Alasan Gus Mus Masih Aktif Bermedia Sosial

60

Jombang, Muslim Obsession – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri salah satu ulama NU yang sampai saat ini masih aktif bermedia sosial, meski usianya sudah mencapai 77 tahun.

Gus Mus terlihat setiap hari Jumat mengunggah kalimat-kalimat sarat hikmah. Pengikut setiap media sosialnya yang dimiliki juga tak sedikit, akun twitternya diketahui punya follower 2,4 juta lebih.

Gus Mus menegaskan, bahwa tokoh masyarakat, kiai, ulama, dan santri tidak boleh anti terhadap media sosial. Pasalnya, media sosial saat ini punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia.

Sementara menurutnya, orang yang saat ini menguasai media sosial masih didominasi oleh orang-orang yang tidak punya ilmu memadai, terutama dalam bidang pengetahuan agama.

“Makanya saya meskipun diolok-olok sama orang-orang, terutama oleh kiai-kiai, saya tetap masuk sana (aktif bermedia sosial), saya facebookan, saya instagraman, saya twitteran,” katanya saat mengisi ceramah agama pada Haflah Iftitah Dirosah Pesantren Al-Aqobah Jombang, Jawa Timur, Senin (4/7/2022).

Dunia saat ini sudah terasa sempit.

Masyarakat sekarang tidak perlu susah payah bila hendak mengetahui isi dunia. Cukup dengan gawai, mereka sudah bisa menyelami isi dunia. Media sosial adalah salah satu cara masyarakat bisa mengetahui informasi atau peristiwa apapun yang terjadi di dunia ini.

Sementara itu informasi yang berseliweran di media sosial tidak selalu bermanfaat dan berdampak baik untuk kehidupan manusia. Karena tidak sedikit pula isinya hanya fitnah yang membahayakan terhadap kehancuran nilai-nilai kemanusiaan.

“Ini kalau sudah menjadi marak dan itu dipegang oleh setiap orang, padahal yang menguasai medsos itu orang-orang yang nggak jelas, pendidikannya nggak jelas sanadnya, bisa rusak,” jelas Gus Mus.

Menurut Gus Mus, media sosial tidak boleh dianggap remeh. Kiai dalam pandangannya harus aktif mengisi ruang-ruang media sosial dengan pengetahuan-pengetahuan agama, khususnya yang saat ini dibutuhkan masyarakat luas.

Kiai atau ustadz dari kalangan pesantren tidak cukup dengan hanya bermodal fasih baca dan bahkan hafal Al-Qur’an dan banyak hadits, sekaligus memahami kandungannya. Ustadz saat ini juga dituntut mewarnai media sosial dengan disiplin ilmunya.

“Jangan dikira remeh itu, ada ustadz yang misuhnya (provokasi) fasih, punya santri banyak, jangan dikira yang punya santri itu yang fasih Al-Qur’an dan hadits saja,” ungkapnya.

Nasihat orang Jawa ‘sing waras ngalah’ menurut kacamata Gus Mus sudah tidak relevan pada zaman digital seperti sekarang. Waras dalam konteks ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu mumpuni tapi tidak berperan aktif membagi ilmunya di media sosial di tengah banyaknya informasi yang tidak benar sengaja dibagikan oleh orang-orang tak berilmu.

“Saya katakan, sekarang bukan zamannya orang yang waras ngalah. Nasihat itu sekarang tidak berlaku, nanti kalau yang waras ngalah, yang tidak waras merasa paling waras,” tuturnya. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here