Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-107)

VII. Nabi Ilyas, Ilyasa, Yunus, Penghancuran Haikal Sulaiman (Masjidil Aqsha), Bani Israel Terjajah dan Diperbudak Lagi.

170
Yahudi Samaritan, agama bangsa Samarithan, keturunan campuran Bani Israel dengan suku suku non Bani Israel, merayakan paskah di bukit Gerizim. Dahulu di bukit ini ada Bait EL Yahudi Samaria, tetapi dihancurkan pada masa imam besar Yahudi, Johanes Hirkanus.

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Kitab Nehemia 13 : 18 menginformasikan, Nehemia memberlakukan ketentuan hari Sabat Kudus dan menyuruh pulang orang-orang yang keluar rumah pada hari sabat. Nehemia adalah seorang penguasa kota setingkat bupati sehingga keputusannya mengikat penduduk Bani Israel. Hukum ini kemudian disebut hukum Nehemia yang menjadi dasar pemurnian ras Bani Israel.

Penerapan hukum berdasarkan kitab Yehezkiel yang keras memberikan konsekuensi bahwa Haekal Sulaiman adalah untuk kaum Gholah, yaitu Bani Israel sebagai umat suci yang dipilih Tuhan, yang tidak bisa disentuh oleh kaum Ghoyim yaitu orang-orang yang tidak bisa secara murni di tetapkan sebagai Bani Israel.

Pemisahan antara kaum Gholah dan kaum Ghoyim sesuai hukum Yehezkiel telah dilakukan sejak kepulangan Bani Israel dari Babilonia pada masa Zerubabel yang kemudian disusul oleh kepulangan rombongan Bani Israel yang kedua yang dipimpin Uzair.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-106)

Penerapan hukum Nehemia yang sangat ketat yang punya konsekuensi terhadap ibadah di Haekal Sulaiaman yang berada di bekas wilayah Yudea, membuat lambat laun muncul sebutan baru bagi Bani Israel yaitu bangsa Yahudi yang agamanya juga disebut agama Yahudi.

Penerapan hukum ini juga menjadi cikal bakal munculnya keyakinan bahwa Bani Israel adalah kaum yang murni yang dipilih tuhan. Risalah tauhid menjelma menjadi agama yang hanya diperuntukkan bagi bangsa Yahudi.

Kaum Ghoyim yang berasal dari perkawinan campuran antara orang Yahudi dan non Yahudi pun status haknya pada Haekal Sulaiman berbeda dengan hak Bani Israel yang murni. Untuk masuk ruang paling suci Haekal Sulaiman ditetapkan siapa saja yang punya hak. Pembagian ruangan dalam Haekal Sulaiman telah dengan sendirinya membagi Bani Israel kedalam fungsi peribadatan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-105)

Terdapat batas batas fungsional ruangan Haekal Sulaiman dalam peribadatan yang tidak boleh dilanggar bahkan oleh Bani Israel sendiri. Seorang imam tidak boleh menjadi penyanyi Haekal dan tidak boleh menjadi pelayan peribadatan Haekal Sulaiman.

Demikian pula seorang penyanyi Haekal tidak akan bisa berubah menjadi imam. Pelayan penyelenggaran peribadatan tidak akan menjadi penyanyi atau menjadi imam. Sedang Bani Israel yang hanya akan beribadat telah pula ditentukan ruangannya.

Orang-orang dari keturunan campuran diperlakukan sebagai kaum Ghoyim atau orang asing yang hanya boleh menginjak di halaman paling luar Haekal Sulaiman. Konsekuansi ketatnya hukum Nehemia dan Uzair adalah bangsa Yahudi akan menjadi bangsa yang sulit membentuk kohesi sosial dan berbaur dengan bangsa yang lain. Karena itu lambat laun ajaran tauhid yang diperoleh kaum Yahudi menjadi agama yang eksklusif yaitu agama Yahudi.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-104)

Kaum Ghoyim dari keturunan campuran orang-orang Yahudi dan non Yahudi yang di lepas dari persaudaraan Bani Israel pada akhirnya membentuk kebangsannya sendiri yaitu bangsa Samaritan yang hanya bisa tinggal di wilayah di luar batas negeri Yudea, yaitu di wilayah bekas kerajaan Samaria.

Bangsa ini pada awalnya tidak mengerti mengapa mereka harus menanggung nasib sebagai orang-orang yang terbuang. Mereka merasa tidak mempunyai kesalahan apapun yang disebabkan menjadi keturunan campuran. Bahkan dalam doa-doanya kepada Elloh mereka mengeluh dengan keras mengapa Elloh memperlakukan mereka menjadi kaum yang terbuang yang seolah olah tidak mempunyai akar keturunan, tidak diakui asal asul keberadaan mereka di dunia.

Namun pada akhirnya bangsa Samaritan akhirnya dapat menerima kenyataan tersebut bahkan tetap melaksanakan ajaran Taurat. Mereka dikenal dengan nama Yahudi Samaria. Bagi mereka ajaran Tauhid adalah termasuk untuk mereka meskipun kemunculan ajaran tersebut berasal dari leluhur mereka yang murni keturunan Israel. Mereka juga merasa punya hak untuk mempraktikkan ajaran leluhur mereka yang orang Israel. Tuhan leluhur mereka yang orang Israel adalah Tuhan mereka pula.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-103)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here