Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-131)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

72
Lukisan Nabi ‘Iysaa memberi makanan pada 5.000 orang hanya dari 5 potong roti dan 2 ikan, namun mencukupi. (Sumber: Sangsabda.wordpress.com)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Di dalam Al-Quran juga dijelaskan jawaban jawaban Nabi ‘Iysaa atas anggapan kaumnya yang menyebut Yesus itu Allah atau anak Allah, antara lain QS. Ali Imran 51: “Sesungguhnya Allah itu rab ku dan rab kalian, karena itu sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus ”.

Kemudian QS. Maryam 34-36: “Itulah ‘Iysaa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya-Jadilah. Maka jadilah sesuatu itu -. (‘Iysaa berkata) : “ Dan sesungguhnya Allah itu rabku dan rabmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus”.

Sedang QS. Al-Maidah 115-117, menginformasikan tentang pertanyaan Allah kepada Nabi ‘Iysaa tentang anggapan kaumnya, yang dijawab oleh Nabi ‘Iysaa bahwa dirinya tidak pernah mengatakan hal tersebut pada kaumnya dan dirinya membantah anggapan kaumnya, dan dirinya hanya mengatakan apa yang diperintahkan Allah kepada dirinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-130)

14. Messiah dan utusan terakhir.

Ketika pembacaan doa oleh Yesus sudah selesai, penduduk Yudea sudah dapat disadarkan atas perbuatan dosanya dan menjadi tenang, pejabat agama dihadapan gubernur dan raja Herodes Antipas kemudian bertanya kepada Yesus lebih jauh tentang siapa diri Yesus.

Injil Barnabas pasal 96-98 mengkisahkan dialog tersebut. Ketika pejabat agama bertanya tentang dirinya, Yesus menjawab: “Aku adalah ‘Iysaa putra Maryam, dari benih Dawud, seorang manusia yang fana dan bertaqwa kepada Allah”.

Pejabat Agama juga bertanya: “Engkaukah messiah Allah itu yang kami harapkan?” kemudian Nabi ‘Iysaa menjawab: “Adalah benar bahwa Allah telah demikian menjanjikan, tetapi sesungguhnya aku bukan dia, karena dia diciptakan sebelum aku, dan akan datang sesudah aku ‘.

Pejabat agama tersebut masih bertanya lagi: “…Aku mohon kepadamu atas nama dari seluruh Yudea dan Israel agar engkau demi kasih sayang Allah akan menceritakan kepada kami betapa Messiah itu akan datang”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-129)

Kemudian Nabi ‘Iysaa menjawab: “…ketika Allah akan membawa aku pergi dari dunia itu, syaitan akan membangkitkan lagi hasutan terkutuk ini, dengan perbuatan iman yang tidak hormat kepada Allah bahwa Aku adalah Allah dan putera Allah, dari sana kata kataku dan dogma ajaran agamaku akan menjadi ditukar sudah, akhirnya bahwa akan hampir tidak ada lagi orang beriman hingga tinggal 30 orang beriman, kemudian Allah berkehendak melimpahkan rahmat ke atas dunia dan akan mengutus PesuruhNya, karena dia justru Dia (Allah) telah menciptakan semua alam, yang akan datang dari selatan dengan kekuatan, dan akan menghancurkan berhala-berhala bersama penyembah penyembah berhala, dia akan melindas kekuasaan syaitan yang telah mengatasi para manusia, dia akan membawanya serta rahmat Allah bagi keselamatan mereka yang beriman kepadanya, dan kurnia keberkatan adalah bagi orang yang akan beriman kepada perkataan perkataannya. Tiada layak aku walaupun hanya untuk membuka ikatan kaus kaki (sepatu)nya, aku telah menerima anugerah dan karunia Allah untuk mengetahui dia “.

Mendengar uraian Yesus tersebut, Gubernur roma kemudian berkata: “ …Ooo Yesus, orang suci utusan Allah, kami akan menulis kepada senat tinggi Romawi agar membuat keputusan untuk kerajaan, tak seorangpun lagi akan menyebut engkau Allah atau putera Allah”.

