Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-127)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

154
Lukisan Yesus menyembuh orang buta.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Injil Barnabas 11-13 mengkisahkan, setelah peristiwa memperoleh wahyu di bukit zaitun, sebelum berkeliling menjalankan tugas kerasulannya, Nabi ‘Iysaa atau Yesus terlebih dahulu pergi menuju Yerusalem dengan maksut untuk melaksanakan shalat di Haekal Sulaiman.

Dengan adanya pasal tersebut, maka Barnabas telah mengikuti perjalanan Nabi ‘Iysaa sejak pertama kali ketika mendapatkan wahyu di bukit zaitun dan mendapat perintah untuk mulai melaksanakn dakwahnya.

Di tengah perjalanan ada orang yang mengenali Yesus sebagai keturunan Dawud kemudian menghampirinya meminta di doakan agar disembuhkan dari penyakit kusta yang dideritanya. Orang tersebut juga mengetahui bahwa baik Maryam, Yusuf maupun ‘Iysaa adalah orang yang dikenal salih dan memahami Taurat.

Yesus kemudian menyembuhkan orang tersebut dengan doanya. Catatan pada injil Barnabas ini merupakan yang pertama kali Nabi ‘Iysaa menunjukkan mukjizatnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-126)

Karena gembiranya, orang tersebut kemudian berlari berteriak-teriak mengumumkan kepada penduduk bahwa telah datang Nabi yang diutus Allah untuk penduduk Israel. Orang yang memang sebelumnya diketahui mengidap penyakit kusta tersebut menjadikan dirinya sebagai bukti kerasulan Yesus.

Peristiwa tersebut juga menjadi bukti bahwa di wilayah Bani Israel memang banyak orang yang menderita penyakit kusta karena kekurangan gizi dan kemiskinan yang luas akibat penjajahan dan penindasan.

Berita tentang mukjizat Nabi ‘Iysaa menyembuhkan penyakit kusta dengan cepat telah mendahului kedatangan Nabi ‘Iysaa dan menyebar ke segala penjuru kota Yerusalem, yang mengakibatkan banyak orang berbondong bondong pergi ke luar kota untuk menjemput dan mengantar Yesus masuk ke kota Yerusalem.

Memori tentang keajaiban bayi ‘Iysaa yang sudah dapat berbicara dan pembunuhan bayi bayi di Betlehem oleh Herodes mungkin masih melekat di pikiran sebagian orang Bani Israel di Yerusalem. Yang dengan ingatan tersebut mereka dengan antusias menjemput kedatangannya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-125)

Dengan demikian, ayat dalam injil Barnabas ini menunjukkan keadaan penduduk Yerusalem yang sangat sulit dan telah lama menunggu datangnya seorang Nabi untuk menolong dan menyelamatkan mereka. Berita tersebut semakin lama semakin menyebar sehingga semakin banyak orang datang ke Haikal Sulaiman untuk melihat Nabi ‘Iysaa.

Injil Barnabas 12-13 mengkisahkan Yesus usai menyembuhkan orang sakit kusta kemudian ke Haekal Sulaiman dan menyampaikan kutbah pertamanya.

Ketika Yesus sedang shalat di haekal Sulaiman, ternyata di halaman Haekal Sulaiman ada keramaian besar karena penduduk yang datang dan berkumpul semakin lama semakin banyak.

Pelayan haekal Sulaiman kemudian memberi tahu Yesus bahwa penduduk Yerusalem ingin menjumpainya dan ingin mendengar perkataannya. Yesus kemudian mendatangi penduduk, naik ke tempat yang agak tinggi dan memberikan isyarat agar kaumnya tenang.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-124)

Setelah keadaan tenang, Yesus berkhotbah dengan sering mengulang kata-kata Maha Berkat Nama Suci Allah. Pidatonya secara ringkas adalah sebagai berikut:

“Maha Berkat Nama Suci Allah yang dengan kemurahan dan rahmatnya telah berkehendak menciptakan mahluk mahluknya, yang telah menciptakan para malaikat untuk mengabdi kepadaNya, yang menciptakan manusia dari tanah kemudian mengusirnya dari Jannah, yang memandang dengan belas kasih kepada Adam dan Hawa yang bercucuran air mata.

Dia adalah orang tua pertama dari jenis manusia yang dengan adil telah menghukum Kain (Qabil) yang telah membunuh saudaranya sendiri (Habil), yang telah mengirim air bah diatas bumi, yang telah membakar habis tiga buah negeri durjana (Kaum Nabi Hud, Salih dan Syu’aib), yang telah menimpakan malapetaka kepada bangsa Mesir dan menghancurkan Fir’aun di laut merah.

