Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-110)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (masjidil aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

131
Patung Aleksander Agung. (Sumber: the foreign journal)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Akhirnya, setelah saling berperang selama lebih kurang 37 tahun, imperium Alexander berakhir dengan terpecah menjadi tiga kerajaan berdiri sendiri sendiri, yaitu kerajaan Ptolemeus berpusat di Mesir, kerajaan Seleucus setelah sebelumnya berhasil membunuh Perdiccas kekuasaannya berpusat di Babilonia dan kerajaan Lysimacus berpusat di Thraccia dengan luas wilayah paling kecil yang meliputi wilayah Thracia dan Mekedonia.

Bangsa Yahudi, yang selama ini dalam keadaan tenang merasakan akibat pertikaian antar para jendral Alexander dalam berebut wilayah. Negerinya sering menjadi basis tentara dan lintasan perang. Yang sebelumnya setia berkiblat ke Babilonia pada akhirnya harus berkiblat ke Mesir karena wilayahnya menjadi bagian dari kerajaan Ptolemaik yang berpusat di Mesir.

Bangsa Yahudi mulai bersentuhan dengan budaya Helenik Yunani yang mengedepankan rasionalitas sekuler yang tidak menjadikan keyakinan religius penyembahan berhala sebagai dasar menjalankan negara dan pemerintahan raja.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-109)

Sangat berbeda dibanding bangsa Yahudi yang mempunyai keimanan berdasar Taurat dalam menggerakkan isntitusi pemerintahan kerajaannya. Hukum-hukum Taurat menjadi dasar penggerak pemerintahan dan keseharian hidupannya berpusat pada kuil Haekal Sulaiman.

Saat itu, kaum Yahudi adalah satu-satunya bangsa yang mempunyai keimanan monoteis yang kesehariannya terikat pada syariat Taurat dan haekal Sulaiman. Seperti bangsa bangsa lainnya berkeyakinan pagan yang politeis yang terikat dengan kuil-kuil pemujaan.

Namun dengan kedatangan kerajaan Yunani sebagai penguasa baru, maka di seluruh kawasan harus menyesuaikan dengan cara hidup bahkan cara berbicara seperti orang Yunani yang mengabaikan keimanan apapun dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan serta hanya mengedepankan rasionalitas Yunani semata.

Filsafat Yunani tidak mengenal perbuatan dosa dari perbuatan yang mengakibatkan kematian. Tidak ada pembunuhan yang dilarang atau diperbolehkan. Kematian adalah suatu kejadian biasa yang harus diterima sebagai suatu hukum alam.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-107)

Tidak ada beban dalam pembunuhan yang dipahami sebagai hukum alam yang bersumber dari konsekuensi adanya perbedaan tujuan manusia. Kelahiran manusia juga hanya dilihat sebagai konsekuensi dari persetubuhan lawan jenis.

Sehingga pembunuhan terhadap orang tua atau kerabat apalagi orang lain bukan merupakan suatu beban yang harus dipikirkan akibatnya. Hal itu merupakan suatu peristiwa yang mengalir saja yang dipahami sebagai hukum alam.

Budaya Helenik adalah budaya, cara hidup dan cita cita seperti yang terdapat di Athena pasca era plato dan aristoteles. Hellenisme Athena muncul menggantikan system religius Yunani kuno yang memiliki system kepercayaan politeisme yaitu kepercayaan pada dewa dewa yang ditandai dengan kuil-kuil dewa Yunani kuno.

Filsafat yang berujung pada pemikiran bahwa dalam pencapaian kebahagiaan, kenikmatan, keselamatan, ketenangan, maka setiap orang harus menghilangkan ketakutan pada dewa dan kematian, mempunyai keyakinan bahwa dewa dewa tidak mempengaruhi dunia, manusia harus menyesuaikan hidupnya dengan hukum alam yang obyektif bukan perasaan atau selera subyektif tetapi harus lebih banyak mengandalkan rasionalitasnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-106)

Dengan mengandalkan rasionalitasnya manusia dapat menggunakan kehendak bebasnya sejauh mungkin untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan hidup namun juga harus dapat mengendalikan hasrat nafsunya yang dapat merusak hati, pikiran dan kehidupan.

