Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-128)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

129
Nabi 'Iysaa bersama 12 sahabatnya. (Sumber: rhabbi)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Injil Barnabas 14 mengkisahkan ketika memasuki wilayah Yordan, Yesus menjalani puasa 40 hari 40 malam, untuk memilih sahabat setianya yang akan membantu dakwahnya. Setelah menjalani puasa tersebut, Yesus naik ke bukit berdoa sepanjang malam, dan siangnya turun untuk memberikan ketetapannya tentang 12 orang Hawariyyun, yaitu:

1) Barnabas, 2) Andrew, 3) Simon yang juga dipanggil Peter atau Peterus, orang Zelot 4) Matthew, 5) dua orang anak Zabedee yaitu Jacobus, dan saudaranya 6) Yohanes, 7) Thaddaeus, 8) Bartholomew, 9) Thomas, 10) Philip, 11) James, 12) Yudas Ischariot. Para Hawariyyun ini yang menemani perjalanan dakwah Nabi Iysa untuk menyadarkan banyak orang kembali hidup dengan menjalankan hukum Allah.

Kepada 12 orang sahabatnya ini, Nabi ‘Iysaa menceritakan wahyu-wahyu Allah yang diterimanya dan mengajarkan kepada mereka tentang hukum hukum Taurat dan menjawab banyak pertanyaan pertanyaan dari sahabat setianya sekaligus muridnya ini. Para sahabat setianya ini, selain mencatat wahyu yang diterima Nabi ‘Iysaa juga mencatat kutbahnya dan berbagai peristiwa yang dialaminya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-127)

Ketika Nabi ‘Iysaa melayani orang perorang maupun melayani sejumlah penduduk, mereka mencatat mukjizat-mukjizat yang ditunjukkannya, mencatat pertanyaan dari seseorang maupun aparat istana dan jawabannya, mencatat pengajaran pengajarannya, maupun mencatat perkataan Nabi ‘Iysaa kepada masing-masing murid atau sahabat setianya.

Catatan-catatan dari masing-masing para Hawariyyun ini di kemudian hari di sebut Injil Hawariyyun dan catatan para Hawariyyun. Dalam injil atau catatan Hawariyyun, tidak dipisahkan antara wahyu dengan perkataan Nabi ‘Iysaa yang bukan wahyu, dan masing masing menuliskan peristiwa yang dialami Nabi ‘Iysaa menurut persepsi masing masing.

Pada suatu saat Yesus mengeluhkan pilihannya sendiri, yang keluhan ini di dengar Barnabas dan kemudian dicatat dalam injil Barnabas pasal 19, yaitu: “Oh Allah, betapakah hal ini? Karena aku telah memilih 12 orang, sedangkan salah seorang diantara mereka ini adalah syaitan”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-126)

Para sahabatnya yang mendengar keluhan ini, kemudian menangis dan menanyakan siapa orang yang dimaksud Yesus. Namun Yesus menjawab: “janganlah terlalu disedihkan”, dan kepada Barnabas Yesus berkata: “Barnabas, bagi mereka yang telah dipilih oleh Allah sebelum penciptaan dunia ini tiada kan binasa. Gembiralah, karena namamu ada ditulis dalam kitab kehidupan”.

Yesus juga banyak didatangi oleh utusan-utusan dari kaum Pharisi dan Saduqi untuk menyampaikan banyak pertanyaan kepadanya, yang semuanya dijawab dengan tak terbantahkan oleh utusan-utusan tersebut. Datangnya utusan dari sekte-sekte Yahudi tersebut menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Nabi yang tidak bisa disekat oleh pemikiran-pemikiran yang menjadi dasar terbentuknya sekte-sekte tersebut.

11. Dakwah Nabi Yahya dan Baptis untuk penyucian dari dosa.

Khutbah keliling yang menjadi suatu hal baru bagi bani Israel, karena mereka sebelumnya terbiasa mendengarkan khutbah di Haekal Sulaiman. Hal baru yang dampaknya sangat besar yang tidak pernah diperkirakan oleh para imam Haekal Sulaiman yang sudah nyaman dengan jabatannya dan nyaman dengan kompleks rumah mewahnya di Yerusalem.