Yang telah mencerai beraikan musuh musuh umatNya, menyiksa orang orang yang tidak beriman dan menghukum orang orang yang tidak bertobat, yang mengutus Nabinya bagi keselamatan dunia, menganugerahkan tanah bagi keturunan Ibrahim untuk selama-lamanya, yang melalui Musa memberikan Taurat yang dengan taurat telah mengangkat derajat Bani Israel di atas sekalian bangsa-bangsa”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-123)

Tetapi Bani Israel telah ingkar sehingga dirinya (Yesus) memberikan peringatan keras kepada orang banyak dari kaumnya yang telah melupakan firman Allah, lalai berbakti kepada Allah, suka bersikap ria, dan sebagian suka menunjukkan sifat serakah keduniawiannya, para pemuka yang mengajarkan hal hal yang tidak berfaedah, meninggalkan hukum Allah, menjadikan hukum Allah menjadi tradisi yang lapuk dan tidak berfaedah.

Yesus mengakhiri kutbahnya dengan berdoa mengangkat tangannya yang diaminkan oleh penduduk Yerusalem. Semua yang mendengar khutbah Yesus menangis.

Namun saat itu pula Yesus mulai menimbulkan rasa tidak suka pada banyak imam agama, dan tabib tabib yang suka menyalah gunakan agama. Mereka tidak berkata sepatah katapun karena melihat penduduk Yerusalem justru menangis mendengar khutbah Yesus.

Setelah beberapa hari berlalu, Yesus mulai memahami bahwa banyak imam dan apparat istana yang membencinya. Di bukit Zaitun, pada malam hari Yesus shalat dan berdoa mengeluhkan mulai banyak orang yang memusuhinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-122)

Kemudian datang malaikat Jibril menghiburnya dan agar tidak gentar menghadapi musuh-musuhnya, karena ribuan penghuni langit selalu bersiap menjaganya. Malaikat Jibril kemudian memberikan domba untuk dipotong menjadi hewan kurban. Yesus kemudian melanjutkan dakwahnya.

QS. Al-Maidah 110-115, QS. Ali Imran 49-50, menjelaskan tentang Nabi ‘Iysaa datang kepada Bani Israel dengan membawa beberapa mukjizat dan membenarkan Taurat.

Beberapa mukjizat yang ditunjukkan oleh Nabi ‘Iysaa dalam perjalanan dakwahnya berkeliling kota bukan hanya di kota-kota Yudea yaitu Yerusalem dan sekitarnya, namun juga berdakwah di kota-kota wilayah Samaria hingga jauh ke kampung tempat tinggalnya sepulang dari Mesir di Nazareth.

Mukijizat yang ditunjukkan oleh Nabi Iysa yang dilakukan atas seizin Allah, antara lain membuat burung dari tanah yang kemudian ditiupnya sehingga dapat hidup menjadi seekor burung yang sebenarnya, menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan orang berpenyakit kusta, menghidupkan orang mati yang telah dikubur, menyediakan hidangan dari langit untuk para pengikutnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-121)

Mukjizat-mukjizat itu ditunjukkan dalam berbagai peristiwa yang ditemuinya dalam perjalanan dakwahnya. Mukjizat menyembuhkan penyakit kusta yang diderita oleh banyak orang dan memberikan makanan untuk banyak orang menunjukkan bahwa saat itu kondisi Bani Israel mengalami kemiskinan yang parah dan kesehatan masyarakat yang buruk akibat penjajahan dan penindasan yang telah dijalani selama ratusan tahun.

Banyak penduduk Bani Israel yang hidup dalam kesulitan namun ada diantara mereka justru menjerat kaumnya sendiri dengan menjalakan riba dan memakan harta benda dengan cara tidak sah (QS. An-Nisa: 161) padahal hukum taurat telah melarangnya, mereka yang kaya justru menunjukkan sifat loba dan tamak sekaligus kikir, oleh karena itu mereka harus melakukan pertobatan atas perbuatan dosa dosanya.

Nabi ‘Iysaa dalam dakwah kelilingnya sebagai rasul, setelah mengetahui keadaan dan keinginan kaumnya. Dalam perjalanan kelilingnya cukup banyak orang yang dengan setia mengikutinya.

Dari para pengikutnya ini, kemudian Nabi ‘Iysaa memilih orang orang yang diajaknya untuk menjadi sahabat setianya atau hawariyyun (QS. Ali Imran 52-53, As-Shaff 14) atau apostles yang bersedia menjadi penolong agama Allah.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here