Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-152)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

45
Lukisan garnisun Roma di dalam kota diserang penduduk Yerusalem. (Sumber: pinterest)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Dengan penulisan Injil ini, pada awalnya injil Matius, Markus dan Lukas diajarkan pada kaum Kristen di wilayah Yudea dan Samaria yang hidup berdampingan dengan penduduk Bani Israel. Karena adanya kontinyuitas pada injil Matius, Markus dan Lukas dengan keimanan Bani Israel membuat pengajaran mereka tidak menimbulkan gesekan dengan mereka.

Sedang Yohanes mengajarkan Injilnya pada kaum Kristen di wilayah Asia Kecil dan Syiria. Dengan demikian juga tidak menimbulkan gesekan dengan Bani Israel. Dengan munculnya empat Injil tersebut maka Kristen telah mempunyai kitabnya sendiri, menjadi agama yang berbeda dengan agama Yahudi maupun Nashara.

Namun demikian, setelah beberapa ratus tahun kemudian, yaitu setelah konsili Nicaea pada tahun 325 M, empat injil tersebut yang berbahasa Yunani yang secara historis maupun teologis membutuhkan pondasi dari Kitab suci agama Yahudi yaitu kitab Tanakh, maka kemudian dilakukan penerjemahan Kitab Tanakh dari Bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani. Kitab terjemahan ini kemudian disebut Septuaginta atau Perjanjian Lama yang menjadi bagian pertama dari Perjanjian Baru.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-151)

25. Larangan yang menghancurkan kaum Yahudi.

Telah berjalan sekitar 50 tahun sejak penghancuran Haekal Sulaiman dan kota Yerusalem, tidak ada gejolak yang berarti pada Bani Israel di wilayah Samaria dan Yudea. Mereka sudah terbiasa beribadah di sinagoga dengan mempedomani Misyna, berdampingan dengan kaum Nashara yang juga berkembang dalam eklesianya. Demikian pula kaum Kristen juga dapat berkembang tanpa menimbulkan gesekan dan gejolak.

Pada tahun 118 M, Kaisar Roma, Publius Aelius Hadrianus menjadi kaisar imperium Roma. Hadrianus suka berkeliling ke banyak wilayah termasuk wilayah jajahannya dalam suatu rombongan besar untuk menunjukan soliditas kekuasaannya sekaligus berusaha memperoleh simpati penduduk seluas luasnya.

Dalam setiap kunjungannya, selalu memunculkan pernyataan dukungan penduduk atas kekaisarannya. Karena begitu luasnya wilayah yang ingin dikunjunginya, baru pada sekitar tahun 130 M, Hadrianus sampai di Yerusalem yang kotanya masih banyak reruntuhan batu yang tidak enak dipandang.

Hanya sedikit tentaranya yang ada di kota itu. Namun ketika dipandangnya reruntuhan haekal Sulaiman yang sebelumnya terkenal sebagai tempat suci dan identitas bangsa Israel dan agama Yahudi, yang telah 60 tahun dibiarkan menjadi reruntuhan, Hadrianus berkeinginan membangun kembali Yerusalem namun dengan menjadikan kompleks Haikal Sulaiman sebagai pusat penghormatan dewa dewa capitol Roma.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-150)

Hadrianus juga ingin menempatkan patungnya di sana tanpa berpikir tentang reaksi Bani Israel atas keinginannya merehabilitasi kota Yerusalem agar dapat ditempati lagi layaknya sebagai kota metropolis yang indah yang menyenangkan. Pembangunan itu sendiri tentu akan membuat perekonomian di Yerusalem akan tumbuh lagi.

Tidak hanya sekedar membangun, Hadrianus juga ingin merubah tradisi religius Bani Israel agar dapat mendukung modernisasi kota Yerusalem serta dapat mengikuti tradisi Yunani dan Roma yang dianggapnya sebagai tradisi modern.

Pada tahun 131, Hadrianus menerbitkan aturan untuk Bani Israel. Ajaran Taurat, sunat dan pengangkatan rabbi Yahudi dilarang, karena praktik tradisi taurat akan menghalangi proses modernisasi. Sunat dianggapnya praktik ibadah yang biadab. Untuk mencegah protes penduduk yang luas, pertemuan umum dilarang.

