Ada Istri di Balik Sukses atau Gagalnya Suami

164

Oleh: Abdan Syakura (Aktivis Dakwah Al-Mahsyar)

Ada adagium yang menyebutkan bahwa di balik kesuksesan suami ada istri yang hebat. Namun tak pernah disebutkan bahwa di balik kegagalan suami, pun ada pengaruh istri.

Sejatinya, seorang istri memiliki pengaruh sangat besar bagi sukses atau gagalnya suami. Utamanya, ada pengaruh istri pada cara suami mencari rezeki.

Istri yang tidak bersyukur dengan nafkah yang diberikan suaminya dengan selalu menuntut lebih, besar kemungkinan bisa membuat suami melakukan pekerjaan yang tidak terpuji. Untuk memenuhi tuntutan istrinya, sang suami tak lagi peduli apakah harta itu hasil korupsi, menipu, uang riba, dan lain sebagainya.

Istri semacam ini menjadi ciri kenapa seorang suami harus berhati-hati dalam bertindak, jangan sampai tergelincir pada dosa dan maksiat.

Allah Ta’ala dalam Al-Quran telah memperingatkan lewat QS. Ath-Thaghabun ayat 14:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka”.

Mujahid menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Wanita (istri) dapat mengantarkan suami untuk memutus hubungan kerabat, berbuat maksiat pada Allah. Karena begitu cintanya sampai suami tetap menurutinya.” (Tafsir Al-Quran Al ‘Azhim, 7: 292).

Sementara Ibnu Katsir berkata bahwa istri dan anak dapat melalaikan seseorang dari beramal shalih. Maka waspadalah. Ibnu Zaid berkata, “Waspadalah jangan sampai agama kalian rusak.”

Pengaruh Suami terhadap Istri

Sebaliknya, suami juga berkotribusi besar pada terbentuknya karakter istri agar menjadi shalihah. Bahkan, tugas seorang suami lebih berat karena ia menjadi pemimpin (imam) di rumah tangganya.

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karenanya, Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tak ada,” (QS. An-Nisa [4]: 34).

Selain harus mencukupi nafkah, seorang suami harus memiliki kemampuan mendidik dan mengarahkan istri. Sehingga idealnya, seorang suami mesti memiliki pengetahuan agama dan menjadi teladan bagi istri dan anak-anaknya.

Suami menjadi penanggung jawab atas seluruh anggota keluarganya. Ia bertanggung jawab pada banyak hal, mulai tercukupinya kebutuhan, menjadi teladan dalam pendidikan akhlak, aqidah, dan syariah.

Jelasnya, seorang suami menjadi penanggung jawab kesuksesan anggota keluarganya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Ini ditegaskan dalam sebuah riwayat, “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk mengajari keluarganya, termasuk kerabat, sampai pada hamba sahaya laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (HR. Ath-Thabari, dengan sanad shahih dari jalur Said bin Abi ‘Urubah, dari Qatadah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:321)

Berkaca pada paparan di atas, maka menjadi istri yang shalihah dan suami yang shalih adalah sebuah keharusan. Kerja sama yang apik dan komunikasi yang baik antara suami-istri bisa menjadi kunci untuk membangun rumah tangga yang sakinah sehingga lahirlah anak-anak yang shalihah dan shalihah.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here