Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-112)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (masjidil aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

86
Lukisan Judas Maccabeus dengan pasukannnya. (Sumber: Sejarah Militer)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Namun perbuatan Jason ditiru oleh orang kepercayaannya sendiri. Jabatan imam besar direbut dengan cara yang sama yaitu dengan menyuap raja. Jason kemudian harus melarikan diri ke tempat yang jauh agar tidak mengalami kematian seperti yang dialami Onias bin Simon II. Menelaus menggantikan Jason, namun kaum Yahudi tidak bisa menerima karena dia bukan keturunan Zadok.

Masyarakat Yahudi membuat jarak dengan Menelaus. Jason memanfaatkan situasi kisruh ketika Antiokus berperang di Mesir menyerbu ptolemaic. Jason mengerahkan sekitar 1000 orang yang mendukungnya merebut jabatan imam besar dari Menelaus. Ketika pulang dari perangnya di Mesir, Antiokus yang marah atas kejadian di yerusalem dan haekal Sulaiman membuat langkah yang luar biasa yaitu melarang praktik agama Yahudi. Pelarangan oleh Antiokus justru menggunakan alasan agama Yahudi sudah dirusak oleh para imamnya.

Liturgi Haekal dilarang, libur hari sabath dihapus, sunat dilarang. Antiokus merobohkan tembok tembok pembatas antara ruang gholah dan ghoyim, dan menanami halaman Haekal Sulaiman dengan pepohonan yang sebelumnya dilarang. Namun Antiokus tidak memaksa kaum Yahudi menyembah dewa Yunani.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-111)

Orang Yunani, meskipun bisa menyuguhkan sistematika berfikir filsafat mereka, namun ending filsafat mereka bagi kaum Yahudi yang salih tetaplah penyembahan pagan. Bagi mereka, jelas nampak bahwa agama pagan itu buatan manusia ketika dibandingkan dengan kitab Taurat yang kompleks dan banyak peristiwa mukjizat dan nubuwah masa depan di dalamnya yang terbukti faktanya.

Ketika kaum Yahudi mulai mendapatkan tekanan yang semakin kuat baik secara fisik maupun dengan tradisi yang praktis dan instan dari praktik filsafat Yunani, mereka justru mendapatkan jawaban dan pelarian serta tumbuhnya harapan dari nubuwah nabi nabi mereka. Nubuwah nabi Musa, Daniel, Hagai, Maelaki dan lain lain menjadi penenang sekaligus kekuatan dari suatu harapan, karena nasib mereka memang sudah diramalkan dan diinformasikan oleh para nabi mereka.

Dan saat itu mereka menyadari sedang menjalani proses dari nubuwah tersebut, dimana mereka masih harus menunggu datangnya penolong yang akan mengeluarkan mereka dari penderitaan. Mereka menemukan jawaban bahwa suatu saat akan muncul Messiah, meskipun mereka tidak tahu kapan kemunculannya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-110)

Perlawanan secara fisik kaum Yahudi terhadap Yunani mulai muncul ketika Antiokus membuat benteng bagi garnisun Seleucid untuk mengawasi kegiatan yang ada di Haekal Sulaiman.

Kitab 1 Makabe 1 : 35 – 38 meriwayatkan: “Maka mereka (orang-orang Yunani) membangun kota Dawud dengan tembok yang besar dan kuat, dan dengan Menara-menara kuat, dan menjadikannya suatu benteng (Akra) bagi mereka. Dan mereka menempatkan disana suatu bangsa yang berdosa, orang-orang jahat, dan mereka membentengi diri di sana, dan mereka menimbun senjata dan mendatangkan victualler (penjual makanan), dan mengumpulkan jarahan-jarahan Yerusalem. Dan meletakkannya di sana (di dalam Haekal Sulaiman) dan mereka menjadi suatu jerat yang besar.

Keberadaan benteng tersebut membuat sebagian kaum salih Yahudi tidak tahan di Haekal dan di kota Yerusalem. Diantaranya adalah dari keluarga Hasmonea, yaitu imam yang sudah tua Mattathias dan lima orang anaknya, yang memilih keluar dari kota dan bertempat tinggal di perbukitan yang kepindahannya kemudian diikuti banyak kaum Yahudi.

