Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-25)

III. Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf.

90
Ilustrasi: Alat tukar gandum yang ditemukan di kantung gandum milik Ben Yamin.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

B. Nabi Yusuf di Mesir.

Nabi Yusuf telah merencanakan menaruh takaran gandum pada karung Ben Yamin, agar dapat alasan untuk menahan kepulangannya. Tentara pengawal kemudian menahan Ben Yamin yang akan menjalani hukuman sebagai budak selama satu tahun sesuai hukum yang berlaku saat itu dan mempersilakan yang lainnya pulang dengan membawa pulang gandumnya termasuk gandum Ben Yamin.

Yehuda memohon kepada Nabi Yusuf agar dirinya atau salah satu saudara-saudaranya yang lain dapat menggantikan posisi Ben Yamin sebagai budak, namun ditolak oleh Nabi Yusuf, karena yang menjalani hukuman harus orang yang melakukan kesalahan (QS. Yusuf ayat 78-79).

Anak-anak Israel menjadi bingung, karena adiknya itu tidak bisa dibawa pulang. Bagaimana mereka nanti menjelaskan hal itu kepada bapaknya, apakah mereka akan dikutuk bapaknya karena dianggapnya berbohong lagi mengenai adiknya, karena tidak percaya atas cerita mereka. Namun mereka tetap pulang kecuali Ruben yang tidak mau ikut pulang karena merasa telah berbuat salah lagi kepada bapaknya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-24)

Dirinya akan pulang jika bapaknya memutuskannya boleh pulang dan berpesan kepada saudara-saudaranya agar menceritakan apa yang telah terjadi terhadap Ben Yamin yang di dalam karungnya terdapat alat takaran gandum (QS. Yusuf ayat 80-81). Sedang dirinya akan tinggal di Mesir untuk melihat bagaimana nasib adiknya di Mesir.

Ketika anak-anak Israel ini sampai di rumah, kemudian diceritakannya tentang peristiwa yang menimpa Ben Yamin, Nabi Ya’qub langsung meratap dan menangis masuk ke kamarnya dan beberapa hari tidak keluar dari kamar. Sejak itu, anak-anaknya tidak bisa menemui bapaknya sehingga membuat hari-hari mereka menjadi hari yang penuh kegelisahan dan siksaan perasaan.

Anak-anaknya terus berusaha mengingatkan bapaknya agar tidak melakukan perbuatan yang hanya akan menyiksa diri, namun Nabi Ya’qub tetap bertahan dalam keadaannya dengan menyatakan bahwa hanya kepada Allah dirinya mengadukan kesusahan dan kesedihannya dan dirinya mengetahui dari Allah apa-apa yang tidak diketahui anak-anaknya (QS. Yusuf ayat 82-86).

Lama kelamaan mata Nabi Ya’qub menjadi semakin memutih yang membuatnya tidak dapat melihat apa-apa lagi karena menangis terus menerus. Anak-anaknya menjadi bingung dan saling menyalahkan. Bahkan ada di antara mereka ada yang kemudian mencela Ben Yamin.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-23)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here