Meretas Jalan Dakwah (Mengenang KH. Syuhada Bahri, Lc)

374

Oleh: Rahim Mayau (Dai Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) Sulawesi Selatan)

Syuhada Bahri, Lc dalam Pelatihan Dai Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) menyampaikan nasihat, “Jika di suatu tempat tidak ada dakwah maka sesungguhnya di lingkungan itu tidak ada kehidupan”.

Penggalan wejangannya menyulut gelisah dan empati yang selama ini terpendam dan hanya hadir dalam diskusi bersama istri di rumah. Resah dengan kondisi lingkungan sekitar dan peduli untuk berbuat di medan dakwah.

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Empati dan gelisah ingin berbuat di tengah-tengah umat menuai jawabannya. Daeng Sewang tetangga saya datang ke rumah dan menyampaikan, “Tenamo na angngaji anakku punna teai katte angngajaraki ustadz”.

Sebuah kalimat penegasan dalam bahasa Makassar atas keadaan dan harapan agar anaknya diajari mengaji, karena menurutnya di tempat lain tidak kondusif.

“Insya Allah Daeng Sewang, sepulang umrah bersama para Dai  Parmusi saya ajari anaknya mengaji,” demikian jawaban saya atas harapannya.

Labbaik allahumma labbaik labbaika laa syarikalaka labbaik innal hamda wanni’mata laka wal mulk la syarikalak, Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Spirit Talbiyah sepulang umrah menjadi penguat ikrar dan aksi mendirikan Rumah Quran Bani Thahir yang menjadi cikal bakal Pesantren Lorong Raudhah Indonesia.

Hamba penuhi panggilanmu, Ya Allah,  meretas jalan dakwah dari lorong dengan mengajarkan huruf demi huruf Hijaiyah, menjadikannya titian dakwah mentauhidkan-Mu, mengenali dan mengamalkan syari’at-Mu.

Segala puji bagi-Mu yang telah menggerakkan hati tetangga depan rumah untuk anaknya diajar mengaji, di saat puncak gelisah memenuhi rongga dada, ketika empati membutuhkan aksi, dan kala nasihat membutuhkan jalannya.

Nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, Engkau menghadirkan sosok Haidir Syam,  murid kelas 1 Sekolah Dasar untuk menjadi santri pertama di rumah kontrakan tempat tinggal kami.

Itulah kediaman yang kami jadikan sentra belajar Rumah Quran Bani Thahir, rumah tempat diikhtiarkannya gerakan dakwah agar hadir kehidupan yang sesungguhnya, dan tempat tersikapinya firman Allah, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung,” (QS. Ali Imran: 104).

Inna lillahi wa inna Ilaihi raji’un. Ya Allah, hari ini Jumat 17 Rajab 1442 Hijriah bertepatan 18 Februari 2022 Engkau telah mencukupkan jatah hidup dan pengabdian guru kami KH. Syuhada Bahri. Ampunilah ia, berilah ia rahmat-Mu, kesejahteraan, serta maafkanlah kesalahannya. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here