Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-158)

Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-158)
Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) Konstantinus muda yang bermadzhab Arius, membuat langkah mencampuri tradisi penetapan uskup madzhab Kristen. Uskup Roma yang bermadzhab Athanasius yang sangat anti pada madzhab Arius digantinya dengan uskup lain meskipun tetap bermadzhab Athanasius. Konstantinus muda menunjukkan kekuasaannya kepada para uskup. Ini merupakan langkah yang sangat serius karena uskup Roma adalah uskup yang secara tradisional paling disegani oleh uskup uskup lainnya di wilayah imperium. Pasti tidak ada uskup yang senang dengan langkahnya tersebut. Namun reaksi para uskup tidak dipedulikannya, bahkan Konstantinus muda justru mengundang para uskup untuk melakukan sidang konsili atas inisiatifnya. Pada tahun 359, Konstantinus muda mengumumkan bahwa madzhab Arius adalah ajaran Kristen ortodoks, yaitu keyakinan yang benar yang ditetapkan dalam konsili ekumene. Para uskup madzhab Athanasius tentu pulang dengan rasa dongkol, namun sejak saat itu, Kristen Ortodoks Arius telah muncul lagi sebagai agama yang diakui negara. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-157) Para uskup di wilayah barat yang paling menunjukkan anti Arius membuat langkah membentengi wilayah barat dari pengaruh ketetapan Konstantinus muda. Para uskup segera memastikan Julianus tetap pada pemihakan pada madzhab Athanasius. Langkah para uskup barat membuat Julianus menjadi populer bahkan melampaui popularitas Konstantinus muda. Kondisi itu membuat Julianus mempunyai keberanian untuk memisahkan diri dari kekuasaan Konstantinus. Imperium Roma terbelah menjadi dua. Konstantinus tidak dapat bertindak atas Langkah Julianus, karena pada saat yang sama Persia kembali menyerang Armenia. Peperangan di Armenia terjadi lagi dengan lebih keras dan brutal dari peperangan sebelumnya. Persia mengerahkan tentara gajah yang besar besar dalam jumlah besar yang tidak diduga oleh Bizantium. Banyak tentara Bizantium terbunuh dan yang terluka tidak sempat diselamatkan selama perang lebih dari dua bulan. Konstantinus mengalami kekalahan berat dan sisa sisa tentaranya kabur dari medan perang dengan melewati mayat-mayat rekannya yang sudah membusuk dan dipenuhi belatung. Konstantinus meningggalkan beberapa kota dan benteng yang kemudian diduduki oleh tentara Persia. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-156) Pada Oktober 361, Konstantinus muda mengalami sakit seperti halnya sakit yang dialami bapaknya. Badannya sangat panas sehingga tidak ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Sakit itu menjadi sebab kematiannya, dan hal itu membuat Julianus menjadi kaisar tunggal imperium tanpa peperangan. Namun secara tak terduga, Julianus beralih keyakinan memeluk agama Romawi. Kuil-kuil agama Romawi dan Yunani yang sudah mulai banyak tutup dihidupkan kembali, pegawai pemerintah yang sebelumnya diberi pendidikan agama Kristen dirubah menjadi dididik agama Romawi. Agama Romawi di organisasikan dengan meniru pola hirarkhi organisasi Kristen untuk mempersatukan pemeluk agama Romawi. Demikian pula peribadatan dibuat dengan meniru pola peribadatan Kristen. Orang-orang Kristen menjuluki kaisarnya dengan julukan “Julianus Si Murtad “. Tapi Julianus tidak bisa melangkah lebih jauh mengorganisasikan agama pagan romawi karena Julianus menyadari bahwa dirinya tidak ingin ada persoalan dalam internal ke kaisarannya. Sebagian besar tentara dan jendral-jendralnya telah beragama Kristen. Demikian pula anggota senat imperium Roma, jumlah penganut Kristen sudah melampaui penganut agama Romawi. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-155) Apalagi wilayahnya di barat dan di utara sedang menghadapi desakan dan serbuan dari orang-orang yang mereka sebut sebagai kaum bar bar yaitu orang yang tidak beradab dan kejam yang berasal dari suku-suku Germanik, antara lain suku Frank, Goth, Vandal, Burghundi yang menduduki wilayah hak istimewa imperium Romawi. Di wilayah timur, beberapa wilayah strategis romawi telah di duduki oleh imperium Persia. Julianus tidak mungkin menghadapi semuanya, kemudian mengajak damai suku Goth dengan memberikan kompensasi wilayah dengan imbalan loyalitas suku Goth yang digunakannya untuk berperang melawan Persia. Julianus mengerahkan pasukan sekitar 85.000 orang, termasuk didalamnya orang dari suku Goth untuk menyerbu Persia dan merebut kembali wilayah romawi yang telah diduduki Persia. Dengan pasukan gabungan dalam jumlah besar, Julianus tidak kesulitan memasuki Ctesiphon, ibu kota Persia. Namun setelah itu, pasukannya terjebak dalam perang gerilya yang sangat berat. Pasukan Julianus akhirnya kehabisan logistic sedang untuk mendapatkan makanan sangat sulit karena ladang ladang disekitar basis tentara Romawi dibakar. Untuk mundurpun harus susah payah dengan menahan lapar berat. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-154) Julainus sendiri akhirnya tewas dalam perang tersebut dan dikuburkan di Ctesiphon. Julianus si murtad menjadi kaisar penyembah dewa pagan roma yang terakhir dan hanya berkuasa sekitar 3 tahun dan mati di dalam perang pada tahun 363 M. Imperium kehilangan kaisar tanpa kejelasan siapa yang menjadi pewaris tahta. Tentara yang mundur dari perang, mengangkat seorang jendral muda, Jovianus sebagai kaisar Roma baru. Jovianus seorang Kristen penganut madzhab Athanasius, penganut syahadat Nicaea. Dia langsung mengambil langkah pragmatis dengan mengajukan usul perdamaian dengan Persia, namun harus dengan kompensasi sedikit wilayah yang harus diserahkan kepada Persia, yaitu wilayah benteng Nibilis. Jovianus juga mencabut semua keputusan Julianus yang merugikan Kristen, namun juga menjauhkan semua agama dari kekaisaran. Semua pemeluk agama diberi hak yang yang sama untuk beribadat dan berpartisipasi dalam pemerintahan. Namun perjanjiannya dengan Persia menjadi kelemahan Jovianus, karena dikecam penduduk roma. Bahkan pemeluk agama Romawi menganggap Jovianus sebagai pengkhianat dan mengelu elukan Julianus sebagai pahlawan imperium Roma. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-153) Kebaikan hatinya tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian Jovianus ditemukan meninggal di tendanya di Antiokia. Tidak diketahui dan tidak ada pernyataan apapun yang menyebutkan penyebab kematiannya. Kematiannya membuat dirinya sebagai kaisar yang tidak sempat masuk istana baik di kostantinopel maupun roma. Tentara Roma kemudian menobatkan jendral yang dikenal ahli startegi perang meskipun buta huruf yaitu Valentinianus, sebagai kaisar roma yang baru. Ia juga seorang penganut Kristen dan sedang berada di Nichaea ketika dirinya diangkat sebagai kaisar Roma. Valentinianus adalah seorang penganut madzhab Athanasius yang langsung berpikir pragmatis melihat situasi imperium. Dia mengangkat Valens, adiknya yang penganut madzhab Arius sebagai kaisar mitra yang berkedudukan di Konstantinopel, sedang dirinya menjadikan Milano sebagai pusat pemerintahan di wilayah barat. Dengan cara itu mereka berdua mengatasi problem perselisihan madzhab yang tidak berkeseduhan yang berpengaruh pada keutuhan kekuasaan, sehingga mereka langsung dapat membagi konsentrasi mengahadapi tekanan suku-suku Germanik di wilayah utara dan barat serta Perisa di Timur. Namun demikian Valens menyingkirkan orang-orang Athanasius yang tidak mendukungnya. BERSAMBUNG