Begini Aturan Pakaian Imam Dua Masjid Suci yang Ditetapkan Saudi

607

Muslim Obsession – Para Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi diperintahkan untuk mengenakan pakaian tertentu, sebuah tradisi lama dalam budaya Saudi.

Imam dari dua masjid suci memimpin shalat di Makkah dan Madinah dengan pakaian ini, memiliki arti penting dan berfungsi sebagai simbol rasa hormat dan persatuan.

Pakaiannya terdiri dari Tobe putih, Mashlah atau Bisht, Ghutra atau Shemagh.

1. Thobe Putih

Thobe putih merupakan pakaian adat dan bagian utama dari pakaian ini. Pria di Jazirah Arab mengenakan pakaian tradisional ini. Ini melambangkan kesederhanaan dan menyoroti pentingnya peran Imam yang memimpin shalat.

2. Mashlah (Bisht)

Mashlah yang dikenal sebagai bisht dikenakan di atas thobe dan merupakan sejenis pakaian mirip jubah. Mashlah menambahkan unsur keanggunan pada pakaian dan meningkatkan kehadiran Imam selama shalat. Warna mashlah bisa bermacam-macam.

3. Ghutra atau Shemagh

Selain thobe dan mashlah, Imam Haramain memakai ghutra putih atau shemagh merah di kepalanya. Pilihan di antara keduanya mencerminkan preferensi pribadi, dan keduanya memiliki makna budaya di Jazirah Arab.

Ghutra, sering kali dikenakan dalam warna putih, melambangkan kemurnian dan kerendahan hati, sedangkan kain merah melambangkan tradisi dan warisan.

Aturan berpakaian ini tidak hanya eksklusif bagi Imam Ka’bah, tetapi juga umum di kalangan menteri, ulama, dan lapisan di Arab Saudi. Kode berpakaian ini juga merupakan tanda hormat. Umat Islam di seluruh dunia sangat mengenali pakaian ini.

Aturan berpakaian yang ditetapkan untuk para Imam Haramain mencerminkan tradisi dan nilai-nilai abadi yang mendefinisikan budaya Saudi.

Dari thobe putih yang melambangkan kesucian hingga mashlah yang elegan dan penutup kepala yang khas, setiap elemen pakaian membawa makna budaya dan agama, mewujudkan tradisi, rasa hormat, dan kepemimpinan spiritual bagi jamaah di seluruh dunia.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here