Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-31)

V. Nabi Musa dan Harun, Bani Israel Pulang ke Baitul Maqdis.

99
Suku Hyksos. (Foto: archaeology wiki)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Suku-suku di wilayah Kana’an kuno sesuai perkembangan peperangan di antara negara-negara tersebut diperlakukan sebagai suku taklukkan yang harus bekerja untuk menyediakan logistik perang. Namun karena kebutuhan logistik perang tersebut, maka ketiga negara yang mengelilngi wilayah Kana’an tersebut harus menjadikan dan mendukung adanya raja-raja kesukuan untuk mengerahkan rakyatnya ke ladang ladang produksi.

Hal itu membuat suku-suku di wilayah Kana’an yang sebelumnya hidup dengan cara sangat sederhana menjadi mulai mengenal cara-cara memenuhi kebutuhan hidup secara lebih terorganisir. Yang sebelumnya tidak ada struktur kekuasaan dalam komunitas kesukuan, kemudian mulai mengenal struktur kekuasaan untuk memproduksi kebutuhan hidup dan penyediaan logistik perang. Penindasan yang dilakukan oleh negara di sekelilingnya membuat terbentuknya raja-raja lokal kesukuan.

Sebelum masa dinasti ke-XIX, yaitu Fir’aun dinasti ke-XVIII yang berasal dari suku Ahmose yang berkuasa setelah menumbangkan kekuasaan dinasti suku Hyksosdan kemudian menumbangkan Fir’aun dinasti ke-XVI dan XVII sehingga menyatukan kembali kerajaan Mesir yang telah terpecah menjadi tiga kerajaan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-30)

Sedang dinasti suku Hyksos berasal dari suku bukan suku asli Mesir. Suku Hyksos adalah suku asia yang diperkirakan berasal dari suku yang mengungsi ke Mesir ketika terjadi wabah di Asia pada masa Nabi Ibrahim. Oleh karena itu, ketika berkuasa di Mesir suku Hyksos tidak menggunakan gelar Fir’aun sebagai gelar dinasti kekuasaan. Suku Hyksos mulai menguasasi wilayah Mesir sekitar tahun 1663 SM,sering disebut sebagai penguasa dinasti ke-XV, dengan raja pertamanya adalah Seshi dan ibu kotanya di Avaris.

Meskipun telah ratusan tahun di Mesir, suku Hyksos mempunyai kultur sendiri yang berbeda dengan suku-suku di Mesir, bahkan terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal berpakaian. Perbedaan tersebut sering menjadi sebab terjadinya konflik antara suku Hyksos dengan suku-suku Mesir. Puncak konflik antar suku ini adalah ketika suku Hyksos dapat menumbangkan dinasti Mesir ke-XIV.

Namun suku Hyksos tidak menguasai seluruh wilayah Mesir karena penaklukannya berhenti di wilayah sekitar kota Memphis dan Al-Fayoum. Tidak diketahui sebab pastinya mengapa suku Hyksos tidak melanjutkan penaklukannya ke wilayah tengah hingga hulu. Akibatnya, di wilayah tengah dan hulu muncul dua kerajaan suku Mesir yang masing-masing menggunakan gelar Pharaoh atau Fir’aun.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-29)

Suku Hyksos adalah suku pertama di dunia yang diketahui sebagai suku yang menggunakan kereta kayu berkuda dalam berperang maupun untuk menggembala ternak. Dengan armada kereta berkuda tersebut suku ini dengan mudah mengalahkan dinasti ke-XIII dan dynasti ke-XIV Mesir, meskipun suku Hyksos adalah sebuah suku kecil dibanding bangsa Mesir saat itu.

Wilayah Mesir menjadi terbagi menjadi tiga wilayah kerajaan. Wilayah Selatan menjadi kekuasaan Pharaoh (Fir’aun) dynasti ke-XVI dengan ibu kotanya di Thebes. Sedang wilayah tengah dan barat Laut menjadi wilayah kekuasaan dinasti ke-XVII dengan wilayah paling kecil. Tiga dinasti Mesir yang berkembang berdampingan, namun dinasti Hyksos lebih besar dari dua dinasti lainnya. Meskipun suku Hyksos menjadi penguasa Mesir, namun masyarakat Mesir memandang suku Hyksos sebagai suku yang derajatnya lebih rendah dari bangsa Mesir.

Rakyat Mesir tidak mau makan semeja dengan orang-orang Hyksos maupun dengan Bani Israel. Rakyat Mesir bersikap rasis terhadap suku Hyksos dan Bani Israel. Kota Avaris berdekatan dengan wilayah Goshen yang menjadi wilayah berkembangnya Bani Israel sejak masa Nabi Yusuf pada sekitar 600 tahun sebelum masa Nabi Musa. Oleh karena itu, pada masa periode kekuasaan dinasti Hyksos, Bani Israel menjadi pendukung yang kuat.

Sangat mungkin dukungan kuat tersebut karena merasa sesama suku dari Asia yang berdekatan wilayah pemukimannya dan telah ratusan tahun sama-sama diperlakukan secara rasis oleh bangsa Mesir. Perekonomian Bani Israel cukup kuat dan hidup dalam kesejahteraan, karena wilayah Ghosen adalah wilayah pilihan pada masa Nabi Yusuf. Pertanian, peternakan dan perikanan berkembang sangat baik di wilayah tersebut.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-28)

Pada masa Nabi Musa, Bani Israel telah berkembang menjadi suku yang besar di Mesir. Diperkirakan jumlah penduduk Bani Israel telah mencapai satu juta lebih yang jumlah tersebut telah mengimbangi besarnya penduduk asli Mesir. Bahkan Kitab keluaran 1: 9-13 menginformasikan bahwa saat itu jumlah penduduk Bani Israel sebagai suku asing telah melebihi jumlah penduduk bangsa Mesir sehingga membuat takut bangsa Mesir. Namun ketika dinasti Hyksos jatuh, hal itu membuat Bani Israel ikut merasakan akibat yang luar biasa beratnya.

Rameses II adalah raja yang sangat lama berkuasa dan terkenal sebagai raja yang paling banyak membangun kuil-kuil pemujaan Dewa Amun, istana dan kompleks makam raja atau lembah raja. Ketika Rameses II baru selesai berperang dengan bangsa Hitti di Kadesh yang berakhir dengan perjanjian damai dan merasa tidak ada gangguan lagi terhadap wilayah kekuasaannya, maka Rameses II memulai proyek pembangunannya yang baru.

Salah satu proyek besarnya adalah memindahkan ibu kota dari Memphis ke kota Avaris yang sudah dihancurkan oleh Ahmose (pendiri dinasti ke-XVIII), yang lokasinya berada di timur delta sungai Nil bersebelahan dengan wilayah Goshen, yang kebanyakan penduduknya adalah orang-orang Bani Israel.

Pemindah ibu kota ini selain agar lebih dekat dengan wilayah jajahannya yang sering terjadi pemberontakan raja-raja kecil di wilayah Kana’an, namun juga sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk suku Israel di wilayah Goshen dan kota Avaris. Proyek lainnya adalah membangun makam makam raja maupun istana lainnya di kota Pitom, Memphis, Luxor, Karnak dan Thebes. Proyek-proyek yang bangunannya terbuat dari tanah liat yang dibakar (bata) dan batu, serta membentuk gunung batu menjadi bangunan.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here