Jangan Seenaknya, Al-Fatihah itu Berbeda

340

Oleh: A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, Ummul Qura University, dan Pembina Alhusniyah Islamic School)

Mari kita memperbaiki cara membaca Surah Al-Fatihah. Membaca Surah Al-Fatihah berbeda dengan membaca Surah surah lain dalam Al-Quran.

Karena saat kita membaca Surah Al-Fatihah, kalimat demi kalimat, itu dijawab oleh Allah SWT. Seolah kita berdialog dengan Allah SWT.

Maka saat membaca Surah Al-Fatihah, jangan terus menyambung ayat dengan ayat berikutnya, tidak berhenti atau berhenti tidak pada tempatnya.

Berhentilah setiap kalimat pada tempatnya yang benar, di mana Allah sedang menjawab dan tunggu selesai jawaban Allah.

Jika tidak “wukuf” atau tidak berhenti sejenak, berarti tidak peduli akan jawaban Allah.

BACA JUGA: Hati-Hati Berbicara Karena Diaminkan oleh Malaikat

TRUE STORY:

1- Sahabat Abu Hurairah RA menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى:  حَمِدَنِي عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي –  وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل. (رواه احمد و مسلم)

“Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah SWT berfirman: “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang ia minta.

Apabila hamba-Ku membaca: “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin”, Allah Ta’aalaa berfirman: “Hamba-Ku memuji-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca: “Ar-Rahmaanir Rahiim”, Allah Ta’aalaa berfirman: “Hamba-Ku mengulangi memujiKu.”

BACA JUGA: Tiga Pilihan Hidup

Apabila hamba-Ku membaca: “Maaliki Yaumid Diin”, Allah berfirman: “Hamba-Ku mengagungkan AKu.” Dalam riwayat lain, Allah Berfirman: “Hamba-Ku telah pasrahkan, menyerahkan dan mempercayakan urusannya kepada-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah Ta’aalaa berfirman: “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”

Apabila hamba-Ku membaca: “Ihdinas-Shiraathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat”, Allah Ta’aalaa berfirman: “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”

(Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya).

BACA JUGA: Doa Agar Terhindar dari Kecelakaan Maut

POINTERS:

1- Berhentilah sejenak di setiap penghujung ayat kecuali 2 ayat terakhir. Jika tidak setop sejenak, seolah tidak peduli jawaban Allah SWT.

2- Di mana sebaiknya “wuquf” وقوف atau berhenti sejenak membaca ayat-ayat dari Surah Al-Fatihah:

  • Di ujung ayat ke 2: “Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin” (setop). Di ujung ayat ini, Allah menjawab bacaan kita.
  • Di ujung ayat ke 3: “Ar Rahmaanir Rahiim” (setop). Di ujung ayat ini, Allah menjawab bacaan kita.
  • Di ujung ayat ke-4: “Maaliki Yaumid Diin” (Setop). Di ujung ayat ini, Allah menjawab bacaan kita.
  • Di ujung ayat ke-5: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (setop). Di ujung ayat ini, Allah menjawab bacaan kita.
  • Ayat ke-6 dan 7 barulah boleh di sambung tanpa setop, tanpa berhenti membaca 2 ayat. Setopnya di ujung ayat ke 7: “Ghoiril maghduubi ‘alaihim walad Dhaalliin” (setop). Di ujung ayat ini, Allah menjawab bacaan kita.

BACA JUGA: Yang Tidak Mendengar Adzan Lebih Nakal dari Setan

3- Keterangan tentang hadits di atas:

  • Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Fatihah adalah rukun shalat, karena Allah menyebut Al-Fatihah dengan kata shalat.
  • Al-Fatihah disebut shalat, karena Surah ini dibaca saat shalat. Dan seorang hamba yang membaca Surah ini ketika shalat, dia hakekatnya sedang melakukan dialog dengan Tuhannya.
  • Allah Membagi bacaan Al-Fatihah dalam Shalat menjadi 2 bagian. Setengah untuk Allah dan setengah untuk hamba Nya.
  • Setengah untuk Allah ada di bagian awal, bentuknya adalah pujian untuk Allah. Mulai dari ayat, ‘Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin sampai ‘Maaliki Yaumid Diin.’
  • Sementara setengahnya untuk hamba, yaitu doa memohon petunjuk agar seperti orang yang telah mendapat nikmat.
  • Ada satu ayat yang dibagi dua, yaitu ayat ‘Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Setengah untuk hamba, setengahnya untuk Allah. “Iyyaaka Na’budu” ini untuk Allah, dan iyyaka nasta’in, ini untuk hamba-Nya.

BACA JUGA: Ikutilah Karakter Sang Panutan

4- Hayati makna setiap syat yang dibaca, dan hayati pula jawaban dari Allah SWT. Maka sungguh akan tambah khusyu dan ni’mat sekali.

5- Itulah dialog antara hamba dengan Allah saat membaca surah Al-Fatihah. Semoga semakin meningkatkan rasa khusyu’ kita ketika menjalani ibadah shalat.

6- Mengenai pertanyaan, bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah yang membaca surat Al-Fatihah itu ribuan manusia? Lalu bagaimana cara Allah berdialog dengan mereka semua yang jumlahnya milyaran orang ?

Allah SWT itu Maha Kuasa untuk melakukan apapun sesuai yang Dia kehendaki. Dan tidak semua perbuatan Allah, bisa dinalar oleh logika manusia. Kewajiban kita adalah meyakini bahwa itu terjadi secara hakiki, sementara bagaimana prosesnya, Allah yang Maha Tahu.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kita cinta membaca Al-Quran. Dan Allah senantiasa pula membimbing kita untuk selalu eling mengingat Allah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya pada Allah SWT.

اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here