Biasakan Memberi, Hindari Meminta-Minta

94

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University)

Jika punya karakter suka memberi, akan selalu berkecukupan. Sebaliknya, jika punya kebiasaan meminta-minta, maka akan selalu kekurangan.

Sebagai orang yang beriman, buktikanlah dengan rajin memberi untuk kemajuan Islam dan umat Islam dengan apa yang dipunyai, baik waktu, tenaga, pikiran dan harta.

Maka, Allah SWT pun akan memberikan imbalan yang lebih banyak, dan menyayanginya serta melindunginya.

Orang pendusta dan munafik, yang mencari makan dan jabatan dengan menjual agama, bertopeng ketaatan, Allah akan menyiksa mereka dengan ISTIDRAJ, yaitu dilambungkan dahulu ke atas dengan kekayaan, lalu dicampakkan kepada keterpurukan yang luar biasa menderitanya.

BACA JUGA: Bagaimana Kita Menghadapi Bala?

TRUE STORIES:

Mari kita lihat para sahabat Rasulullah ﷺ dalam berinfak, bersedekah, memberi:

1- Sahabat Abdurrahman Bin Auf RA menjelang Peristiwa Tabuk, yaitu mempertahankan Islam dari gempuran orang-orang yang ingin melenyapkan Islam, ia mempelopori dengan menyumbangkan harta pribadinya sebesar 200 Uqiyah Emas, senilai lebih dari Rp.2,5 Milyar.

Rinciannya sebagai berikut: 1 Uqiyah Emas = 31,7475 gram emas, maka 200 Uqiyah x 31,7475 gram emas = 6.349,5 gram x Rp.400.000,00 = Rp.2.539.800.000,-. Itu jika 1 gram emas sama dengan Rp.400.000, sementara saat ini harga emas sudah melambung tinggi.

Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan lagi 50.000 dinarnya untuk infaq Fi Sabilillah, senilai Rp.85 Milyar. Ini rinciannya: 100.000 dinar x 4,25 gram = 425.000 gram emas x Rp.400.000,00 = Rp 170.000.000.000,-. Maka, 50.000 dinar sama nilainya dengan Rp.85.000.000.000,-

BACA JUGA: Ungkapkan Kebaikannya, Abaikan Kekurangannya

2- Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ketika ingin membebaskan Bilal Bin Rabah dari perbudakan, majikan Bilal bernama Umaiyah Bin Khalaf mematok harga pembebasannya sebesar 9 Uqiyah Emas.

Tanpa berpikir panjang, Abu Bakar RA langsung menebusnya senilai hampir 120 juta rupiah. Rinciannya sebagai berikut: 1 Uqiyah emas = 31,7475 gram emas 285,73 gram x Rp.400.000,- = Rp.114.291.000,-

3- Sahabat Umar Bin Al-Khattab RA menginfakkan lebih dari Rp.200 Milyar, dengan rincian sebagai berikut: Ibnu Abdil Barr di dalam Kitabnya, Jaami’ Bayaan Al Ilmi wa Fadhlihi, menjelaskan, bahwa Sahabat Umar Bin Al-Khattab RA telah mewasiatkan sepertiga hartanya yang dimiliki untuk kepentingan Dakwah Islam, yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya lebih dari 120.000 (dinar atau dirham).

Jika dikurskan dengan nilai di atas maka nilainya adalah 510.000 gram emas = Rp 204.000.000.000,-

BACA JUGA: Don’t Stop After Ramadhan: Mestinya Witir Tidak Saat Ramadhan Saja

4- Sahabat Utsman Bin Affan RA, ketika terjadi Peristiwa Tabuk, beliau menyumbang sebanyak 300 ekor unta senilai hampir Rp.4 Milyar, rinciannya sebagai berikut: 300 ekor Unta x Rp 12.000.000,- = Rp 3.600.000.000,-.

Ditambah lagi dana hampir Rp.2 Milyar nilai dari 1.000 Dinar Emas. Rinciannya sebagai berikut: 1.000 dinar x 4,25 gram = 4.250 gram x Rp.400.000,- = Rp 1.700.000.000,-

5- Sahabat Ubaidillah Bin Utbah RA menjelaskan bahwa, ketika Utsman Bin Affan RA wafat, beliau masih mempunyai harta peninggalan sebanyak 30.500.000 Dirham dan 100.000 Dinar, bernilai sekitar Rp.7,2 Triliyun dan dihibahkan untuk dakwah Islam.

