Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-82)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

141
Lukisan Nabi Yunus kalah undian di atas kapal yang diombang-ambingkan badai dan harus dilempar ke laut. (Sumber: Alkitab SABDA)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Di sisi lain, Amazia juga dapat menaklukkan kembali kerajaan Edom. Dengan kemenangannya ini, Amazia merasa dirinya kuat sehingga berani menantang duel Yoas bin Yoahas. Duel yang juga tidak mempertaruhkan apa-apa. Tidak diketahui motif Amazia menantang duel satu lawan satu tersebut.

Mungkin hanya untuk menentukan siapa diantara dua raja ini, yang masing masing merasa hebat karena dapat menaklukkan lawan lawannya dalam peperangan. Awalnya Yoas bin Yoahas tidak meladeni tantangan tersebut, namun mengusulkan agar berbesanan dengan mengawinkan anak lelakinya dengan anak perempuan Amazia. Raja Yudea menolak dan tetap menantang duel Yoas. Akhirnya duel dua raja terlaksana di Bet-Semes.

Ternyata Amazia kalah duel dengan Yoas. Kemudian Amazia ditangkap dan ditawan. Bahkan Yoas yang kuat karena restu Nabi Ilyasa’ terus pergi ke Yerusalem dan masuk ke kota Yerusalem dengan menjebol pintu gerbang Efraim, kemudian mengambil harta Yerusalem baik berupa perak dan emas maupun semua perkakas peribadatan Haikal Sulaiman.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-81)

Setelah puas mengambil harta Yerusalem, Yoas kemudian pulang ke Samaria dan Amazia dilepas kembali. Tidak lama kemudian Yoas bin Yoahas yang telah menjadi pahlawan kerajaan Samaria meninggal dan kerajaannya di serahkan kepada anaknya yaitu Yerobeam bin Yoas bin Yoahas.

Di Yerusalem, Amazia masih menjadi raja dalam waktu yang cukup lama. Tidak tertulis dalam riwayat apa yang menjadi penyebabnya, suatu ketika rakyat Yerusalem marah kepada Amazia dan mengejarnya hingga lari sampai ke Lakhis, dan akhirnya tertangkap di kota Lakhis dan dibunuh. Mayatnya dibawa pulang dan dikuburkan di kota Dawud. Rakyat Yerusalem kemudian mengangkat Azarya bin Amazia sebagai raja Yehuda.

Kitab 2 Raja-Raja 14 : 25 – 27 menyebutkan, pada masa kerajaan Israel Samaria di perintah oleh Yerobeam bin Yoas bin Yoahas ini, Allah mengutus rasul pada Bani Israel yaitu Nabi Yunus bin Amitai (Matta) dari Gad hefer berasal dari suku Gad bin Ya’qub. Amitai atau Matta sebenarnya adalah nama ibu Nabi Yunus, sehingga nama Nabi Yunus dinisbatkan kepada ibunya. Tidak tercatat dalam riwayat siapa sebenarnya ayah Nabi Yunus.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-80)

Allah menyampaikan firmannya untuk Bani Israel melalui Nabi Yunus, bahwa Allah hendak menolong Bani Israel dari kepahitan dan kesengsaraan. Allah tidak berkehendak memusnahkan Bani Israel. Firman tersebut disampaikan kepada Nabi Yunus untuk disampaikan kepada kaumnya. Dengan adanya firman tersebut terbuki membuat raja Yerobeam bin Yoas menjadi raja yang tangguh dan jago berperang.

Yerobeam bin Yoas dapat kembali merebut semua wilayah Israel yang dikuasai Aram dan bahkan dapat memperluas wilayah kerajaan dengan merebut beberapa wilayah Aram, hingga sampai ke perbatasan wilayah Asyira. Bahkan konon wilayah Samaria juga sampai ke laut arab. Yerobeam bin Yoas menjelma jadi pahlawan Bani israel, bahkan menjadi raja dalam kurun waktu yang panjang yaitu sekitar 41 tahun.

Namun demikian, pada masa kekuasaanya, Yerobeam bin Yoas tidak menghilangkan dosa yang dibuat Yerobeam bin Nebat pendiri kerajaan Israel Samaria yang membangun patung sapi emas sebagai perbatasan dengan wilayah Yudea, sehingga hal tersebut menyebabkan rakyat kerajaan Israel Samaria masih mengagung-agungkan dan menyembah patung sapi emas tersebut.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-79)

Keadaan itu membuat Nabi Yunus sangat kesal dan marah karena telah belasan tahun mengingatkan kaumnya bahwa Allah telah menunjukkan kasih sayangnya dan menghilangkan kepahitan dan kesengsaraan hidup yang sudah berlangsung lama dan agar kembali beriman tauhid kepada Allah namun usahanya tidak sesuai dengan yang diharapkannya.

