Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-120)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

87
Nabi Zakariya, dengan peristiwa kehamilan istrinya maupun Maryam, harus berkali-kali menjawab pertanyaan para imam Haekal Sulaiman dan Bani Israel. Dua orang perempuan yang menjadi tanggung jawabnya. (Sumber: allthehousehold.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Injil Barnabas pasal 1 mengkisahkan bahwa Malaikat Jibril atas perintah Allah mendatangi kamar Maryam, mengucapkan salam kepada Maryam yang ketakutan, kemudian Malaikat Jibril memperkenalkan dirinya sebagai utusan Allah yang mengabarkan bahwa Maryam telah mendapat kurnia Allah, yang telah memilihnya menjadi bunda seorang Nabi yang diutus pada Bani Israel agar mereka melaksanakan hokum-hukumnya dengan kebenaran dan hati yang bulat.

Ketika Maryam bertanya bagaimana dirinya bisa mengandung sedang dirinya tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki, malaikat Jibril menerangkannya sebagai berikut:

“Bahwa Allah menciptakan manusia tanpa dari seorangpun manusia, adalah berkuasa pula menjadikan generasi manusia padamu tanpa melalui seorang lelaki, sebab bagi Allah tiadalah yang tak mungkin. Sekarang engkau telah menghamilkan Nabi Itu, kepadanya hendaklah engkau namakan Yesus, dan hendaklah engkau peliharakan dari anggur dan minuman keras dan dari segala daging yang haram, karena anak itu adalah seorang yang suci kepunyaan Allah”.

Maryam kemudian sujud kepada Allah dengan penuh kerendahan hati dan mengucapkan syukur kepada Allah.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-119)

Injil Barnabas menceritakan tentang Maryam mengandung ‘Iysaa dengan tanpa ada pertentangan dengan Al-Quran. Hal itu disebabkan para murid dan sahabat setia Nabi ‘Iysaa (Hawariyyun) hidup pada masa Nabi ‘Iysaa, Maryam dan Nabi Zakariya ketika masih hidup. Oleh karena itu para Hawariyyun sangat mungkin mengetahui kehamilan Maryam dari Nabi ‘Iysaa, Maryam atau Nabi Zakariya.

Injil kaum Kristen, Katolik dan lainnya, ditulis oleh 4 (empat) evangelic yaitu Matuis, Marcus, Lukas dan Johanes. Sedang yang mengkisahkan kehamilan Maryam dan kelahiran Yesus adalah Matius dan Lukas, yang menulis injilnya mulai tahun 70 M hingga 90 M, sedang Yesus hidup sampai pada masa sekitar 33 M.

Injil Matius dalam pasal 1 : 18 – 25 mengkisahkan bahwa ketika Yusuf (murid Nabi Zakariya), bertunangan dengan Maryam sebelum menjadi suami istri, ternyata Maryam telah mengandung dari Roh Kudus. Tidak di kisahkan bagaimana Maryam bisa mengandung dari Roh Kudus. Yusuf berniat membatalkan pertunangannya dengan Maryam dengan maksud tidak ingin mencemarkan nama istrinya dimuka umum.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-118)

Namun malaikat datang dalam mimpinya mencegah niat Yusuf karena anak di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus, dan Yusuf diperintahkan untuk memberikan nama Yesus pada anak laki-laki yang akan lahir tersebut. Sedang mereka (Bani Israel) akan menamakan dia Imanuel. Ketika bangun, Yusuf kemudian memperistri Maryam dan tidak menyetubuhinya sampai Maryam melahirkan Yesus.

Dengan demikian, injil Matius dalam kisah kehamilan Maryam terdapat dua sosok penting yaitu 1) Roh Kudus yang darinya muncul janin Yesus, 2) Malaikat (tidak disebut namanya) yang menampakkan dirinya melalui mimpi. Tidak disebutkan dimana tempat Maryam dan Yusuf ketika itu.

Sedang injil Lukas mengkisahkan sebagai berikut. Dalam pasal 1 ayat 1 – 4, Lukas menjelaskan bahwa dirinya menuliskan injil berdasarkan keterangan keterangan yang diperolehnya dari saksi saksi pelayan Firman, namun tidak menuliskan siapa saksi saksi dimaksud. Sedang tentang kehamilan Maryam diterangkannya pada pasal 1 ayat 26 – 35. Disebutkan malaikat Jibril pergi ke wilayah Galilea di kota Nazareth, menemui seorang perawan yang telah bertunangan dengan seseorang yang bernama Yusuf keturunan Dawud.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-117)

Jibril kemudian masuk ke rumah Mariyam, memberikan salam sehingga Mariam terkejut. Jibril meminta agar Maryam jangan takut, sebab dirinya telah memperoleh karunia Allah, dengan mengandung dan memperoleh anak laki-laki, dan hendaknya Maryam memberikan nama Yesus. Dia akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi, dan Allah akan memberikan karunia tahta Dawud, dan akan menjadi raja atas keturnan Yakub selama lamanya dan kerajaannya tidak akan berkesudahan.

