Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-94)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) f. Penglihatan Nabi Yehezkiel tentang Israel dan Haekal Sulaiman Baru. Kitab Yehezkiel 1 mengisahkan, sebelum kehancuran Yerusalem dan Haekal Sulaiman, seorang imam Bani Israel yaitu Yehezkiel bin Busi keturunan Rehabeam bin Sulaiman bin Dawud (Yehezkiel adalah leluhur Nabi ‘Iysaa), mendapatkan penglihatan dari kuasa Allah. Saat itu dia berada di Aram (Suriah) bersama orang-orang yang terbuang, di sungai Kebar (Khabur atau Habur) anak sungai Eufrat. Dengan demikian, Yehezkiel berada di tempat komunitas warga Israel Samaria yang terusir dari negerinya yang diperbudak di kota-kota di wilayah Aram. Tidak ada kisahnya bagaimana Nabi Yehezkiel ada di wilayah tersebut. Jika melihat namanya yang menggunakan bahasa Aram, maka Nabi Yehezkiel lahir di wilayah Aram, sehingga orang tua atau leluhur di atasnya telah berada di wilayah Aram. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-93) Pada tahun kelima bulan kelima setelah raja Yoyakim menjadi orang buangan di Babilonia, atau tahun kelima masa raja Zedekia, tiba-tiba di langit Yehezkiel melihat angin badai bertiup keras membawa gumpalan awan besar yang terdapat api yang berkilat-kilat sedang awannya dikelilingi sinar. Di tengah-tengah awan nampak beberapa makhluk berkepala empat bertubuh manusia. Masing-masing kepala makhluk tersebut menghadap sisi yang berbeda. Muka manusia di bagian depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di bagian belakang. Masing-masing makhluk tersebut bersayap empat yang di bawah sayapnya terdapat tangan seperti tangan manusia. Kuku kakinya seperti kuku lembu berwarna seperti tembaga yang baru digosok. Sedang di atas kepalanya terbentang seperti ada hablur es yang berkilau. Empat makhluk tersebut berjalan maju atau mundur atau ke samping tanpa membelokkan badan. Makhluk tersebut sangat besar sehingga kalau sayapnya dikepakkan suara kepakannya seperti suara air terjun yang menderu-deru. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-92) Di samping mereka, terdapat kereta beroda berkilau seperti permata pirus yang selalu mengikuti pergerakan makhluk tersebut baik ketika sedang berjalan ke depan, mundur maupun bergerak naik dan turun. Di atas kereta terdapat tahta seperti lazurite dan di atasnya duduk sosok seperti manusia yang pada bagian pinggang ke bawah terlihat api dikelilingi sinar. Awan dan cakrawala disekitar makhluk tersebut seperti bara api yang menyala dan menjilat njilat ke angkasa. Gerakan makhluk tersebut bersama kereta disampingnya menjadi suatu pemandangan yang memunculkan suara yang menggetarkan bagi yang melihatnya. Suatu pemandangan yang luar biasa yang hanya bisa dilihat oleh seeorang Nabi. Melihat pemandangan seperti itu, imam Yehezkiel kemudian sujud menyembah Allah. Kemudian didengarnya suara Allah yang memerintahkannya berdiri, karena Allah akan menyampaikan firman-Nya. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-91) [caption id="attachment_79061" align="alignnone" width="720"]
Lukisan empat makhluk berkepala empat macam dan bersayap empat dengan kuku kaki seperti kuku lembu di awan yang diilihat Imam Yehezkiel (Sumber: Alkitab SABDA)[/caption] Dalam kitabnya, Yehezkiel melukiskan apa yang dilihatnya sebagai melihat kemuliaan Allah, bukan melihat Allah. Saat itu, Yehezkiel diangkat sebagai Nabi dan akan diutus kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak kepada Allah, bangsa yang fasiq, keras kepala dan tegar hati. Bangsa yang telah menajiskan Allah dengan menyembah berhala, menajiskan Bait El, dan durhaka pada nenek moyangnya yaitu Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Yusuf dan rasul-rasul lainnya, mengabaikan