Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-117)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

112
Lukisan Hanna mengucapkan nadzar tentang masa depan bayi yang dikandungnya disaksikan Nabi Zakariya. (Sumber: Sesawi.net)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Kritik Nabi Zakariya terhadap kehidupan para imam dapat dikonfirmasi pada penemuan arkheologis reruntuhan rumah tinggal para imam atau para pejabat agama yang sangat mewah yang terletak di kota lama sebelah barat Haekal Sulaiman.

Kemewahan kehidupan para imam Haekal Sulaiman dapat pula dilihat pada lagu rakyat yang tercantum dalam Talmud Babel (Pesahim 57.1), yang berbunyi:

Celakalah aku karena keluarga Boetus,

Celakalah aku karena budak mereka.

Celakalah aku karena keluarga Hanan,

Celakalah aku karena mantera mereka.

Celakalah aku karena keluarga Katros,

Celakalah aku karena pena mereka.

Karena mereka imam-imam besar,

Dan putra mereka menjadi bendahara

Dan menantu laki-laki mereka menjadi pengurus

Dan pelayan mereka memukuli rakyat dengan tongkat.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-116)

Dari lagu rakyat tersebut, dapat diketahui bahwa para imam besar ini justru melakukan penindasan dan kekerasan kepada rakyat baik dengan mantera atau lisan (fitnah, amarah, kebohongan), dengan pena atau tulisan (bisa berupa dakwaan atau putusan penghakiman), juga melakukan kekerasan, maupun pemerasan dan jerat riba melalui keluarganya yang menjadi bendahara atau pemungut pajak.

Para imam pekerjaan utamanya justru banyak mengumpulkan harta dengan cara menindas yang kemudian dipakai hidup bermewahan. Sedang rakyatnya justru terjerat kemiskinan, kelaparan dan terjangkit penyakit menular secara luas. Nabi Zakariya mengkritik para imam dan pejabat agama karena telah melakukan penyimpangan terhadap Taurat, risalah Nabi dan rasulnya dengan menjual ayat ayat taurat yaitu menggunakan ayat ayat taurat tetapi untuk memperkokoh jabatan, memfitnah, menindas, menghukum dan memenjarakan orang.

Zakariya mempunyai seorang saudara jauh yang salih sekaligus sahabat sesama keturunan Nabi Dawud, yaitu Imran. Karena kesalihannya dalam QS. Ali Imran 33, nama Imran disebut bersama dengan nama Nabi Adam, Nuh dan Ibrahim, yaitu:

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat”. Istri Nabi Zakariya yaitu Elizabet dan istri Imran yaitu Hanna juga kakak beradik. Dengan demikian Nabi Zakariya dan Imran adalah bersaudara ipar.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-115)

Saat itu, dengan kedatangan imperium roma sebagai penjajah ke empat, atmosfir langit kerajaan kaum yahudi sedang dilanda harapan yang besar akan segera muncul Messiah seperti Dawud yang dapat menolong bani Israel. Rakyat dari bani Israel mulai memimpikan adanya upacara yang sudah ratusan tahun tidak pernah dilakukan lagi yaitu upacara suci mengurapi messiah menjadi Krestos atau penolong, mengurapi messiah menjadi raja.

Mereka juga meyakini bahwa messiah akan muncul dari keturunan Dawud, karena Dawud adalah keturunan Yehuda. Keyakinan kaum Yahudi tentang Messiah tersebut bersandar pada nubuwah Nabi Ya’qub, yang tertulis pada Kitab Kejadian 49 : 10 yaitu “ Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia yang datang yang berhak atasnya maka kepadanya akan takluk bangsa bangsa”.

Namun, banyak diantara imam Haekal Sulaiman justru takut akan datangnya Messiah karena kawatir kedudukan mereka di Haekal Sulaiman akan goyah. Apocalipse yang berkembang pada bani Israel juga membuat Herodes khawatir atas munculnya Messiah karena akan membahayakan kedudukannya sebagai raja apalagi dirinya adalah raja yang bukan berasal dari bangsa Israel dan menjadi kuat karena dilindungi dan mengabdi pada penjajah bani Israel. Kemunculan Messiah hanya akan mengakibatkan kehancuran mereka semua.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-114)

Semuanya, baik yang mengharapkan kedatangan maupun yang tidak mengharapkan munculnya Messiah mulai mencari dan mengamati keturunan Dawud yang salih dan zuhud. Dari kitabnya mereka mengatahui bahwa Nabi Dawud lahir dari orang tua yang salih dan zuhud. Maka semua mata selalu tertuju pada kehidupan keluarga Zakariya dan Imran, yang terkenal salih dan zuhud.

Perhatian publik menjadi tekanan yang kuat bagi Nabi Zakariya dan Imran, yang berarti juga dapat menjadi ancaman bagi keselamatan jiwa mereka. Elizabet dan Hanna juga mengalami tekanan yang sama. Ketika terdengar kabar Hanna sedang hamil, maka tekanan itu menjadi semakin berat. Semua mata tertuju pada kehamilan Hanna.

Pekerjaan Nabi Zakariya menjadi semakin berat ketika tidak terduga Imran sakit keras kemudian meninggal. Keselamatan Hanna menjadi tanggung jawabnya. Hanna yang juga merasa kawatir akan keselamatan dirinya maupun keselamatan bayinya sehingga kemudian mengucapkan nadzarnya. QS. Ali Imran 35 mengabadikan nadzar Hanna, yaitu:

“(ingatlah), ketika istri Imran berkata, ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernadzar kepadaMu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepadaMu), maka terimalah (nadzar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui “. Hanna bernadzar bahwa kelak anaknya yang lahir akan diserahkan pada haekal Sulaiman menjadi abdi Allah.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-113)

Ternyata anak yang lahir dari Hanna adalah perempuan yang kemudian diberi nama Maryam. Karena yang lahir adalah seorang wanita, maka semua mata bani Israel kemudian mengalihkan pandangannya dan tidak lagi selalu menyoroti kehidupan Hanna. Tekanan pada Zakariya mulai berkurang, meskipun mata bani Israel masih tetap mengamati Elizabet.

Setelah lepas dari susuan, Hanna segera menepati nadzarnya dengan menyerahkan Maryam pada Haekal dalam pemeliharaan Zakariya, yang kemudian Nabi Zakariya membuatkan mihrab (kamar sekaligus tempat ibadah khusus) bagi Maryam. QS. Ali Imran 36-37 mengabadikan ucapan dan do’a Hanna serta peristiwa tersebut, yaitu:

“Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Wahai Tuhanku, –aku telah melahirkan anak perempuan -. Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. –Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindunganMu, untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk. Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakariya …………”.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here