Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-43)

V. Nabi Musa, Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

119
Gunung Musa di Sinai. Di puncak gunung ini diperkirakan Nabi Musa bermunajat selama 40 hari untuk menerima Taurat. (Foto: BBC)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Sedang peristiwa kedua di gunung Sinai dalam Kitab Keluaran pasal 24 : 12-18 mengisahkan Allah memanggil Nabi Musa ke atas gunung Sinai sendirian dan meninggalkan Nabi Harun di bawah bersama Bani Israel untuk membimbing dan menyelesaikan perkara yang muncul dari Bani Israel. Nabi Musa berada diatas gunung selama 40 hari siang malam.

Setelah hari ke 40, Kitab Keluaran pasal 25-31, menguraikan turunnya firman Allah yang tertulis dalam Lauh-Lauh atau Lauh-Lauh batu, antara lain tentang, rumah suci (kemah suci yang berfungsi sebagai bait suci) dengan pelatarannya, persembahan kurban khusus dan mezbah tempat kurban bakaran, perintah membuat tabut untuk tempat Lauh batu yang tertulis firman Allah, tentang pakaian untuk para imam dan menjadikan Harun sebagai imam bagi Allah dan anak Harun yaitu Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar sebagai imam, mengenai minyak urapan yang kudus, hukum dan banyak lainnya.

Dengan dua peristiwa tersebut maka dalam Kitab Keluaran 31 : 18 dituliskan bahwa Nabi Musa memperoleh Lauh-Lauh Batu yang berisi tulisan firman Allah tentang 10 perintah Tuhan kepada Bani Israel sebagai perjanjian tertulis yang pertama, dan perjanjian tertulis yang kedua yang tertulis pada Lauh-Lauh atau Lauh-Lauh batu yang berisi Firman tentang berbagai hal dan hukum setelah turun dari puncak Sinai.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-42)

Al-Quran memberikan contoh tentang orang yang melanggar 10 perintah Allah. Pada suatu saat, terdapat orang-orang dari Bani Israel melanggar ketentuan pada hari Sabat dimana pada hari itu adalah hari yang dikhususkan untuk ibadah namun ada orang-orang yang melakukan pekerjaan sehingga kemudian langsung dihukum oleh Allah menjadi kera yang hina.

Orang-orang tersebut telah tidak mengindahkan perintah Allah kepadanya, dan Allah kemudian menunjukkan kuasa-Nya dengan menghukum mereka, agar hal tersebut menjadi peringatan dan pelajaran bagi orang-orang lainnya pada masa itu agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 65-66).

Sebagian mufassir mengartikan orang-orang tersebut menjadi memiliki sifat-sifat dan tingkah laku seperti kera. Dengan demikian, pada masa lalu, sebelum masa Nabi Muhammad, hari Sabat atau hari Sabtu adalah hari libur bagi Bani Israel yang hingga kini menjadi keyakinan dan dipraktikkan oleh agama Yahudi.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-41)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here