Maryam kemudian bertanya, bagaimana hal itu akan terjadi karena dirinya belum bersuami. Malaikat Jibril menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan engkau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah”.

Perbedaan antara Injil Matius dan Injil Lukas dengan Al-Quran adalah: dalam Injil Matius anak dalam kandungan Maryam adalah dari Roh Kudus yang oleh Bani Israel dia akan disebut Imanuel. Imanuel mempunyai arti tuhan bersama kita. Yesus adalah Imanuel. Yusuf bertunagan dengan Maryam setelah mengetahui Maryam hamil janin Yesus.

Dalam injil Lukas disebutkan ketika Maryam di Nazareth wilayah galilea, telah bertungan terlebih dahulu dengan Yusuf. Saat itu Maryam masih perawan. Kemudian malaikat Jibril mendatangi Maryam, memberi tahukan bahwa Maryam akan mengandung anak laki-laki yang ketika menjadi besar akan disebut anak Allah.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-116)

Roh Kudus akan turun menaungi (melindungi) Maryam dan diperintahkan memberikan nama Yesus pada anak tersebut. Nazareth letaknya jauh di utara Yerusalem dengan jarak sekitar 160 km. Roh Kudus adalah sosok yang berbeda dari Jibril.

Sedang Al-Quran menyebut Ruh Al Qudsi adalah Jibril. Jibril bertugas menyampaikan kabar kepada Maryam bahwa Allah telah meniupkan ruh suci laki-laki (ghulaaman zakiyyan) yang harus diberi nama Al-Masih ‘Iysaa. Dalam QS. Al-Baqarah 253, disebutkan ada tugas tambahan pada Roh Kudus atau Malaikat Jibril yaitu memperkuat ‘Iysaa.

Maksud dari memperkuat adalah menjaga dan meluruskan sejak kelahiran hingga diangkat kembali oleh Allah. Sedang tempat Maryam didatangi Malaikat Jibril adalah di timur kota tidak jauh dari Yerusalem. Saat itu, Maryam masih sendirian belum bertunangan dengan Yusuf.

Maryam ketika kembali ke Haekal Sulaiman kemudian menceritakan kisahnya bertemu dengan malaikat Jibril kepada Nabi Zakariya. Setelah mendengar kehamilan itu, Nabi Zakariya tidak mungkin menyembunyikan peristiwa tersebut pada Bani Israel, sehingga kemudian menginformasikan tentang kehamilan Maryam dan menceritakan proses kehamilannya.

Bagi yang percaya kepada Nabi Zakariya maka atas kehamilan tersebut mereka melihat Maryam sebagai orang yang terpilih yang diharapkan akan melahirkan Messiah. Namun bagi musuh Nabi Zakariya, hal itu menjadi senjata untuk menyudutkan Nabi Zakariya dan menuduh Nabi Zakariya telah berbohong sekaligus menuduh Maryam telah berbuat zina.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-115)

Bani Israel yang menjadi musuh Nabi Zakariya segera menjadikan peristiwa tersebut sebagai tekanan keras kepada Nabi Zakariya. Mereka mendesaknya agar mundur dari Haekal Sulaiman dan melepaskan status imam Haekal Sulaiman. Para musuh Nabi Zakariya juga berusaha mencari siapa yang telah berzina dengan Maryam. Sampai beberapa lama dalam hitungan bulan, para musuhnya tidak dapat menemukan siapa yang telah berzina dengan Maryam.

Namun tidak diketemukannya siapa pelaku zina tidak mengurangi bahaya yang mungkin sewaktu waktu menimpa Maryam, karena sesuai ajaran agama yahudi terhadap pelaku perzinaan adalah dilempari batu sampai meninggal. Namun penduduk juga menyorot para Imam Haekal Sulaiman, karena Maryam selama ini dikenal sebagai perawan suci Haekal Sulaiman.

Para imam musuh Nabi Zakariya menyatakan Maryam telah menimbulkan aib pada Haekal Sulaiman. Namun pernyataan tersebut justru tertuju pada para imam Haekal Sulaiman yang menjadi penghuni bilik bilik Haekal Sulaiman. Situasi buntu dalam waktu cukup lama namun tetap membahayakan hidup Maryam. Bahaya dapat muncul dari orang orang yang tidak ingin Messiah lahir dari para musuh Nabi Zakariya.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here