Sangat kontras dengan cara berdakwah Yesus yang mendatangi umatnya ke banyak tempat. Bukan sekedar berdakwah, tetapi juga menolong bani Israel dari kesulitan dan penyakit. Menolong langsung masyarakat di banyak tempat juga sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan imam Haekal Sulaiman.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-125)

Oleh karena berkelilingnya itu, Yesus tidak memerlukan rumah tinggal. Kutbah keliling Nabi ‘Iysaa, membuat banyak orang-orang dari kaumnya menjadi sadar atas kesalahan dan perbuatan dosa-dosanya. Mereka ingin mengekspresikan rasa bersalah dan keinginan bertobatnya.

Pada saat yang sama dengan kenabian ‘Iysaa, di suatu tempat yang agak jauh dari Yerusalem, di tepi singai Yordan, Nabi Yahya menjalankan misi kenabiannya yang berbeda dengan Nabi ‘Iysaa. Tidak diketahui bagaimana awalnya sehingga Nabi Yahya justru banyak di datangi orang yang ingin mengungkapkan pertaubatannya.

Perbuatan Nabi Yahya juga merupakan hal baru yang tidak pernah dilakukan oleh imam Haekal Sulaiman. Selain menyadarkan orang agar kembali menjalankan Taurat dengan benar, Nabi Yahya menunjukkan kepada orang-orang Yahudi cara pertobatan atas dosa yaitu dengan cara yang disebut pembaptisan.

Yaitu menerima pengakuan dosa dan pertobatan serta pernyataan kembali kepada ajaran Taurat dengan benar, melalui penyucian jiwa yang ditandai dengan cara dicelupkan ke dalam sungai Yordan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-124)

Khutbah keliling Nabi ‘Iysaa, mengakibatkan banyak orang dari berbagai kota dan perkampungan di wilayah Yudea maupun Samaria berdatangan ke tempat Nabi Yahya untuk melakukan upacara pembaptisan penyucian jiwa.

Nabi Yahya dikenal sebagai seorang Nabi yang ahli dalam menahan hawa nafsu (Qs Ali Imran 39, menyebutnya khashuran), hidup dengan cara zuhud dan meninggalkan kesenangan duniwai, membenarkan dan mengajarkan Taurat yang benar, dan dikenal sebagai seorang Nabi pertapa. Khutbah Nabi Yahya dan cara hidupnya juga merupakan hal baru yang berbeda dengan tradisi Haekal Sulaiman sekaligus kritik pada para imam bani Israel.

Khutbah Nabi ‘Iysaa maupun Nabi Yahya yang selalui dipenuhi kehadiran bani Israel menjadi pukulan berat bagi para imam agama Yahudi di Haekal Sulaiman. Tradisi agama yang dianut dan dipraktikkan para imam disebut oleh Nabi ‘Iysaa sebagai tradisi yang lapuk.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-123)

Di kemudian hari, sepeninggal Nabi Yahya, para pengikutnya yang mempraktikkan cara hidup meninggalkan kesenangan duniawi dikenal sebagai kaum ibionit. Pengikutnya menuliskan kitabnya sendiri yang bersumber dari ajaran Nabi Yahya yaitu Dirasyah Ehiya (ajaran kehidupan Nabi Yahya).

Lambat laun, praktik hidup dan ajaran keagamaan yang dianut oleh para pengikut Nabi Yahya ini yang kemudian disebut agama Shaabi’in atau shaabi’ah (QS. Al-Baqarah 62, QS. Al-Maidah 69, QS. Al-Hajj 17).

Dalam QS. Al-Baqarah 138, disebutkan istilah Shibghah Allah (celupan Allah) dengan nada tanya sekaligus penegasan dan jawaban, yaitu: “Sibghah Allah! Siapa yang lebih baik sibghahnya dari pada Allah? Dan kepadaNya kami Menyembah”.

NabiBACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-122)

Shibgah Allah atau celupan Allah adalah masuk dalam agama Allah. Kalimat ini mengisyaratkan koreksi atas terjadinya penyimpangan dari maksud ajaran celupan ke dalam air dari Nabi Yahya.

Maksud Nabi Yahya dengan mencelupkan orang yang telah bertaubat ke sungai adalah sebagai bentuk ungkapan spirit kembali melaksanakan ajaran Taurat dengan benar, yaitu agama Allah.

Dalam bentuk aplikatifnya, Sibghat Allah adalah masuk ke dalam agama Allah dengan membaca dua kalimat syahadat. Dengan demikian, Al-Quran telah memperbaiki kekeliruan orang atas apa yang telah diperbuat oleh Nabi Yahya.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here