Ketika imam Mattathias meninggal, gerakannya di lanjutkan oleh putranya yaitu Yudas yang mempunyai julukan Maacabeus (Makabe yang mempunyai arti “ kepala martil“). Ketika Antiokus IV sedang sibuk menghadapi serangan bangsa Parthia di wilayah utara Mesophotamia, Makabe memanfaatkan situasi berkurangnya pasukan Seleucid di Yerusalem. Pemberontakan Makabe terjadi sekitar tahun 168 SM.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-109)

Makabe sukses merebut Yerusalem dan Haekal Sulaiman. Namun sekitar tiga tahun kemudian Antiokus mengirim pasukan dan berhasil membuat Makabe terdesak dan mundur dari yerusalem. Pasukan Seleucid terus mengejar hingga pada tahun 160 SM Makabe dapat dibunuh. Posisi Makabe digantikan saudaranya yaitu Yonathan yang meneruskan perlawanan pada Seleucid.

Ketika terjadi perebutan kekuasaan di Seleucid, Yonathan dapat kembali merebut Yerusalem. Antiokus V mengambil Langkah yang berbeda dari pendahulunya. Dia mengakui kedudukan Yonathan sebagai imam besar Haekal Sulaiman dan sekaligus mengangkatnya sebagai satrap di yerusalem. Langkah tersebut merupakan bentuk kompromi dimana yerusalem masih menjadi bagian wilayah Seleucid.

Namun ketika terjadi pergantian kekuasaan Seleucid, pada tahun 143 SM, Yonathan di jebak dalam suatu perundingan di Beth Shan, ditangkap dan kemudian dibunuh dan Acra direbut kembali oleh Seleucid. Kedudukan Yonathan di gantikan saudaranya yaitu Simon yang melanjutkan perlawanan Hasmonea. Pada tahun 141 SM, Simon dapat merebut Acra dan merobohkan menghancurkan benteng tersebut. Bahkan Simon melanjutkan serangannya hingga dapat merebut kota Jaffa dan Gezer.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-107)

Pada tahun 139 SM, raja baru Seleucid, Antiokus VII, tidak ingin melanjutkan perang karena Seleucid harus membagi kekuatannya untuk menghadapi serangan kerajaan Parthia yang tidak pernah bisa dikalahkan Seleucid dan persiapan atas kemungkinan munculnya serangan dari kerajaan Roma yang dengan cepat muncul sebagai kekuatan baru.

Antiokus mengirim utusan untuk berunding dengan utusan Simon, dan disepakati Simon menyerahkan kota Jaffa dan Gezer untuk mendapatkan wilayah Yehuda yang merdeka. Revolusi Hasmonea berhasil. Kota Suci dan Bait Elnya dapat dikuasai kembali. Ketika Simon meninggal dan digantikan putranya yaitu John Hyrcanus, dengan cerdik John memanfaatkan situasi semakin lemahnya control kerajaan Seleucid terhadap wilayah Semit Barat dengan menaklukkan dan mengambil beberapa kota di bekas wilayah Samaria.

John juga meruntuhkan rumah ibadah bangsa Samaritan di gunung Gerizim karena bangsa Samaritan juga mempraktekkan agama Yahudi yang dikenal dengan Yahudi samarithan namun tidak diakui sebagai bangsa Yahudi. Kerajaan Hasmonea lebih luas dari kerajaan Yudea pada masa sebelumnya, namun masih banyak kota kota di Samaria yang masih dikuasai Antiokus.

Namun pengaruh bahasa, filsafat dan tradisi Yunani masih sangat kuat di kerajaan Hasmonea maupun terhadap pemahaman risalah dan tradisi Taurat. Selain itu, perebutan kekuasan di antara para imam Yahudi yang sebelumnya tidak pernah terjadi, juga mempunyai andil dalam pemikiran keagamaan Yahudi sehingga memunculkan suatu hal baru dalam agama Yahudi yang ditandai dengan munculnya tiga sekte atau aliran besar dalam agama Yahudi.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here