kitab-kitabnya padahal tidak ada bangsa yang diberikan kitab seperti halnya Bani Israel, serta telah banyak melakukan perbuatan dosa lainnya. Nabi Yehezkiel diperintahkan pergi dan menemui bangsanya, baik mereka mendengarkan atau tidak. Kemudian apa yang dialaminya itu disampaikan kepada para pelarian dari orang-orang Israel yang berada di tepi sungai Kebar. Tujuh hari kemudian, Nabi Yehezkiel menerima firman lagi bahwa dirinya telah ditetapkan sebagai penjaga Israel, diperintahkan memperingatkan Bani Israel atas nama Allah. Dirinya diperintahkan pergi ke lembah, yang sampai di lembah tersebut Nabi Yehezkiel kembali melihat kemuliaan Allah dan mendengar suara Allah. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-90) Kitab Yehezkiel 4-10 mengisahkan, Nabi Yehezkiel terlebih dahulu harus merasakan beban berat atas hukuman yang akan dijatuhkan kepada kaumnya, yaitu dirinya akan tergeletak terbaring merasakan beban berat selama 390 hari untuk hukuman bagi kaum Israel dan 40 hari untuk hukuman bagi kaum Yehuda. Hukuman untuk kaum Israel jauh lebih berat dan lebih lama. Hukuman bagi orang Israel dan Yudea adalah didatangkan perang bagi mereka dengan didatangkannya bangsa-bangsa yang paling kejam, lalu mereka dikalahkan, dibunuh, dihancurkan kota dan tempat tinggalnya, dirampas hartanya, dihancurkan pula Bait Elnya, tempat-tempat kudusnya akan dinajiskan, ditindas diperbudak oleh bangsa-bangsa, mengalami kelaparan, dijadikan orang buangan, dijadikan buah celaan dan cercacaan bagi bangsa-bangsa. Setelah merasakan berat bebannya, kemudian pergilah Yehezkiel menemui dan mengingatkan bangsanya. Sesampainya di Yerusalem, lalu disampaikan firman Allah yang baru diterimanya, yaitu berakhirnya keempat penjuru tanah itu, sampailah kesudahan tanah itu, waktunya telah tiba. Murka Allah telah datang dan semua orang akan dihukum sesuai perbuatannya. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-89) Allah tidak akan merasa sayang dan berbelas kasihan. Dengan begitu mereka akan tahu Allah adalah tuhan mereka. Bencana demi bencana dan malapetaka akan datang silih berganti. Raja akan berkabung dan tangan seluruh penduduk negeri menjadi lemas ketakutan. Kedatangan Nabi Yehezkiel yang kemudian menyampaikan firman Allah yang akan menghukum orang Israel dan Yehuda. Peringatan Nabi Yehezkiel tentu membuat kegemparan pada penduduk Yerusalem. Yang dikatakan oleh Nabi Yehezkiel tidak berbeda dengan yang disampaikan sebelumnya oleh Nabi Yeremia. Perkataan Nabi Yehezkiel memperkuat apa apa yang telah disampaikan oleh Nabi Yeremia. Kedatangan nya membuat penduduk Yerusalem ada yang mendengarkan dan banyak pula yang tidak mendengarkannya. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-88) Satu tahun kemudian, Nabi Yehezkiel datang kembali ke Yrusalem, masih dilihatnya Bait EL dipenuhi berhala, tembok tembok Bait EL dipenuhi gambar gambar binatang melata dan binatang lain yang menjijikkan, dan dilihatnya orang-orang laki dan perempuan yang masih menyembah berhala dengan menangisi dewa tamus. Di halaman di antara balai Bait El dengan mezbah, dilihatnya sekitar dua puluh lima orang membelakangi Bait suci, sujud pada matahari yang naik dari timur. Tidak lama kemudian Nabi Yehezkiel melihat empat makhluk yang pernah dilihatnya di Sungai Kebar yang tidak lain makhluk yang wujudnya seperti kerub di Haekal Sulaiman. Nabi tersebut melihat kerub yang membawa kereta beroda yang di kereta tersebut terdapat tahta yang ada sosok seperti manusia duduk di tahta telah naik dari Haekal Sulaiman kemudian pergi ke angkasa. Nabi Yehezkiel melihat kemuliaan Allah telah pergi meninggalkan Bait El yang suci. BERSAMBUNGDapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