Peraturan itu sama dengan pembubaran agama Yahudi sekaligus menghapus identitas kebangsaan Israel, karena penyebutan bangsa Israel dan agama Yahudi tidak bisa dipisahkan. Tidak ada bangsa Israel jika tidak ada agama Yahudi. Peraturan itu merupakan palu godam bagi Bani Israel secara keseluruhan, yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-149)

Sudah tujuh ratus tahun mereka dijajah, namun keputusan Hadrianus adalah keputusan yang paling mematikan. Bahkan Bani Israel yang paling moderatpun tidak akan mampu mencari jawaban untuk dapat menerima keputusan tersebut.

Mereka yang paling tipis imannya pun, yang takut mati, tidak lagi mempunyai harapan, dan akan bersedia melakukan sesuatu meskipun kematian akan menjemputnya. Lambat atau cepat akan terjadi pemberontakan dari Bani Israel. Namun bangsa ini telah belajar dari penghancuran kota dan baitnya pada tahun 70 M.

Mereka tidak langsung berteriak teriak di jalanan, namun mereka mulai mengorganisir kekuatannya. Para imam dan rabbi Yahudi mengabaikan perbedaan sektenya. Semua sekte Yahudi termasuk Nashara Awal bersatu, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan. Bani Israel mendukung Simon Bar Koseba atau bar Kokbha seorang mantan tentara untuk memimpin mereka melakukan pemberontakan sebagai upaya merdeka dari penjajahan Roma.

Pemberontakan dimulai dari kota Yerusalem. Tentara Roma di kota tersebut di serang dari segala penjuru oleh penduduk. Akhirnya, garnisun Roma yang jumlahnya sangat terbatas terpaksa keluar dari kota dan pergi dari Yerusalem.

Kaum Kristen gentile melihat peritiwa terusirnya tentara Romawi dari Yerusalem sebagai pertanda akan terjadi perang besar. Kaum Kristen mulai meninggalkan kota kota yang menunjukkan adanya konsentrasi penduduk yang siap berperang. Namun Bani Israel menghindari peperangan terbuka berhadap hadapan melawan prajurit Roma, mereka melakukan perang gerilya, sehingga perang akan berlangsung lama.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-148)

Pada awalnya Bar Kokhba memenangi beberapa pertempurannya, sehingga Bani Israel semakin yakin bahwa Bar Kokhba sangat mungkin adalah Messiah yang ditunggu-tunggu. Namun pertempuran yang panjang pada akhirnya menemui kesulitan dalam penyediaan logistik perang.

Pada saat Bani Israel mulai mengalami kesulitan menjaga ketahanan kekuatan tempurnya, tentara Romawi mulai melakukan serangan balik. Hadrianus mengirim tentara dalam jumlah besar dipimpin Sextus Julius. Berawal dari kejatuhan benteng Galilea, kemudian kota dan desa di Samaria dengan cepat berjatuhan, dan pada akhirnya perang sampai ke wilayah Yudea.

Kota Yerusalem yang masih belum mempunyai tembok benteng langsung diserbu oleh tentara Roma bagaikan air bah yang tiba tiba datang tidak bisa dibendung. Namun bagi Bani Israel, perang ini adalah perang penghabisan karena mempertahankan identitas kebangsaan sekaligus agama. Mati atau musnah. Tidak ada kata mundur dalam perang yang brutal pada masa itu.

Sejarah mencatat pada tahun 135 M, perang pemberontakan Bani Israel selama lebih kurang tiga tahun dipimpin oleh Bar Kokhba tersebut, tantara imperium Roma telah menghancurkan dan membakar habis 50 benteng dan 985 desa, tidak kurang dari 580.000 orang dari Bani Israel terbunuh dan Simon Bar Kokbha terbunuh.

Kurban sebesar itu, untuk peristiwa perang pada masa itu tergolong kurban yang sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Yerusalem yang sebelumnya sepi kemudian berubah jadi kota mati. Kota-kota dan desa-desa lainnya menjadi kota yang hampir kehabisan penduduk. Banyak ladang dan perkebunan menjadi meranggas tidak terurus.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here