Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-83)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

75
Lukisan Nabi Yunus dilempar ke laut, kemudian ditelan ikan besar. (Sumber: Blogspot.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

QS. Ash-Shaffat 142 dan Kitab Yunus 1 : 17 melanjutkan kisahnya yaitu, Nabi Yunus kemudian ditelan oleh ikan besar dan dalam keadaan telah membuat kesalahan. Demikianlah Nabi Yunus mengira bahwa Kami (Allah) tidak akan memberikan kesulitan. Dia kemudian mengalami situasi yang bisa membuat orang menjadi tertekan jiwanya karena di dalam perut ikan suasananya gelap tanpa cahaya sedikitpun.

Tidak dapat membedakan kiri dan kanan, atas dan bawah, serta tidak bisa bergerak. Badan terasa bercampur dengan benda benda laut yang menjadi makanan ikan, Beberapa hari Nabi Yunus mengalami keadaan yang dapat membuat orang kehilangan ingatan, sedang tubuh semakin lama semakin kehilangan kekuatannya, menjadi lemas tidak bertenaga dan tidak berdaya.

Dalam keadaan seperti itu, Nabi Yunus dengan tetap beriman kepada Allah dan dengan hati yang sedih selalu terus menerus merintih dan bertobat memohon ampunan karena merasa dirinya menjadi orang yang dzalim (QS. Al-Anbiya 87). Nabi Yunus banyak melakukan dzikir bertasbih kepada Allah secara terus menerus (QS. Ash-Shaffat 143). Kitab Yunus 2 : 1 – 10 menginformasikan tentang doa dan ucapan syukur Nabi Yunus selama diperut ikan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-82)

Hingga akhirnya pertobatannya di terima Allah dan kemudian diselamatkan oleh Allah dari kedukaan (QS. Al-Anbiya 88). Jika Nabi Yunus tidak banyak berdzikir kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal diperut ikan sampai hari berbangkit (QS. Ash-Shaffat 144). Kemudian Allah memerintahkan ikan tersebut untuk melemparkannya (memuntahkannya) di daratan yang tandus dalam keadaan sakit (QS. Ash-Shaffat 145).

Seorang Rasul pun dapat membuat kesalahan yang bersifat manusiawi. Namun seorang rasul pasti pikiran dan hatinya akan selalu terpelihara, sehingga segera menyadari kesalahannya kemudian bertobat. Allah pasti mempunyai maksud yang tidak disampaikan kepada para rasulnya. Jikalau Allah mau, semua manusia akan dibukakan hatinya untuk dapat menerima kebenaran dari Allah yang disampaikan melalui para rasul dan nabi-nabinya.

Namun meskipun banyak yang tidak menghiraukan peringatan rasul dan nabinya, Allah bersifat adil yang keadilan-Nya meliputi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dengan rahmat Allah, manusia tetap dapat menjalanki kehidupannya. Oleh karena itu Allah memberitahukan tentang adanya hari berbangkit setelah hari kiamat, dimana semua perbuatan harus dipertanggung jawabkan. Allah telah memberikan petunjuk tentang jalan yang benar melalui rasul dan nabi-Nya. Dan petunjuk itu ketika di hari pembalasan, akan berubah menjadi kitab yang mengadili perbuatan manusia selama di dunia.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-81)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here