Kitab Yunus 1 mengkisahkan, merasa gagal mengingatkan kaumnya dan dalam puncak kemarahannya, kemudian Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya menuju kota pelabuhan Yafo (Jaffa kuno) bermaksud pergi jauh dari negerinya dengan naik kapal, yaitu ke negeri Tarsus. QS. Ash-Shhaffat 140 mengkisahkan bahwa: “(ingatlah) kemudia dia (Nabi Yunus) lari (meninggalkan kewajiban dalam keadaaan marah), ke kapal yang penuh muatan”.

Kitab Yunus 1 : 4 – 15 mengkisahkan, ketika kapal Nabi Yunus dalam perjalanan, ternyata di tengah lautan datang badai besar sehingga kapal menjadi terombang-ambing tidak berdaya menunggu waktu tenggelam ditelan gelombang besar. Awak kapal menjadi panik dan para penumpang menjadi histeris berteriak ketakutan. Barang-barang muatan kapal mulai dibuang oleh awak kapal dan para penumpang untuk mengurangi bahaya yang menimpa kapal. Namun tetap saja kapal terombang-ambing dalam gelombang yang besar.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-78)

Nabi Yunus tidak menghiraukan keadaan tersebut, apalagi sudah tidak ada lagi yang dapat diperbuat agar kapal dapat berlayar dengan lebih aman. Nabi Yunus bahkan turun di dek bawah dan kemudian tidur dengan nyenyak. Nakhoda kapal kemudian memutuskan untuk mengurangi penumpang untuk menyelamatkan kapal. Untuk itu harus ada penumpang yang harus diceburkan ke laut.

Para penumpang setuju untuk dilakukan pengundian siapa yang harus diceburkan ke laut. Nakhoda kemudian menghitung dan memeriksa penumpang satu persatu untuk segera dilakukan undian. Namun tidak ditemuinya Nabi Yunus, dan kemudian dicarinya di dek bawah. Di sana ditemuinya Nabi Yunus sedang tidur. Lalu dibangunkannya dan dimintanya naik ke atas untuk mengikuti pengundian.

Kitab Yunus 1 : 5 – 6. Tentu nakhoda kapal terheran-heran, karena dalam situasi sangat gawat dan semua orang dalam keadaan panik, namun Nabi Yunus dapat tertidur pulas. Kemudian nakhoda tersebut bertanya kepada Nabi Yunus tentang banyak hal termasuk asal-usulnya, apa pekerjaannya, dan pertanyaan lainnya. Nakhoda tersebut malah menjadi takut karena dari penjelasannya Nabi Yunus, dia mengetahui bahwa badai dan ombak besar yang terjadi karena Allah sedang murka kepada Nabi Yunus yang lari meninggalkan kewajibannya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-77)

Namun Nabi Yunus menenangkan nakhoda tersebut, dan dirinya akan mengikuti undian. Nabi Yunus meyakinkankan nakhoda bahwa badai segera pergi dan para penumpang akan selamat dan dapat melanjutkan pelayarannya denga naman.

QS. Ash-Shaffat 141 dan Kitab Yunus 7 mengkisahkan, untuk membuktikan perkataan Nabi Yunus undian harus tetap dilakukan, dan Nabi Yunus harus ikut diundi. Ternyata Nabi Yunus kalah dalam undian. Kitab Yunus 1 : 8 – 16 mengkisahkan, Nabi Yunus kemudian meminta kepada orang-orang di kapal tersebut mengangkatnya dan menceburkannya ke laut agar badai dan gelombang menjadi reda.

Sebelum diceburkan ke laut Nabi Yunus berdoa agar para penumpang kapal tersebut diselamatkan dan tidak menjadi orang yang menerima tanggungan atas kesalahannya. Kemudian Nabi Yunus diangkat oleh orang-orang di kapal dan dicerbukannya ke laut, hingga terhanyut hilang dari pandangan orang-orang dikapal tersebut. Dan tidak lama kemudian badai dan gelombang besar di laut menjadi hilang, laut menjadi tenang kembali sehingga orang-orang tersebut dapat kembali berlayar dengan tenang dan cepat.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here