Novel Santri Bad Boys Good Boys Launching dalam Silaturahmi Nasional 35 Tahun MAPK se-Indonesia

82

Judul                : Santri Bad Boys Good Boys

Pengarang       : Ilham B Saenong

Tebal               : 352 hlm

Sampul            : Soft cover, doff

Kertas              : Bookpaper (ringan, ramah membaca)

Penerbit          : Laras Pustaka

Terbit              : Agustus 2022 (Cetakan pertama)


Muslim Obsession – Penerbit Laras Pustaka meluncurkan novel Santri Bad Boys Good Boys pada Silaturahmi Nasional Alumni Madrasah Aliyah Program Khusus, di University Hotel, Yogyakarta, 22-23Juli 2022. Peluncuran ini bertepatan dengan peringatan 35 tahun madrasah unggulan yang diprakarsai oleh Menteri Agama, Prof. Munawir Sjadzali (menjabat dua periode 1983-1988 dan 1988-1993) pada tahun 1987 silam.

Novel Santri ini merupakan seri pertama dari sebuah Tetralogi yang mengisahkan pengalaman seorang anak muda yang terobsesi menjadi calon ulama, namun berakhir dengan perlawanan kolektif santri terhadap persekusi, kekerasan, dan kegagalan dalam sebuah pesantren pilot project pemerintah.

Hilman, sang tokoh utama, terhubung kembali dengan kehidupan remaja saat nyantri di pesantren menyusul berita viral Sidang Umum PBB yang mengulas kiprahnya selama dua tahun di New York. Sebelumnya dia terpilih untuk belajar di Pondok Munawwir berbekal ijazah dari madrasah sederhana dan melalui seleksi super ketat. Pesantren ini ditugaskan menjadi kawah candradimuka calon ulama dan pemimpin masa depan.

Di balik fasilitas dan beasiswa yang disediakan, dia menemukan berbagai tantangan dan keganjilan. Banyak santri bersemangat, tidak kurang yang menderita demi menjadi yang terbaik dan menghindari drop out. Hilman dan kelompok Santri Basudara berusaha bertahan dengan kiat-kiat berbahaya.

Sebaliknya, fenomena bad boys yang tidak peduli dengan misi pesantren semakin menekan yang lain. Pada titik tersebut santri dihadapkan pada pilihan apakah berkompromi atau melawan untuk memutus polarisasi dan mata rantai kekerasan di pesantren.

Kini visi dan misi madrasah percontohan untuk menyiapkan calon pemimpin dan ulama yang tafaqquh fiddin mulai terlihat dengan kiprah para alumni sebagai birokrat, peneliti, dosen,dan guru besar, maupun ulama, penyuluh agama, hingga aktivis, seniman, dan entrepreneur yang memiliki jiwa progresif dan moderat yang terus terpancar.

Bagaimana mereka saat berjuang mengatasi berbagai persoalan dan melampaui segala keterbatasan santri di pesantren kadang luput dari pengamatan dan tidak cukup mendapat apresiasi.

Setelah 30 tahun kemudian, penulisnya Ilham B Saenong yang telah bekerja di berbagai NGO nasional dan internasional, menceritakan secara hidup dan gamblang kepada pembaca.

Sebelum menulis novel, Ilham Saenong lebih dikenal dengan karya-karya serius, seperti buku Hermeneutika Pembebasan (2002), 7 Tahun Melawan Korupsi (2013), Hukum dan Kebijakan Tatakelola Pemerintahan Terbuka di Indonesia, (2014, 2016), dan Tatakelola dan Akuntabilitas Pelaksanaan TPB (SDGs) di Indonesia(2018), maupun tulisan di koran dan jurnal.

Namun jiwa aktivis dan seninya sebenarnya sudah kelihatan saat mengepalai proyek-proyek pengetahuan dan penyadaran publik seperti Sebelum Pagi Terulang Kembali (peraih Piala Citra dan Piala Maya, FFI 2014 dan Piala Dewantara Apresiasi Film Indonesia/AFI 2014) dan Kita versus Korupsi (peraih Piala Maya 2012).

Dengan sambutan alumni yang luas dan apresiasi pembaca atas Santri Bad Boys Good Boys, novel seri-seri berikutnya akan segera menyusul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here