Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-58)

Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-58)
Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) Sejak menjadi penghibur Saul, Dawud kemudian menjadi penghuni istana. Jika Saul pergi berperang, Dawud selalu mengikuti dan bahkan ikut pula berperang. Dawud bahkan menjadi kesayangan dari putera mahkota kerajaan Israel, yaitu Jonathan bin Saul dan mereka berdua sangat bersahabat. Karena kuatnya persahabatan di antara mereka, sehingga Jonathan berpesan kepada Dawud, jika dirinya mati dalam peperangan agar Dawud memperhatikan dan menolong anak-anaknya, yang disanggupi oleh Dawud. 5. Dawud melawan Jalut (Goliat). Peperangan paling berat yang dihadapi oleh Bani Israel saat itu adalah menghadapi suku Filistin yang pusat kekuatan sukunya berada di wilayah Gaza, namun puak-puak sukunya banyak tersebar di wilayah Bani Israel. Pertempuran dengan suku Filistin menjadi sangat berat karena persenjataan dan perlengkapan perang suku Filistin lebih modern disebabkan kemampuan suku Filistin mengolah logam besi dan perunggu untuk dijadikan peralatan dan perlengkapan perang dibanding senjata dan perlengkapan perang yang dimiliki oleh Bani Israel. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-57) Dalam pertempuran di banyak medan pertempuran, Bani Israel sering mengalami kekalahan dan tidak pernah menang di wilayah Gaza. Dalam suatu pertempuran yang melelahkan di wilayah Yehuda di Sokho, Allah menguji tekat dan disiplin Bani Israel. Ketika Bani Israel dalam keadaan terdesak sehingga perlu mundur ke tempat yang lebih aman, harus bergeser tempat menujus uatu lembah yang memisahkan dua perbukitan, namun kemudian terhalang oleh suatu sungai, sehingga harus menyeberang. Dalam situasi melelahkan dan menguji mental tersebut, Allah justru menguji keimanan Bani Israel, seperti yang dikisahkan dalam Al-Baqarah ayat 249, dimana Thalut (Saul) memperingatkan bala tentaranya, yaitu: Maka Ketika Thalut membawa bala tentaranya, dia berkata, Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka siapa yang meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan siapa yang tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Namun mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-56) Ternyata hanya sedikit yang taat dengan peringatan Saul, dan ketika sedang menyeberangi sungai banyak bala tentara Bani Israel justru banyak meminum air sungai. Karena minum secara tidak terkontrol dan kenyang air justru membuat badan terasa semakin Lelah dan semangat semakin kendor. Setelah menyeberang, ketika Bani Israel berkemah dan beristirahat di bukit yang terdapat lembah Tarbantin, semangat tempurnya menjadi kendor karena kelelahan. Sedang suku Filistin berkemah dan beristirahat di bukit di seberangnya, di wilayah antara Sokho dengan Azeka di Efes Damin. Jarak perkemahan kedua pasukan cukup jauh, sehingga mereka dapat beristirahat dengan tidak terlampau khawatir menghadapi serangan mendadak dari salah satu pihak. Dalam situasi masing-masing dalam keadaan Lelah, namun suku Filistin merasa dalam keadaan lebih kuat, kemudian menawarkan adu jago untuk menyelesaikan pertempuran yang panjang. Suku Filistin menujuk jagonya yang berukuran tubuh besar di luar ukuran manusia normal, bersenjata lembing besi yang ditaruh di bahu dan tombak panjang dari besi yang mata tombaknya besar, memakai penutup kepala dari tembaga, berbaju zirah dari tembaga yang diatur seperti sisik ikan dan penutup kaki dari tembaga pula. Karena besar ukuran tubuhnya, mereka menjuluki Goliat atau yang dalam bahasa arab disebut Jalut. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-55) [caption id="attachment_77295" align="alignnone" width="720"] Ketika dari Bani Israel tidak ada yang berani menerima tantangan, Dawud menemui Saul menawarkan diri untuk menerima tantangan Jalut. (Sumber: Alkitab SABDA)[/caption] Tantangan bala tentara Filistin yang memajukan Jalut membuat Bani Israel kebingungan karena merasa tidak akan ada orang dari bala tentara Bani Israel yang dapat menandingi dan mengalahkan Jalut. Kitab 1 Samuel 17 menuliskan, secara tak terduga Dawud yang selama itu lebih dikenal sebagai penghibur raja dikala gundah, tiba-tiba berkata: “Siapakah orangFilistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan Allah yang hidup?”. Dengan cepat perkataan Dawud menyebar ke seluruh pasukan sehingga kakak Dawud yaitu Eliab juga mendengar perkataannya, yang kemudian menegurnya. Eliab mengetahui bahwa adik bungsunya itu pemberani dan khawatir adiknya akan maju melawan Jalut. Perkataan Dawud akhirnya juga didengar oleh Saul, dan kemudian menyuruh memanggil Dawud. Saul berkata: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu dan melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit”. Tetapi justru Dawud berusaha meyakinkan Saul dengan berkata: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan Allah yang hidup. Tuhan telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang. Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu”. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-54) Kemudian Saul berkata: “Pergilah! Tuhan menyertai engkau”. Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Dawud. Namun Dawud setelah mengenakan baju perang itu justru merasa tidak bisa bergerak, sebab tidak pernah memakai baju perang, dan kemudian berkata kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya”. Kemudian ia menanggalkannya. Lalu Dawud mengambil tongkatnya, pergi ke sungai mengambil lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, sedang umbannya (ketapel) dipegang di tangannya. Demikianlah kemudian Dawud maju ke gelanggang dengan kesederhanaannya seperti seorang gembala kambing domba, yang tidak membawa senjata layaknya prajurit membawa senjata dan peralatan tempurnya. Ketika Dawud maju ke medan laga, maka Bani Israel serentak berdoa sebagaimana yang di ceritakan dalam QS. Al-Baqarah ayat 250: “Dan Ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”. BERSAMBUNG

Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group