Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-109)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (masjidil aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

165
Relief pasukan Helenik Yunani Makedonia mengalahkan pasukan kekaisaran Akhemeniyah Persia. (Sumber: Wikipedia Commons)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Namun ternyata Alexander belum berhenti dan belum puas dengan penaklukan penaklukannya. Dari Persia Alexander berencana mengajak pasukannya melanjutkan perjalanan untuk menaklukkan negeri Bactria dan Sogdiana. Pasukannya mulai banyak yang tidak senang dengan ajakan tersebut.

Alexander bahkan terpaksa menghukum mati orang orang yang berencana membunuhnya, bahkan ayahnyapun dihukum mati. Hukuman itu efektif, sehingga pasukannya mau diajak berperang dan akhirnya berhasil menaklukkan Bactria dan Sogdiana. Di Sogdiana Alexander tertarik wanita cantik yaitu Roxane yang kemudian di peristri.

Pasukan Alexander melanjutkan gerak penaklukannya ke India. Mereka masuk ke India melalui celah Khyber (sekarang adalah celah penting antara Pakistan dengan Afghanistan), medan pegunungan yang berat. Alexander ingin menaklukkan negeri Magadha, negeri paling kaya dan paling kuat di daratan India. Namun harus terlebih dahulu melewati negeri negeri kecil di sebelah utara.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-107)

Alexander dapat bantuan dari raja Taxil yang bermusuhan dengan negeri Hydapes. Disini Alexander mulai mengenal tentara yang menggunakan gajah sebagai kendaraan tempur. Hydapes dapat ditaklukkan setelah pasukannya dapat meyeberangi sungai Jhelum, meskipun tentara Alexander banyak yang tewas diinjak injak gajah.

Ketika pasukannya diajak menyebarangi sungai Gangga yang lebih besar dari sungai Indus untuk menyerang Maghada, tentaranya menolak dengan keras, apalagi di Magadha ada lebih banyak lagi tentara gajah yang lebih besar dan lebih ganas.

Kali ini tentaranya tidak dapat dibujuk, dan akhirnya Alexander terpaksa menyetujui untuk pulang ke Persia. Maghada tidak dapat disentuhnya. Namun ketika pulang, Alexander tidak melewati jalan semula yang berat.

Tentaranya diajaknya melewati wilayah pantai. Alexander beranggapan bahwa pasukan Yunani yang terbiasa dengan laut akan mendapatkan jalan pulang lebih mudah. Namun dugaannya keliru, perjalanannya ternyata jauh lebih berat dari ketika melalui daratan. Air sangat sulit didapatkan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-106)

Alexander bahkan menderita luka yang sulit disembuhkan ketika ada pertempuran kecil dengan penduduk setempat. Rombongan tentara yang sebelumnya berjumlah sekitar 135.000 orang ketika pulang menuju Persia, setelah melakukan perjalan berat dari sungai gangga melalui laut ternyata membutuhkan waktu 7 (tujuh) tahun perjalanan, dan sampai di Persia tentaranya tinggal sekitar 30.000 orang.

Tentaranya banyak menemui kematian dalam perjalanan berat yang tidak diduganya sama sekali. Sampai di Susa Alexander berusaha menaklukkan hati tentaranya agar mau berdampingan dengan orang Persia.

Dia harus menambah jumlah pasukannnya terlebih dahulu yang harus direkrut dari orang orang muda Persia. Akan sangat rawan apabila memaksakan kembali ke Makedonia dengan jumlah tentara yang kecil yang sudah jauh berkurang kekuatannya. Alexander tertahan di Susa Persia.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-105)

Setelah berhasil merukunkan tentara Makedonia dengan orang orang Persia, Alexander melakukan perjalanan ke Ekbatana lalu ke Babilonia. Di kota tersebut, Alexander sakit keras dan meninggal dalam keadaan istrinya, Roxane sedang hamil.

Tahun kematian Alexander Agung adalah tahun 323 SM. Kematian Alexander secara mendadak membuat situasi kerajaan menjadi rumit. Para jendral panglima Alexander yang berjumlah 6 orang menjadi penentu kelanjutan negeri Yunani.

Posisi Roxane yang sedang hamil anak Alexander menjadi sangat penting, meskipun Roxane tidak termasuk dalam perhitungan dalam waris kekuasaan. Anak Alexander Agung yang belum lahir justru menjadi kunci tidak terjadinya saling bunuh antara para jendral dalam perebutan kekuasaan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-104)

Pada akhirnya terdapat posisi kompromi membagi kekuasaan diantara 5 jendral Alexander. Adik tiri Alexander yang dikenal lembek dan mudah ditipu yaitu Filipus diangkat jadi raja yang akan menjadi pendamping anak Alexander sebagai raja. Keduanya membutuhkan wali raja, dan jabatan untuk wali raja dipegang oleh Perdiccas.

Sedang panglima lainnya sepakat untuk menjadi satrap yang membawahi wilayah yang ditetapkan bersama. Ptolemeus menguasai wilayah Mesir, Antigonous menguasai Lycia, Phamphyla dan Frigia. Lysimachus memperoleh Thracia, Antipater menguasai Makedonia dan Yunani, Cassendar putra Antipater menguasai Caria. Wilayah yang lain dalam kekuasan langsung Perdiccas.

Setelah masing-masing jendral tersebut diwilayah kekuasaannya masing masing, ternyata bukan sekedar memerintah di wilayahnya, namun justru saling berperang untuk berebut wilayah. Roxane dan anak Alexander yang dibawa ke Makedonia pada akhirnya dibunuh dengan diracun. Alexander IV dibunuh ketika berumur sekitar 12 tahun.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here