Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-114)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (masjidil aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

97
Lukisan pasukan Hanibal, dengan membawa pasukan gajah menyeberang pegunungan Alpen. (Foto: Britannica)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Hanibal memenangkan perang di Trebia, danau Trasimene dan Cannae. Roma kemudian merubah strateginya tidak langsung menghadapi pasukannya Hanibal, namun menyerang aliansi Kartago di eropa lainnya. Roma dapat menaklukkan Hispania dan menyapu kepulauan Sisilia yang masih terdapat pangkalan militer Kartago. Dengan menguasai dua wilayah tersebut, kemudian Roma berlayar ke Afrika Utara.

Melihat gerak pasukan Roma tersebut, Kartago memanggil pulang Hanibal. Akhirnya pasukan Roma berhadapan dengan pasukan Hanibal di Zama dan Roma sukses menaklukkan Hanibal. Akibatnya, Roma banyak menguasai wilayah Kartago hingga tinggal kota Kartago dan wilayah di sekitarnya. Kartago menyerah dan harus membayar upeti.

Namun perang belum selesai. Pada tahun 157 SM, seorang senator Roma yaitu Marcus Cato memimpin delegasi dagang ke kota Kartago. Didapatinya Kartago telah menjadi kota yang selain mempunyai kekayaan yang melimpah namun kota tersebut juga dilengkapi kekuatan tentara dengan senjata dan amunisi yang memadai.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-113)

Berawal dari tujuan membangun hubungan perdagangan berubah menjadi kekhawatiran akan munculnya kekuatan baru Kartago yang suatu saat akan membahayakan Roma. Segera setelah pulang, Marcus Cato menyerukan pada seluruh senator agar Roma mempersiapkan diri untuk menyerbu sebelum Kartago bangkit semakin kuat dan membahayakan Roma.

Cato sudah meninggal ketika pada tahun 149 SM kapal kapal Roma berlayar ke Kartago. Yang dilaporkan Cato benar. Pasukan Roma membutuhkan waktu tiga tahun berperang untuk menundukkan Kartago, dan kota kemudian dibakar. Perang ini disebut perang Punic III.

Di tempat yang lain, pada tahun 148 SM, berawal dari perjanjian yang gagal dengan orang orang Sparta, dan penganiayaan atas delegasi Roma di kota Korintus, Roma kemudian mengirim tentaranya ke Yunani. Pasukan Yunani di Korintus dibuat kocar kacir dan kota Korintus dibakar dan dihancurkan rata dengan tanah.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-112)

Lukisan gladiator wanita.

Tidak hanya berhenti di Korintus, tantara Roma bergerak mengalahkan kota kota lainnya, hingga akhirnya Kerajaan Makedonia di taklukkan oleh tentara Romawi. Tabiat tentara Romawi jika mengalahkan musuhnya adalah membakar kota. Penaklukan Kartago dan Makedonia menjadi awal dari Roma menjadi imperium baru dengan wilayah yang luas.

Mereka juga membawa ribuan orang orang Kartago dan Makedonia untuk di jadikan budak di propinsi propinsi negeri Roma dengan perlakuan perbudakan yang lebih kejam dari perbudakan yang pernah terjadi di negeri negeri Asia. Namun demikian, jika ada budak yang dibebaskan, peraturan Roma mengharuskannya menjadi warga negara Roma dengan semua hak kewarganegaraan. Namun Ptolemaic dan Seleucid belum ditaklukkan.

Imperium Roma mempunyai tradisi yang keras dan sadis, bukan hanya ditunjukkan pada perbudakan dan perlakuan terhadap budak. Namun juga menjadi tradisi istana dan pejabatnya serta masyarakat.

Suatu ketika, di Sicilia, karena perlakuan yang sangat buruk terhadap budak mengakibatkan pemberontakan budak. Butuh waktu beberapa tahun untuk menghancurkan pemberontakan budak. Setelah para budak menyerah, mereka disiksa lagi kemudian dilemparkan hidup hidup ke batu karang sehingga badan menjadi remuk tidak berbentuk.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-111)

Di pusat kekuasaan istana Roma terjadi pula perang yang tidak kalah kejamnya dalam perebutan kekuasaan yang berdarah darah, menelan kurban ribuan jiwa rakyat Roma. Perebutan kekuasaan antara para sentor roma dan juga para jendral perang roma, tidak membedakan siapa kurbannya, baik senator, panglima perag, orang kaya, miskin atau budak.

Menjadi senator atau menjadi panglima perang, ujung dari karir tersebut adalah berebut kekuasaan dengan kurban nyawa ribuan orang. Cermin dari watak sadis tradisi Roma dapat dilihat pada pertunjukan gladiator di stadion yang menjadi petunjukan sangat menarik baik bagi senator, raja, panglima perang maupun rakyat Roma. Namun dengan tradisi tersebut membuat militer imperium roma justru mudah untuk merekrut prajurit.

Pada sekitar tahun 100 SM, Romawi telah memiliki jumlah pasukan ratusan ribu orang sehingga menjadi yang terbesar dibanding negeri lain pada jamannya. Kapal angkatan laut Romawi merajai laut Mediterania.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here