Inilah rinciannya: Di zaman Nabi ﷺ, Perak memiliki kekuatan beli yang sangat tinggi, dimana 595 gram perak = 85 gram emas. Artinya, 100.000 dinar x 4,25 gram = 425.000 gram emas x Rp.400.000,00 = Rp.170.000.000.000,-

Adapun 30.500.000 dirham x 85/595 = 4.357.143 dinar x 4,25 gram = Rp.18.517.857,8 x Rp.400.000,- atau Rp.18.000.000 x Rp 400.000 = Rp 7.200.000.000.000,00 (Rp.7,2 Triliun).

BACA JUGA: Selamat Jalan Ramadhan, Kami Akan Bersama Puasa Syawal Lagi

6- Pahala sedekah akan memberi naungan di Dunia dan Akhirat. Bagaimana membantu Ayah-Ibu dan saudara kita yang sudah wafat?

Jawabnya, adalah bersedekah atas nama mereka yang telah wafat. Rasulullah ﷺ saat ditanya oleh Sa’ad bin Ubadah RA, berdasarkan hadits riwayat Abdullah Bin Abbas RA: “Ibu dari Sa’ad bin Ubadah RA telah meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya.

Kemudian Sa’ad bertanya: “Yaa Rasulallah, ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?”

Rasulullah ﷺ menjawab: “Iya, sangat bermanfaat”.

Kemudian Sa’ad mengatakan kepada Rasulullah ﷺ: “Kalau begitu, aku bersaksi padamu yaa Rasullallah, bahwa kebun yang siap berbuah ini, aku sedekahkan untuknya,” (Hadits Sahih Riwayat Al-Imam Al-Bukhari Nomor 2756).

Inilah cara menolong orang-orang yang sudah wafat, yaitu dengan cara mengeluarkan sedekah atas nama mereka. Harta yang disedekahkan itu bisa dari harta si mayit, bisa pula dari harta saudaranya atau harta anak untuk kedua orangtuanya.

BACA JUGA: Menyucikan Diri dengan Shalat Tasbih

POINTERS:

1- Terbukti, Allah tidak pernah ingkar janji. Yang rajin memberi, Allah akan memberinya lebih banyak lagi dan melimpah berlipat lipat ganda di Dunia dan Akhirat, sesuai dengan janji Allah SWT. Maka jangan pernah ragu untuk berinfak, sedekah dan memberi jika ingin tambah kaya.

2- Sudahkah kita memberi untuk dakwah dan mengembangkan agama kita?

3- Apa yang sudah kita lakukan untuk kepentingan dan kemajuan umat Islam?

4- Kalau belum mampu memberi, janganlah merusak nama baik Islam dan umat Islam. Jangan menjual jual agama untuk cari makan. Bertopeng agama untuk jabatan.

BACA JUGA: Ramadhan Pergi untuk Silih Berganti

5- Orang yang telah meninggal, ingin dikembalikan lagi ke dunia walau hanya sebentar, agar bisa bersedekah. Hal ini dikisahkan dalam QS. Al-Munaafiquun ayat 10:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ

 “Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah…”.

6- Ada apa dengan sedekah? Mengapa mereka, yang telah meninggal tidak mengatakan: “Aku akan Shalat, aku akan Puasa, aku akan Haji atau Umroh?”. Mereka minta kesempatan kembali ke Dunia walau sebentar saja, karena ingin bersedekah.

Jawaban atas pertanyaan tersebut ada dalam Hadits Riwayat Al-Imam Ahmad: “Setiap orang akan berada di bawah naungan dan pertolongan sedekahnya, sampai diputuskan nasib mereka”.

Yaa Allaah, ampuni kami. Jika selama ini kami terlanjur berbuat dosa bukan karena kami tidak takut pada murka dan siksa-Mu yaa Allaah, tapi itu semata karena kebodohan dan kelemahan kami. Bimbing dan rahmati kami yaa Allaah. Aamiin Yaa Allah.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here