Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-130)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

155
Lukisan Yesus dengan duduk di batu yang agak tinggi di gilgal menyadarkan Bani Israel dan para imam agar kembali melaksankan Taurat dengan benar. (Sumber: thegospelcoalition)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Khotbah dan mukjizat Yesus juga membawa perpecahan pada kaumnya dan bahkan sebagian kaumnya justru tersesat. Kekaguman, ketakjuban, dan harapan yang kuat pada Yesus sebagai Hosanna (juru selamat) dari putra Dawud yang diharapkan menjadi Al-Masih atau Messiah (orang yang diurapi menjadi raja) yang akan menolong dan menjadi juru selamat mereka, justru muncul dalam bentuk yang di luar dugaan Nabi ‘Iysaa.

Sebagian dari kaumnya tidak mendengarkan ucapan dan nasihatnya agar kembali kepada Taurat yang benar dan menyembah Allah, namun justru tenggelam dalam pikiran pikiran dan perbuatan yang sesat (QS. Az-Zukhruf: 81-83). Mereka menyebut Nabi ‘Iysaa sebagai anak Allah dan tidak mengindahkan penjelasan Nabi ‘Iysaa bahwa dirinya adalah hamba Allah. Mereka harusnya menyembah Allah seperti dirinya menyambah Allah.

Injil Barnabas 91-95, mengkisahkan tentang asal-usul dari sebagian dari Bani Israel menyebut Nabi ‘Iysaa adalah Allah atau Anak Allah karena mukjizat-mukjizat yang ditunjukkannya. Khutbah dan mukjizatnya itu di seluruh negeri telah berpotensi menjadi gerakan besar, yang akan dapat menjadi bahaya di wilayah Bani Israel. Penguasa Romawi di Antiokia telah merekrut orang orang Israel untuk menghembuskan sebutan bagi ‘Iysaa yaitu Yesus adalah Allah atau anak Allah yang mengunjungi mereka.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-129)

Hembusan seperti itu bisa masuk ke dalam alam pikir Bani Israel karena jauh sebelumnya sebagian dari mereka juga menyebut Uzair atau Ezra adalah anak Allah (QS. At-Taubah: 30). Semakin hari hembusan itu semakin kuat. Begitu kuatnya hembusan itu sehingga menimbulkan perpecahan.

Sebagian mengucapkan Yesus adalah Allah dan sebagian lagi mengatakan Yesus adalah anak Allah. Dan sebagian lagi mengatakan dengan tidak kalah kuatnya pula dengan berkata “ Tidak, karena Allah tidak mempunyai persamaan dengan manusia dan karena itu tidak memperanakkan putera putera, tetapi Yesus dari Nazareth adalah seorang Nabi Allah“.

Perpecahan Bani Israel begitu kuatnya sehingga berpotensi menjadi huru hara besar namun tidak membahayakan imperium Roma, tetapi justru bisa semakin menghancurkan Bani Israel. Dengan telah mengkristalnya kondisi perpecahan tersebut, maka Pilatus Gubernur Roma, mengambil kesempatan untuk menanamkan jasanya pada Bani Israel.

Pilatus kemudian mengajak raja Galilea yaitu Herodes Antipas dan para imam Haekal Sulaiman untuk mengumpulkan Bani Israel untuk bertemu Yesus. Pilatus mengajak Herodes Antipas mungkin karena kakak Archelaus ini sebelumnya telah mampu membangun hubungan baik dengan Bani Israel dan Yesus yang dikenal sebagai orang Nazareth yang masuk dalam wilayah Galilea.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-128)

Mereka mengumpulkan Bani Israel dengan memakai pakaian kebesaran dan atribut imperium Roma, pakaian kebesaran dan atribut kerajaan Yudea dan tidak ketinggalan para imam Haekal Sulaiman memakai pakaian dan atribut kebesarannya pula, lengkap dengan kendaraan kereta dan kuda kudanya yang tegar serta dikawal oleh ratusan prajurit imprium Roma, maupun kerajaan Yudea dan tentara Sanhedrin (Mahkamah Agama Yahudi).

Mereka akan berusaha menenangkan golongan-golongan Bani Israel yang sudah sampai pada situasi siap untuk saling membunuh, seraya menjajikan hadiah kepada mereka yang dapat menunjukkan keberadaan Yesus yang telah beberapa lama tidak nampak di wilayh Yudea maupun Samaria. Mereka akan mengajak Bani Israel untuk menanyakan yang mereka perselisihkan langsung kepada Yesus.

Injil Barnabas 92 menginformasikan, peristiwa tersebut terjadi setelah pembunuhan Nabi Yahya dan Nabi Zakariya. Saat itu, Nabi ‘Iysaa sedang pergi ke Sinai bersama para muridnya dan melakukan ibadah puasa dan bermunajat selama 40 hari. Sedang mereka dicari cari oleh gubernur Pilatus dan para imam Haekal Sulaiman.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-127)

Usai melakukan munajat di Sinai, Nabi ‘Iysaa bermaksud kembali ke Yerusalem melalui jalan berputar melalui wilayah Yordan. Ketika mereka telah menyeberang sungai Yordan, ada orang yang melihat Yesus beserta para muridnya sedang istirahat dan menjalankan shalat di pinggir hutan rimba dekat sungai Yordan menuju ke arah Yerusalem. Orang tersebut segera berlari ke kota mengabarkan keberadaan Nabi ‘Iysaa dan para muridnya.

