Lailatul Qadar Bukan Malam Lailatul Qadar

378

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University)

Jangan lagi salah ucap, kalimat yang benar adalah “Lailatul Qadar” tanpa didahului kata “malam”. Jadi, bukan “Malam Lailatul Qadar”. Kalau mengucapkan “Malam Lailatul Qadar, kelihatan tidak faham apa yang diucapkan.

TRUE STORY:

Kalimat “Lailatul Qadar” (ليلة القدر), terdiri dari dua suku kata: Lail yang maknanya “malam” dan Qadar, maknanya “kemuliaan”. Lailatul Qadar berarti “malam kemuliaan”.

BACA JUGA: 7 Amalan di 10 Malam Terakhir Ramadhan

POINTERS:

1- Jadi, kalau sudah mengucapkan “Lailatul Qadar”, jangan lagi ada kata “malam” sebelum kalimat “Lailatu Qadar”. Jangan “Malam Lailatul Qadar”.

Jangan bilang: “Malam Lailatul Qadar”. Karena “Lailatul” itu artinya “malam”. Cukup mengatakan “Lailatul Qadar” tanpa kata “malam” atau kalau mau mengucapkan full dengan bahasa Indonesia, bilang saja “malam kemuliaan”. Jangan lagi “Malam Lailatul Qadar”.

2- Setelah membetulkan ucapan “Lailatul Qadar” bukan lagi “Malam Lailatul Qadar”, mari kita uber “Lailatul Qadar” atau “Malam Kemuliaan” di 10 malam penghujung bulan Ramadhan, dengan menghafal dan memperbanyak mengamalkan dzikir dan doa di bawah ini, minimal di pagi hari setelah Shalat Subuh, di siang hari setelah Shalat Dzuhur, dan di malam hari di sela sela Shalat Maghrib, Isya dan Shalat Taraweh, yang sebagian diambil dari Hadits Rasuulullaah ﷺ dan sebahagian Doa dari para ulama sebagai berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Asyhadu an laa ilaaha illallaah.

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allaah”.

BACA JUGA: Jadilah Orang Suci di Mata Allah

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العظيم

Astaghfirullaahal ‘Azhiim.

“Aku memohon ampunan Allaah, Tuhan Yang Maha Agung”.

اَلَّلهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Allaahumma innii as-alukal Jannah, wa a’uudzu bika minan-naar.

“Yaa Allaah, aku memohon kepada-Mu Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka”.

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا

Allahumma Innaka ‘afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘annaa.

“Yaa Allaah sungguh Engkau Maha Pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah kami”.

اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارِ. اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا وَ وَالِدَيْنَا وَ عَنْ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Allaahumma innaa nas-aluka ridlaaka waljannata wana’uudzu bika min sakhatika wannaar. Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa wa waalidainaa wa’an jamii’il muslimiina wal muslimaati birahmatika yaa Ar-hamar Raahimiin.

“Yaa Allaah Tuhan kami, kami memohon kehadirat-Mu anugerahilah kami Rido Mu dan Surga-Mu. Dan kami berlindung dari murka Mu dan dari siksa Neraka Mu. Yaa Allaah Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, Engkau suka Mengampuni, maka ampunilah kami dan ampunilah kedua Orang Tua kami serta kaum Muslimin dan Muslimat dengan kasih sayang-Mu yaa Allaah Tuhan yang Maha Penyayang”.

BACA JUGA: Nabi Mendengar Teriakan Orang Disiksa karena Tidak Berpuasa

3- Sayyidah Aisyah RA isteri Rasuulullaah ﷺ menuturkan:

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ:‏  تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Aisyah menuturkan bahwa pernah bertanya kepada Rasuulullaah; ‘Yaa Rasulallaah, Doa apa yang bisa aku baca ketika mengintai Lailatul Qadar?’

Rasuulullaah menjawab, bacalah: “Allaahumma, Innaka ‘afuwwun, Tuḥibbul ‘Afwa fa’fu ‘annii”

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Yaa Allah, Tuhanku, sungguh Engkau Maha Pemaaf dan Engkau Mencintai orang yang meminta maaf, maka maafkanlah aku,” (Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Ibnu Majah).

4- Usahakan selalu dalam keadaan suci, punya Wudhu. Jika Wudhu batal, Wudhu lagi meski bukan waktu Shalat.

Keistimewaan Selalu Dalam Keadaan Suci, Punya Wudhu:

a- Mendapatkan nilai “setengah Iman”, tinggal menyempurnakan setengah lainnya.  Rasuulullaah ﷺ bersabda:

الطَّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ

“Bersuci itu sebagian dari Iman,” (HR. Muslim).

BACA JUGA: Hasilnya NOL BESAR, Pahala Ibadahnya Terhapus

b- Dosa-dosa diampuni. Dengan menyempurnakan Wudhu maka dosa-dosa seakan keluar dari bawah kuku luntur bersama dengan aliran air.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الُوضُوْءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

“Siapa yang berwudhu dan dia sempurnakan Wudhunya, maka dosa dosanya keluar dari dalam tubuhnya, dan dari bawah kuku- kukunya,” (HR. Muslim 245).

c- Menjadikan orang yang lebih bertakwa.

Orang yang selalu menjaga Wudhunya, akan dicintai dan disayangi Allaah SWT dan mendapat banyak karunia-Nya. Menjaga Wudhu dianjurkan pada setiap saat, baik dalam keadaan terjaga maupun hendak tidur. Hal ini dicontohkan oleh Rasuulullaah SAW dalam hadits-hadits shahih.

Rasuulullaah ﷺ bersabda:

اسْتَقِيمُوا وَ لَنْ تُحْصُوْا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ وَ لَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

“Berpegang teguhlah kalian di jalan Allaah janganlah goyah dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan adalah Shalat dan tidak ada selalu menjaga Wudhu selain orang Mukmin,” (HR Ibnu Majah).

BACA JUGA: Apa yang Terbetik di Hati, Itulah yang Akan Allah Berikan

e- Bercahaya di Hari Kiamat. Muslim yang selalu menjaga Wudhunya, menyempurnakannya, dan memperbanyak amal solehnya, akan mendapat cahaya dan penerang di hari Kiamat kelak.

Keutamaan menjaga Wudhu ini Rasuulullaah ﷺ bersabda:

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ, فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

“Sungguh, Ummatku akan dihadirkan pada hari Kiamat dalam keadaan putih bersih bercahaya dan bersinar disebabkan bekas Wudhu, maka siapa diantara kalian yang bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan,” (HR Bukhari no.136, Muslim no.246, an-Nasai no.150, Ibnu Majah no.4282, Malik no.64 dan Ahmad no.2446).

f- Diberi balasan surga. Keutamaan menjaga Wudhu juga diberi balasan surga. Sahabat Rasul bernama Uqbah Bin Amir RA, menuturkan:

“Dahulu kami menggembala Unta, lalu malam tiba kemudian Unta saya istirahatkan dengan memberikan makanan untuknya, saat itu Rasuulullaah ﷺ berbicara dengan orang-orang, lalu saya mendengar sabdanya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Tidaklah seorang Muslim berwudhu dengan membaguskan Wudhunya kemudian Shalat dua Rakaat ikhlas mengharap ridho Allaah, maka dia akan masuk Surga,” (HR. Muslim no.243).

Penutup, mari kita berdoa: Yaa Allaah bimbing kami untuk selalu eling mengingat-Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya hanya kepada-Mu yaa Allaah.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here