Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-44)

V. Nabi Musa, Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

135
Lukisan yang dibuat tahun 1728, Tabut Perjanjian, peti dari kayu berlapis emas tempat menyimpan Lauh-Lauh Batu. Bentuk asli Tabut Perjanjian tidak diketahui karena hilang tidak pernah diketemukan lagi bersama Lauh-Lauh Batu di dalamnya. (wikipedia)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Dalam QS. Al-A’raf: 155-156, diterangkan bahwa Nabi Musa kemudian memilih 70 orang di antara kaumnya, untuk mengikuti ibadah pertaubatan yang dipimpinnya, dimana waktu untuk pertaubatan ditentukan oleh Allah, yaitu ketika tiba-tiba mereka ditimpa gempa bumi, maka ibadah pertaubatan itu dimulai.

Setelah itu Nabi Musa berdoa mohon ampunan yang berbunyi: “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan-cobaan dari-Mu. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang tebaik. Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Sungguh kami kembali (bertaubat) kepada Engkau”.

Atas doa Nabi Musa tersebut, kemudian Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-43)

Doa mohon ampunan oleh Nabi Musa menunjukkan bahwa peristiwa penyembahan patung berhala anak sapi dari emas oleh Samiri yang kemudian disembah kaumnya adalah cobaan dari Allah untuk menguji iman Bani Israel. Disebut sebagai ujian, karena Allah sebelumnya telah menjanjikan kepada Nabi Ibrahim bahwa keturunannya akan banyak dan diberi tempat di Baitul Maqdis.

Oleh karena itu, jika Allah menghendaki, Allah telah membinasakan Bani Israel di mesir dan tidak akan diselamatkan dari usaha pembunuhan oleh Fir’aun atas anak lelakinya, hingga hanya tertinggal keturunan wanitanya, yang dengan demikian lambat laun Bani Israel akan musnah.

Ujian tersebut ditimpakan kepada Bani israel ketika Nabi Musa pergi dari kaumnya. Bani Israel tidak ada yang memimpin dan membimbing yang kemudian dengan mudah melakukan perbuatan menyimpang dari keimanannya. Mereka mecoba menyerupakan Allah dengan patung anak sapi dari emas yang kemudian disembah, dan meskipun sudah di ingatkan Nabi Harun atas kesesatan perbuatannya, namun peringatan tersebut tidak diindahkan bahkan hampir membunuh Nabi Harun.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-42)

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Bani Israel masih mudah terpengaruh oleh perbuatan bangsa Mesir yang menyembah tuhannya dengan menyerupakan tuhan yang disembahnya dalam bentuk patung berhala. Bani Israel tidak berpikir bahwa berhala yang dibuatnya tidak dapat menimpakan mudarat dan tidak dapat mendatangkan manfaat. Mereka masih mudah disesatkan dan melupakan ajaran Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan Yusuf.

Bahkan ketika Allah telah menolongnya saat mereka ditindas di Mesir dan melihat kehebatan mukjizat Nabi Musa, mereka masih juga mudah tersesat dengan menyembah berhala yang berhala tersebut dianggapnya sebagai perwujudan tuhannya dan tuhannya Musa.

Padahal mereka baru saja membuat perjanjian dengan Allah sehingga mereka diberikan Lauh Batu 10 perintah Allah, melalui peristiwa yang tentunya tidak bisa dilupakan seperti halnya mereka tidak bisa melupakan bagaimana dahsyatnya mukjizat Nabi Musa yang membawa mereka menyenerangi laut. Ketika Musa datang dan sangat marah atas perbuatan penyembahan patung anak sapi tersebut, mereka baru sadar kembali bahwa perbuatannya adalah perbuatan sesat, kemudian menyesal dan bertobat.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-41)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here