Tempat tersebut berada di Gilgal dekat Jericho di tempat yang dahulu kala Joshua dan Bani Israel menata batu pertanda Bani Israel telah memasuki kawasan Baitul maqdish. Kabar keberadaan Yesus dengan cepat menjalar hingga ke Yerusalem. Dalam waktu yang tidak berapa lama, tepi hutan sudah dipenuhi orang dengan memanggil manggil Yesus, “Selamat datang engkau, Ooo Allah kami !”.

Mendengar itu, Yesus mengeluh, “Enyahlah kamu dari depanku, Ooo orang orang gila, karena aku takut kalau-kalau bumi ini akan menganga dan melalap aku beserta kamu sekalian, karena kata katamu yang menjijikkan itu “. Namun orang yang datang semakin banyak dan berjejalan dan ada yang menangis histeris.

Kabar tersebut segera di dengar oleh gubernur Pilatus, raja Herodes Antipas, dan para imam agama Yahudi yang bergegas pergi untuk mendatangi Yesus dengan di kawal tentara masing-masing. Ketika sampai ditempat tersebut, mereka segera menyibak kerumunan penduduk. Yesus kemudian mendekat dengan hormat.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-126)

Namun Yesus segera berhenti karena para imam agama justru duduk berlutut dan menyembah Yesus. Seketika itu pula Yesus berteriak “ Berhati hatilah tentang hal yang kamu lakukan, pejabat agama Allah yang Maha Hidup !. Jangan berdosa terhadap Allah kita!”

Pejabat Sanhedrin itu menjawab, “Sekarang di Yudea begitu hebatnya gerakan akibat mukjijizat mukjizat engkau dan pengajaran engkau, sehingga mereka berteriak kuat bahwa engkau adalah Allah. Oleh sebab itu, terpaksalah demi penduduk itu, aku datang kemari bersama gubernur Romawi dan raja Herodes Antipas. Kami mohon kepadamu karena itu dari hati kami, agar engkau mau dengan senang hati untuk menghilangkan kehebohan hasutan itu yang ditimbulkan atas tanggapan terhadap engkau. Karena sebagian orang mengatakan engkau adalah Allah, beberapa orang mengatakan engkau adalah putera Allah, dan beberapa orang berkata engkau adalah seorang Nabi “.

Yesus menjawab: “dan kamu Ooo pejabat tinggi agama Allah, untuk apa kamu tidak memadamkan keonaran ini? Adakah engkau juga, barangkali mati kehilangan akal? Apakah nubuat-nubuat serta hukum Allah itu, telah dilalaikan. Oooo Yudea yang malang, telah diperdayakan Syaitan “.

Yesus kemudian melanjutkan kata-katanya: “Aku mengaku di hadapan langit, dan berseru kepada persaksian segala sesuatu yang bernaung di atas bumi, bahwa aku adalah orang asing terhadap semua yang telah dikatakan oleh manusia manusia itu tentang aku yaitu bahwa aku adalah lebih daripada manusia. Karena aku adalah seorang manusia, dilahirkan dari seorang perempuan, bergantung pada putusan pengadilan Allah, bahwa hidup di sini sebagai layaknya manusia-manusia yang lain, bergantung pada kesengsaraan umum.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-125)

Demi Allah pada hadiratNya jiwaku berdiri, engkau telah berdosa besar Ooo pejabat agama dengan perkataan yang telah engkau ucapkan. Mudah mudahan inshaAllah bahwa tidak akan datang pembalasan besar ke atas kota suci itu, karena dosa ini “. Kemudian berkata pejabat agama itu : “ Semoga Allah memaafkan kami, dan engkau mohonkanlah do’a untuk kami”.

Gubernur Roma kemudian bertanya tentang ketidak mengertiannya terhadap kejadian-kejadian yang tidak mungkin dari perbuatan manusia yaitu yang orang-orang Israel menyebut tentang mukjizat yang ditunjukkan Nabi ‘Iysaa, yang kemudian dijawab oleh Nabi ‘Iysaa. Setelah mendengarkan penjelasan Yesus, entah memahami atau tidak, gubernur meminta Nabi ‘Iysaa menenangkan penduduk bersama raja dan para pejabat agama.

Yesus kemudian mencari tempat yang tinggi dan mengajak pejabat agama. Injil Barnabas menginformasikan, Yesus naik pada salah satu batu dari dua belas batu yang dulu di tata oleh Yoshua, kemudian berkata pada penduduk menjelaskan tentang Allah dan sifatnya menurut Taurat yang semua perkataan Yesus dibenarkan oleh pejabat agama.

Yesus meminta Bani Israe agar bertobat atas dosa-dosanya atas penyebutan Allah yang disematkan pada dirinya. Penduduk Yudea kemudian menangis merasa berdosa dan kemudian bertobat, setelah itu memohon kepada Yesus agar berdo’a untuk keselamatan kota suci mereka. Kemudian Yesus mengangkat ke dua tangannya keatas berdo’a untuk kota suci itu dan umatnya.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here