Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-47)

V. Nabi Musa, Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

87
Gambar diolah. Kotak Merah: pertemuan dua laut, letaknya cukup jauh dari Yotbata. Tempat yang mungkin menjadi lokasi pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Namun kemudian Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada Ku dan tidak menghormati ke kudusan Ku didepan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa Jamaah ini masuk kenegeri yang akan Kuberikan kepada mereka”.

Allah telah menghukum Nabi Musa dan Nabi Harun karena kekeliruan yang diperbuatnya disebabkan amarah yang membuat kesalahan dalam perkataan dan perbuatan yaitu:

(1) Menyebut kaumnya sebagai kaum yang durhaka,

(2) Menyebut perkataan “Kami (Musa dan Harun) harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?”. Seharusnya Nabi Musa menyampaikan kepada Bani Israel bahwa “Ada perintah Allah kepada batu tersebut agar mengeluarkan airnya”. Dengan demikian Nabi Musa dan Harun telah mengambil alih kekudusan Allah dalam hal mengeluarkan air dari batu.

(3) Nabi Musa memukul batu dengan tongkatnya dua kali untuk mengeluarkan air dari batu. Padahal Allah hanya memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun berkata (bukan memukul) kepada batu tersebut agar mengeluarkan airnya.

Dalam peristiwa tersebut, mukjizat Nabi Musa adalah mengetahui batu yang mana yang dapat mengeluarkan air, kemudian diperintah Allah berkata pada batu tersebut agar mengeluarkan airnya. Namun Nabi Musa dan Harun tidak melaksanakan perintah Allah secara benar karena dilupakan oleh kemarahannya, sehingga dihukum tidak dapat ikut serta masuk ke Baitul Maqdis.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-46)

18. Pertemuan dengan hamba Allah yang shalih (Nabi Khidir).

Kisah pertemuan antara Nabi Musa dengan hamba Allah yang shalih (Nabi Khidir) terdapat dalam QS. Al-Kahf: 60-82. Kisah ini tidak ada informasinya pada Kitab Torah, yang hal ini menunjukkan bahwa kisah ini tidak ada hubungannya dengan kisah Bani Israel.

Peristiwanya terjadi ketika Nabi Musa berjalan ke suatu tempat bersama pembantunya. Pembantu yang dimaksud sangat mungkin adalah Yusa’ bin Nun, karena ke manapun Nabi Musa pergi selalu ditemani Yusa’ bin Nun.

Kisah dimulai ketika dalam suatu perjalanan, Nabi Musa berkata pada pembantunya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun tahun”.

Ayat tersebut tersebut mengisyaratkan: (1) Ada sesuatu yang dicari atau mau ditemui oleh Nabi Musa, yang waktu pertemuannya atau yang dicarinya tidak diketahui kapan akan terjadi, dan Nabi Musa tidak akan balik ke perkemahan Bani Israel sebelum pertemuan atau yang dicarinya telah didapatnya. Jadi peristiwa ini mengisyaratkan sesuatu yang sangat penting bagi Nabi Musa.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-45)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here