Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-155)

Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-155)
Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) Konsep ketuhanan Kristen yang menjadikan Yesus sebagai Anak Tuhan membuat orang orang yang dahulunya menyembah dewa yang tidak pernah nampak wujudnya kecuali patung-patung berhala yang dibuat manusia, menjadi alternatif sesembahan yang dapat ditelusuri wujud dan hasil karyanya di dunia. Ketika Yesus di dunia, Yesus dapat menunjukkan kehebatan kehebatan mukjizatnya yang dapat dilihat secara nyata. Menyembuhkan penyakit ribuan orang sekaligus, menurunkan makanan dari langit, membagi makanan yang hanya sebakul dapat mencukupi kebutuhan orang banyak, dibunuh tetapi tidak ada bukti mayatnya dan kemudian muncul menampakkan diri dibanyak tempat, menjadi fenomena adi duniawi yang mampu menerobos akal manusia yang mempercayai adanya dewa-dewa dari patung yang ketika dikalahkan oleh dewa lainnya ternyata tidak mampu bangkit lagi. Benak pikiran banyak orang sudah mulai meragukan eksistensi dewa-dewa yang hanya bisa dilihat dari wujud patung yang dibikin manusia sendiri yang antar dewa sesembahan saling mengalahkan sehingga semakin sulit untuk menjawab suatu pertanyaan sederhana, apakah para dewa itu memang ada dan berkuasa atas dunia. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-154) Karena banyaknya dewa yang berbeda, maka simbul para dewa tersebut ikut terlibat berperang dengan perang dari bangsa penyembahnya. Bangsa yang memenangkan perangnya membuat eksis para dewanya. Hal itu membuat jadi paradoksal, yang menentukan kehidupan di alam semesta ini sebenarnya para dewa ataukah manusianya. Pada saat itu, agama Kristen menawarkan suatu hal yang baru. Tuhan Kristen di yakini telah memberikan bukti-bukti kehebatannya di dunia dan meninggalkan ajaran yang lebih rinci yang dapat dipedomani dan dimanfaatkan oleh bangsa apapun. Agama Kristen dengan demikian siap merambah dunia menggantikan sesembahan yang lainnya. Ajaran agama Kristen meskipun eksistensinya tidak bisa lepas dari kitab agama Yahudi, namun lebih siap dibanding agama Yahudi untuk dianut oleh bangsa lain. Kitab-kitab Yahudi justru nampak terlampau terikat pada kebangsaan Israel, karena untuk memeluk agama Yahudi harus melalui syariat yang mengisraelkan kebangsaan lain terlebih dahulu. Kristen sebagai agama baru tidak terikat oleh status suku bangsa dan wilayah, Tuhannya dan syariatnya tidak mempersyaratkan masuk dalam kesukuan atau kebangsaan Yunani atau bangsa Israel. Kitabnya menjadi bukti tertulis atas perbuatan dan hasil karya mukjizat anak Tuhan ketika di dunia. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-153) Ajaran dari kitabnya dengan mudah menerobos eksistensi dan pikiran tentang dewa Yunani dan Roma yang sudah mulai rapuh dan goyah, sekaligus menembus sekat-sekat kesukuan dan wilayah. Yesus sebagai anak Tuhan mampu memberikan jawaban yang menusuk ke akal dan hati manusia saat itu yang kemudian secara perlahan dan pasti merobohkan patung patung dewa Yunani dan Roma dari benak manusia saat itu yang berada di wilayah lintasan dakwah Paulus. Meskipun Kitab agama Yahudi juga menunjukkan hal yang sama tentang perbuatan Tuhan melalui mukjizat rasulnya, namun kitab agama Yahudi sangat terikat pada kebangsaan Israel sehingga tidak diminati oleh bangsa bangsa lainnya. Dari Antiokia Kristen dengan cepat berkembang ke wilayah Syam, dari Tarsus dengan cepat berkembang ke seluruh wilayah Asia Kecil dan merembes ke wilayah Makedonia dan Yunani, kemudian ke Ptolemais, Kaisarea terus menerobos ke Yerusalem tempat asal Yesus. Kristen dengan cepat berkembang di wilayah timur dan selatan imperium Roma, kemudian menyebar ke Roma, yang awalnya di dakwahkan sendiri oleh Paulus. Meskipun Paulus selama di Roma dikenakan tahanan rumah, namun banyak orang yang mengunjunginya kemudian memeluk agama Kristen. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-152) Yesus yang dilahirkan sebagai orang Israel dan beragama Yahudi yang memiliki kelengkapan berupa kitab suci dari banyak nabi dan rasul. Agama Yahudi telah memiliki tradisi yang berumur lebih dari seribu tahun bahkan pernah merasakan hukuman yang berat dari Allah karena telah bersikap murtad dan kafir terhadap rasul Allah. Meskipun bangsa Israel telah terusir dari negerinya namun tetap bertahan dan mampu bangkit lagi di negeri bangsa lain. Eksistensi agama dan kitab Yahudi tidak bisa dihapus dari eksistensi Kristen, karena kitab agama Yahudi diambil secara utuh menjadi bagian pertama dari bible Kristen, yang disebutnya Perjanjian Lama sedang kitab injil empat evangelic menjadi bagian kedua. Sedang dari Injil Kristen ini kemudian muncul sosok tuhan baru yang sebelumnya lahir sebagai manusia yang dikandung oleh perawan suci yang tidak pernah bersentuhan dengan lelaki. Bagian pertama kitab bible Kristen adalah kitab agama Yahudi yang disebut oleh kaum Kristen dengan sebutan Perjanjian Lama, adalah kumpulan dari kitab Taurat dan Kitab nabi-nabi lainnya yang kesemuanya terkait dengan sejarah bani Israel dan kaum Yahudi. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-151) Dalam kitab kitab ini, bani Israel dan kaum Yahudi hanya mengenal satu Tuhan yaitu Allah atau Elloh, yang sering disebut dengan singkatan EL. Bagian kedua kitab bible Kristen adalah injil Kristen yang memunculkan Yesus sebagai Anak Tuhan. Dua sosok Tuhan yang akan menjadi titik krusial perbedaan pehaman teologis kaum Kristen. Setelah berkembang sekitar dua ratus tahun, mulai muncul perbedaan persepsi atau tafsir tentang Yesus sebagai putra Allah yang dilahirkan sebagai manusia oleh perawan suci Maria. Sangat wajar, apabila muncul perbedaan tafsir dari para imam, pendeta dan pemikir Kristen tentang Yesus sebagai Tuhan. Karena tafsir tersebut mengenai Tuhan, maka setiap tafsir yang diakui dan mempunyai pengikut dalam jumlah besar maka tafsir tersebut eksis menjadi aqidah Kristen. Karena menyangkut pemahaman tentang Tuhan, maka perbedaan keyakinan aqidah tentang Yesus sebagai Tuhan diantara para pemeluk Kristen tidak mungkin bisa dipertemukan. Jika seseorang beralih keyakinan aqidah akan disebut murtad oleh keyakinan aqidah yang dianut sebelumnya. Perbedaan keyakinan aqidah kekristenan tersebut bermula dari munculnya pemikiran tentang hakikat Yesus. Arius yang hidup pada masa sekitar 256 M – 336 M, pemikir Kristen dari Alexadria, mengemukakan pemikiran teologisnya bahwa Yesus adalah putra Allah karena diperanakkan oleh Allah di dalam waktu. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-150) Oleh karena itu keberadaannya berada dalam lingkup waktu. Yesus tidak sama dzatnya dengan Allah, lebih rendah dari Allah sehingga tidak sama sifat kekekalannya dengan Allah. Logos adalah mahluk Ilahi yang diciptakan Allah dan merupakan subordinasi Allah. Arius menyandarkan pemikirannya pada Kitab Amsal Sulaiman 8: 4–36, dengan mentafsirkan kata-kata: "aku yang diciptakan sebelum alam diciptakan" adalah sosok Yesus, dimana Tuhan telah menciptakan Yesus sebagai permulaan pekerjaan Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama sebelum menciptakan bumi. Jadi Yesus adalah ciptaan dari perbuatan pertama Allah. Teologi Arius kemudian dikenal dengan madzab Arian. Arius pada dasarnya membangun kontinyuitas antara agama Yahudi dengan Kristen dengan menterjemahkan ayat pada kitab Amsal Sulaiman. Yesus sebagai benih Dawud, namun hakikatnya dzatnya diciptakan terlebih dahulu mendahului penciptaan manusia Adam. Pemikiran teologis Arius ini kemudian di dukung oleh Uskup Kaisarea yaitu Eusebius. Bagi Eusebius, Yesus berasal dari sosok Logos yang mendaging yang mempunyai sifat ketuhanan yang sifat tersebut berasal dari pemberian Allah. Ketika Haekal Sulaiman dihancurkan, Tuhan telah meninggalkan Yerusalem, meninggalkan agama Yahudi, yang keberadaan dan posisi Haekal Sulaiman telah diambil alih Logos. Kristen adalah agama pengganti agama Yahudi yang telah dihancurkan Allah. BERSAMBUNG