadaan terluka, dan tidak lama kemudian meninggal.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-78)

Yoram bin Yosafat menjadi raja sekitar delapan tahun dan kedudukannya digantikan oleh anaknya yaitu Ahazia. Ahazia adalah anak Yoram dari istrinya yang bernama Ataliya cucu Omri, raja Samaria. Ahazia kemudian juga beristri dari keluarga Ahab dan meninggalkan keimanan tauhid dengan menyembah berhala.

Suatu Ketika raja Samaria, Yoram bin Ahab mengajak Ahazia untuk membebaskan wilayah Ramot Gilead dari penguasaan raja Aram. Kerajaan Samaria dan Yehuda tidak dapat meminta bantuan Nabi Ilayas’ karena saat itu justru sedang tinggal di Damsyk. Yoram bin Ahab dan Ahazia mengerahkan pasukan dua kerajaan ke Ramot Gilead. Mengetahui gerakan pasukan tersebut, Hazael kemudian membawa balatentaranya ke Ramot Gilead.

Dalam perang tersebut, Yoram bin Ahab dan Ahazia mengalami kekalahan, bahkan Yoram bin Ahab harus pulang dalam keadaan terluka. Namun Yoram bin Ahab tidak pulang ke Samaria namun ke Yizreel yang lebih dekat dari wilayah Ramod Gilead untuk mengobati luka lukanya, sedang Ahazia bersama pasukannya meneruskan perjalan pulang ke Yerusalem.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-77)

Di Damsyk, Nabi Ilyasa’ yang melihat kondisi kerajaan Israel dan Yehuda yang semakin lemah, memanggil salah seorang Nabi Israel yang masih muda. Diperintahkannya Nabi tersebut untuk menemui panglima pasukan kerajaan Samaria yang masih di wilayah Ramot Gilead dalam keadaan tidak menentu karena ditinggalkan oleh rajanya.

Nabi muda tersebut diperintahkan mengurapi panglima tersebut, yang bernama Yehu bin Yosafat bin Nimsi dan menyampaikan Firman Allah kepada Yehu dengan disertai pesan dari Nabi Ilyasa’. Dengan pengurapan dengan memakai hukum Musa, Nabi Ilyasa’ bermaksud agar Yehu mengambil alih kekuasaan kerajaan Samaria.

Usai di urapi, Yehu kemudian mendatangi pasukannya dan menyampaikan kabar bahwa dirinya telah diurapi oleh seorang Nabi atas perintah Nabi Ilyasa’. Pasukan Samaria yang berada di Ramot Gilead setelah mendengar uraian Yehu kemudian bersatu mendukung Yehu sebagai raja baru kerajaan Samaria.

Pasukan tersebut kemudian bergerak ke Yizreel, karena raja Samaria sedang istirahat menyembuhkan lukanya di Yizreel. Pada saat yang bersamaan, Ahazia sedang di Yizreel pula menengok raja Yoram bin Ahab. Dua raja tersebut tidak mengetahui bahwa bala tentara Samria telah membuat rencana pemberontakan dan mengambil alih kekuasaan kerajaan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-76)

Penjaga di Menara kota Yizreel akhirnya dapat melihat di kejauhan terlihat gerak rombongan pasukan yang besar menuju kota yang kemudian melaporkan gerakan tersebut kepada Yoram bin Ahab. Raja segera mengutus orang untuk menanyakan maksud kedatangan pasukan tersebut.

Namun utusan tersebut setelah bertemu Yehu, justru mengikuti Yehu masuk ke kota. Demikian pula pada beberapa pos penjagaan juga mengalami hal yang serupa, hingga akhirnya Yehu dan pasukannya semakin mendekat ke istana. Yoram bin Ahab dan Ahazia kemudian keluar mengambil kereta perangnya pergi menemui Yehu.

Ketika Yoram bin Ahab bertanya apakah gerakan tersebut bermaksud damai, dijawab oleh Yehu “ bagaimana bisa ada damai jika para pesihir yang merupakan orang orang Izebel ibunya Yoram bin Ahab begitu banyak “. Mendengar jawaban tersebut Yoram bin Ahab lansung memutar keretanya bermaksud lari dengan berteriak mengingatkan Ahazia agar lari pula. Yehu kemudian menarik busur dan anak panahnya diarahkan kepada Yoram bin Ahab mengenai punggung hingga tembus ke jantungnya sehingga Yoram mati seketika. Mayat Yoram bin Ahab dilempar ke kebun bekas kebunnya Nabot yang dirampas oleh Ahab.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-75)

Sedang Ahazia dapat meloloskan diri lari dari Yizreel menuju kearah Bet – Hagan. Namun dikejar oleh pasukan Yehu hingga akhirnya sampai ke wilayah megido. Ahazia tidak dapat lari kearah Yerusalem karena jalan kearah Yerusalem telah diblokir oleh pasukan Yehu. Akhirnya Ahazia dapat terkejar di wilayah Megido ketika dijalan mendaki ke Gur dekat Yibleam, dan kemudian dibidik dengan panah dan terbunuh disana. Mayat Ahazia di bawa ke wilayah Yehuda dan dikubur di kota Dawud.

Sedang Izebel istri Ahab, akhirnya mendengar berita bahwa anaknya telah terbunuh dalam pemberontakan. Dikamarnya yang terletak dibangunan atas istana dia mendengar derap langkah pasukan menuju istananya, kemudian menengok melalui jendela kamarnya. Ketika dia berteriak bertanya pada Yehu, justru Yehu berteriak siapa disana yang ada dipihaknya. Mendengar teriakan Yehu lalu pengawal Izebel justru mengangkat Izebel dan dilemparkan kebawah dari jendela kamar.

Izebel jatuh menimpa dinding istana kemudian terpental tertusuk tombak sehingga mati seketika. Mayatnya diinjak-injak kuda yang melewatinya hingga tidak lagi berbentuk. Yehu memerintahkan agar mayat terebut dibuang ke bekas kebun milik Nabot. Mayat Izebel kemudin menjadi makanan anjing liar sampai tidak tersisa daging di tulang belulangnya. Tidak ada pemakaman untuk Izebel. Mubahalah Nabi Ilyas atas Izebel telah terlaksana.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-74)

Yehu menuntaskan pekerjaannya dengan berkirim surat kepada kepala dan para tetua daerah dan kota kota, bila diwilayahnya terdapat anak, cucu, saudara dan kerabat Ahab, agar seluruhnya dihukum mati semua. Ratusan anak cucu dan kerabat Ahab di bunuh semua tanpa ada yang tersisa. Demikian pula sanak saudara Ahazia di wilayah Samaria di daerah Bet – Eked yang berjumlah sekitar empat puluh orang akhirnya dibunuh semua atas perintah Yehu.

Dengan demikian mubahalah atau sumpah kutukan Nabi Ilyas kepada raja Ahab, istri dan keturunannya beberapa tahun sebelumnya bahwa seluruh keluarganya akan mati terbunuh telah terlaksana. Peristiwanya terjadi saat Yehu mengambil alih kekuasaan kerajaan Samaria.

Setelah semua keturunan Ahab dan kerabatnya dibunuh, Yehu menyatakan kepada rakyat Israel bahwa bahwa mereka kurang beribadah kepada baal sedang dirinya akan beribadah lebih dari apa yang telah dilakukan keturunan Ahab maupun Ahazia dan keluarganya. Untuk itu dia memanggil semua imam baal agar berkumpul karena dirinya akan membuat upacara kurban yang besar. Yang tidak hadir dalam upacara kurban akan dihukum mati.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here