Imam Masjidil Haram Sujud Sahwi Setelah Lupa Rakaat Shalat Tarawih

566

Jakarta, Muslim Obsession – Imam Masjidil Haram Syekh Yasir Al Dawsary melakukan sujud sahwi untuk memperbaiki shalat tarawih karena lupa rakaat shalat. Ia tersadar melakukan kesalahan setelah diingatkan jamaah Masjidil Haram, kemudian di akhirnya melakukan sujud sahwi.

“Dalam kasus yang jarang terjadi, Syekh Yasir Al Dawsary melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa) selama sholat tarawih. Imam duduk setelah melakukan kesalahan hanya 1 rakaat dan kemudian bangun setelah diingatkan,” jelas keterangan unggahan akun X @muslimmakkah.

Diketahui bahwa sujud sahwi adalah gerakan yang dianjurkan untuk dilakukan ketika seseorang lupa atau ragu-ragu dalam sholatnya. Seperti adanya penambahan atau pengurangan rakaat, sehingga para ulama menganjurkan untuk melakukan sujud sahwi.

Hal ini sebenarnya lumrah terjadi karena manusia tempatnya salah dan lupa. Lantas, bagaimana bacaan dan tata cara sujud sahwi?

Praktik mengenai sujud sahwi sebenarnya sudah dicontohkan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam sejak dahulu. Sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Buhainah dalam sebuah hadits:

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

Artinya: “Setelah beliau menyempurnakan sholatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR Bukhari nomor 1224 dan Muslim: 570)

Hal serupa juga disampaikan oleh seorang sahabat bernama Abu Hurairah, beliau meriwatkan:

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

Artinya: “Lalu beliau sholat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudian beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR Bukhari nomor 1229 dan Muslim: 573)

Dari kedua hadits tersebut bisa disimpulkan jika sujud sahwi bisa dilakukan sebelum maupun sesudah sholat. Sujud ini dilakukan sebagaimana sujud pada umumnya, yaitu dilakukan sebanyak dua kali.

Tata caranya pun sama seperti sujud lainnya pada saat sholat. Sebagaimana dijelaskan Syekh Ahmad bin Muhammad al Khatib dalam kitab Mughnil Muhtaj:

وَكَيْفِيَّتُهُمَا (كَسُجُودِ الصَّلَاةِ) فِي وَاجِبَاتِهِ وَمَنْدُوبَاتِهِ كَوَضْعِ الْجَبْهَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالتَّحَامُلِ وَالتَّنْكِيسِ وَالِافْتِرَاشِ فِي الْجُلُوسِ بَيْنَهُمَا وَالتَّوَرُّكِ بَعْدَهُمَا وَيَأْتِي بِذِكْرِ سُجُودِ الصَّلَاةِ فِيهِمَا

Artinya: “Tata cara sujud sahwi seperti sujud sholat di dalam kewajiban dan kesunnahannya. Misal, meletakkan dahi, thuma’ninah, menahan dan menundukan ketika sujud, duduk iftirasy saat duduk di antara sujud sahwi, duduk tawaruk ketika selesai melakukan sujud sahwi, dan membaca dzikir seperti biasanya di dalam sujud sholat.” (Mughnil Muhtaj, 438)

Menurut pendapat para ulama, untuk melakukan sujud sahwi tidak perlu melakukan takbiratul ihram. Hal yang perlu dilakukan adalah membaca takbir ketika akan sujud dan saat hendak bangkit dari sujudnya.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here