Nabi ‘Iysaa kemudian menjawab: “Dengan kata katamu aku tidak terhibur, karena dikala kamu mengharapkan terang cerah, justru kegelapan akan datang, tetapi hiburanku adalah dengan kedatangan Pesuruh itu, dia akan memberantas setiap kepalsuan pendapat terhadapku dan kepercayaannya akan berkembang dan akan menggenggam seluruh dunia, karena demikian Allah telah menjanjikan kepada Ibrahim bapak kita. Sedangkan yang memberikan penghiburan pula kepadaku, adalah kepercayaannya itu tidak akan mempunyai akhir, malah akan dijaga oleh Allah menjadi tak terlanggar”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-128)

Pejabat agama itu kemudian bertanya lagi: “Sesudah kedatangan Pesuruh Allah itu akankah datang nabi-nabi lain? Yesus menjawab: “Tidak akan datang Nabi diutus Allah sesudah dia, tetapi akan datang nabi-nabi palsu. Pada waktu itulah aku bersedih karena syaitan membangkitkan mereka dan mereka akan melindungkan dirinya di bawah dalih Injilku”.

Kemudian berkata pejabat agama itu: “Bagaimana akan disebut Messiah itu, dan pertanda apakah yang akan membuka rahasia kedatangannya?”. Nabi ‘Iysaa kemudian menjawab: “Nama dari Messiah itu adalah-Ahmad (Yang Terpuji) -, karena Allah sendiri yang memberinya nama itu, ketika Dia telah menciptakan ruhnya, dan menempatkannya dalam kemuliaan surgawi.

Allah bersabda, “Tunggulah Ahmad, karena demi engkau, Aku berkehendak untuk menciptakan surga, dunia itu, sejumlah besar mahluk. Aku jadikan suatu hadiah kepadamu, akhirnya siapapun yang senang kepada engkau, akan diberkati, dan siapa saja yang mengkutuk engkau, akan dilaknat.

Apabila Aku akan mengutus engkau sebagai Pesuruh-Ku, dari pertolongan dan perkataanmu akan jadi benar, bahwa langit dan bumi akan hancur musnah, namun kepercayaanmu tak akan pernah bangkrut. Ahmad adalah nama pemberkatan-Nya. Kemudian orang banyak menyahut dengan mengangkat tinggi suaranya, berkata: “Ooo Allah, utuslah kepada kami Pesuruh-Mu, ooo Ahmad, datanglah cepat-cepat untuk keselamatan dunia”.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-127)

QS. As-Shaff 6 menkonfirmasi apa yang dikatakan oleh Yesus pada kaumnya di Gilgal tersebut yaitu: “Dan (ingatlah) ketika ‘Iysaa putra Maryam berkata-Wahai Bani Israel! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad) -. Namun ketika rasul itu datang mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata-Ini adalah sihir yang nyata”.

QS. As Shaff ayat 6 adalah ayat yang turun untuk menjawab pertanyaan tentang hubungan antara Nabi Muhammad dengan Nabi ‘Iysaa dan untuk membuktikan perkataan Nabi ‘Iysaa yang sebelumnya telah mengabarkan akan datangnya pesuruhNya setelah kepergian Nabi ‘Iysaa. Namun ketika Nabi Muhammad telah datang Bani Israel malah menolak kedatangannya.

Namun firman Allah sebagaimana QS. As Shaaf 6 tersebut diingkari oleh sebagian besar dari Bani Israel. QS. As-Shaff ayat 7-9, menunjukkan adanya orang orang yang lebih dzalim dari kedzaliman orang yang membuat kebohongan terhadap (firman) Allah ketika mereka diajak untuk (meninggalkan agamanya) masuk dalam agama Islam. Mereka bahkan berusaha memadamkan agama Allah dengan ucapan ucapannya, namun Allah tetap menyempurnakan cahayaNya (agamaNya), meskipun orang yang kafir dan dzalim tersebut membencinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-126)

Allah adalah Dia yang mengutus Rasul dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya diatas segala agama. Kaum Yahudi dan Nashara berusaha mengecilkan dengan segala daya upayanya untuk menghilangkan Islam, namun Islam justru akan semakin membesar. Nabi ‘Iysaa telah mengatakan pula kepada Bani Israel bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad akan abadi meskipun langit dan bumi hancur musnah.

Gubernur, Herodes Antipas, dan para pemimpin agama dan penduduk Yudea, setelah dialog dengan Yesus kemudian pergi, namun masih tinggal sekitar 5000 orang diluar wanita dan anak anak yang lelah oleh perjalanan, mereka tidak membawa bekal, oleh karena itu mereka memakan apa saja yang ada disitu, yaitu rerumputan mentah.

Mereka kehabisan tenaga dan tidak sanggup berangkat seperti yang lain. Yesus kemudian bertanya pada muridnya, “ dimana akan kita dapatkan roti untuk mereka hingga mereka tidak kelaparan”. Andrew menjawab, “ada disini seorang anak yang mempunyai lima buah roti dan dua ikan, tetapi apa akan jadinya di antara demikian banyak orang”.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here