Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-41)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

116
Lukisan perang antara Bani Israel dengan suku Amalec. (Be Unpredictable)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Setelah semuanya siap, perbekalan juga disiapkan, maka perjalanan ratusan ribu atau bahkan satu juta lebih orang dengan perbekalan berupa ternak dan membawa harta benda lainnya seperti emas dan lain lain, maka perjalanan hijrah luar biasa ini dimulai.

Mereka meninggalkan laut Teberau, menyisir jalan dekat pantai mulai meninggalkan gurun Syur dan akan melewati padang belantara Sin. Awalnya nampak kegembiraan dan semangat yang tinggi penuh harapan dari Bani Israel.

Setelah beberapa hari berjalan di padang gurun, ketika sampai di daerah Mara mereka membuka perkemahan untuk istirahat. Ujian pertama bagi Bani Israel mulai muncul, mereka mulai kehabisan perbekalan air, sedang belum ditemukan sumber air yang baik untuk diminum airnya, padahal di depan mereka terbentang padang gurun Sin.

Tidak mungkin balik arah, satu satunya jalan harus meneruskan perjalanan sampai ditemukan sumber air yang dapat diminum. Ketika perjalanan sampai di sekitar wilayah Elim, air perbekalan sudah betul betul habis, tetapi belum nampak sama sekali sumber air yang dapat diminum atau oase.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-40)

Sejauh mata memandang hanya nampak padang gurun dan perbukitan, sedang sebagian Bani Israel sudah kehabisan tenaga, mereka mulai panik. Mulai ada yang menyalahkan Nabi Musa dan Harun, mereka meminta kepada Nabi Musa agar memohon kepada Allah agar diberikan air untuk mereka. Nabi Musa kembali mengingatkan kaumnya agar tetap beriman kepada Allah, karena selama ini sudah terbukti berkali kali Allah memberikan pertologan kepada mereka.

Lalu Nabi Musa berdoa kepada Allah agar diberikan air untuk kaumnya, kemudian Allah berfirman “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Maka ketika Nabi Musa melihat batu yang besar, dipukullah dengan tongkatnya, maka memancarlah dari batu tersebut dua belas mata air.

Setiap suku kemudian mengambil satu sumber air. Allah telah membagi Bani Israel menjadi dua belas (12) suku yang masing masing berjumlah besar. Allah berfirman agar Bani Israel makan dan minum dari rezeki yang baik yang diberikan Allah kepada mereka, dan agar tidak melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan (QS. Al-Baqarah 60, QS. Al-A’raf 160).

Dengan 12 sumber air yang kemudian dibuatkan sumur untuk masing masing sumber air tersebut. Untuk sementara mereka berkemah ditempat tersebut agar tenaga pulih kembali dan dapat menggembalakan ternak di tempat tersebut. Beberapa hari atau sekitar satu bulan mereka berkemah sehingga perjalanan Bani Israel telah memasuki bulan kedua sejak keluarnya dari Mesir.

Istri penulis di salah satu dari 12 sumur Musa di wilayah Elim, dekat terusan Suez, Mesir. (Foto: koleksi Agus Mualif Rohadi)

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-39)

Perjalanan dilanjutkan kembali, tempat perbekalan air sudah dipenuhi. Setelah berhari hari perjalanan yang lambat, mereka sampai di daerah yang disebut Dofka. Setelah berjalan agak jauh lagi kemudian membuka perkemahan di Alus untuk beristirahat. Ternak mulai jauh berkurang karena disembelih, sedang dalam perjalanan tersebut belum ditemukan padang rumput yang luas agar dapat dijadikan tempat singgah sementara bagi sekitar satu juta orang sekaligus untuk memberi kesempatan ternak mereka berkembang biak dengan baik.

Akhirnya Bani Israel mulai lagi mencela Nabi Musa dan Harun. Ada yang mengatakan lebih baik mati di Mesir dengan menghadapi kuali masakan meskipun ditindas dari pada mati kelaparan di padang gurun yang tidak kelihatan tepinya. Mendengar berbagai keluhan tersebut, kembali Nabi Musa mengingatkan berbagai peristiwa yang dialami Bani Israel yang kemudian Allah berkali-kali selalu menolong Bani Israel.

Nabi Musa dan Harun mengingatkan agar Bani Israel tidak kehilangan keimanannya karena ujian Allah terhadap mereka. Setelah itu Nabi Musa berdoa agar Allah memberikan makanan bagi Bani Israel. Allah kemudian menurunkan dari langit “man (Bahasa ibrani adalah manna yaitu roti yang lembut berwarna putih seperti salju) dan salwa (burung puyuh),” (QS. Al-A’raf: 160).

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-38)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here