Filsafat tersebut dimulai oleh Epikuros pada tahun 341-271 SM. Epikurisme dikembangkan lebih lanjut oleh Zeno dari Kition dan berkembang di Athena yang dikenal dengan Stoisisme (336 SM – 264 SM). Berdasarkan rasionya manusia dapat mengenal kode universal jagat raya yang di ciptakan oleh kuasa logos. Kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti dan tidak perlu dipedulikan karena pasti terjadi sesuai hukum alam. Manusia harus hidup dengan hukum alam yang sedang berlaku.

Namun terdapat juga filsuf Yunani yang membuat antitesa terhadap filsafat tersebut yaitu pemikiran kembali kepada tuhan yang satu atau esa. Bahwa yang menguasai segala sesuatu adalah tuhan. Semua yang ada berasal dari tuhan dan akan kembali pada tuhan yang satu.

Konsep tentang segala sesuatu berasal dan akhirnya kembali pada tuhan disebut Emanasi (limpahan), bahwa yang ada dalam alam adalah bukan karena diciptakan tuhan tetapi karena limpahan kuasa tuhan yang kemudian mewujud jadi alam dan mahluk yang hidup dalam alam.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-105)

Hubungan antara tuhan dengan alam dengan seluruh mahluk diibaratkan seperti sebuah benda dan bayangannya. Bayangan sehebat apapun tidak akan sama dengan wujud aslinya. Semakin dekat bayangan dengan wujud aslinya akan semakin jelas wujud bayangannya, sedang semakin jauh akan semakin samar.

Ketika bayangan hilang maka kembali pada wujud aslinya. Semuanya akan kembali kepada tuhan. Filsafat ini dikenal dengan Neoplatonisme, yang dicetuskan oleh Plotinus (270 SM – 204 SM) yang lahir di kota Lykopolis Mesir.

Pada masa Alexader Agung yang hidup pada masa Epikuros dan Zeno, filsafat Hellenik Athena yang rumit namun masih dipengaruhi pemikirian Aristoteles dirubah menjadi lebih praktis, yaitu menjalankan cara hidup dan cita cita orang Yunani dengan “ berbicara dan bertingkah laku seperti orang Yunani “, yang mengandalkan rasionalisme dan sekuler.

Alexander yang menapak kekuasaannya sejak masih muda menjadikan Gymnasia yang awalnya berfungsi sebagai wadah pelatihan fisik untuk anak-anak muda yang akan bertanding pada kompetisi olahraga tradisioanl Yunani menjadi wadah untuk merekrut anak-anak muda Yunani dengan tujuan mewujudkan cita Hellenik, yang diidentikkan dengan tujuan Alexander sendiri. Seiring dengan kesuksesan Alexander menaklukkan dan menguasai kerajaan kerajaan lain pada masanya, menjadikan gymnasia menjadi ikon cara hidup Yunani.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-104)

3. Pertarungan antara Rasionalitas Sekuler Yunani melawan Hukum ketat Taurat dan Tradisi Haekal Sulaiman.

Kedatangan Yunani dimanfaatkan dengan cepat oleh keturunan Tobia yang pernah di usir Nehemia dari Haekal Sulaiman. Tobia, Yahudi yang berasal dari Niniveh, keturunannya telah menjadi suatu klan besar Yahudi yang cara hidupnya tidak mau dibatasi dengan ketatnya hukum Nehemia dan Uzair.

Joseph, salah satu orang terkemuka keluarga Tobia dengan segera memanfaatkan kedatangan Yunani. Joseph menyediakan propertinya untuk dijadikan pangkalan pasukan dan persenjataan kerajaan Ptolemaik dengan imbalan diberikan kewenangan dengan kuasa ptolemaik untuk menarik pajak bagi wilayah bangsa Yahudi hingga aram dan melakukan pembayaran upeti kepada Mesir.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here