Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-156)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

339
Patung Kontantin Agung. (Sumber: slideplayer)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Pemikiran Arius kemudian memperoleh perlawanan dari Athanasius, yang juga berasal dari Alexandria, diperkirakan hidup pada tahun 296/298 – 373 M. Athanasius berpendapat Logos adalah Tuhan dalam arti persis sama dengan Allah, Tuhan Bapa.

Yesus adalah inkarnasi atau penampakan Allah di Bumi untuk menyelamatkan manusia. Yesus adalah Allah itu sendiri. Yesus bukanlah setengah dzat yang merupakan barang ciptaan.

Penyaliban adalah jalan Logos untuk kembali kepada hakekat dzatNya. Ketika Logos telah kembali kepada hakekat dzatnya, kaum Kristen memerlukan tempat suci yang dapat menyatukan kaum Kristen dalam menyatakan keimanannya terhadap Tuhannya.

Tafsir Athanasius tentang Yesus didukung oleh Uskup Aelia Capitolina yaitu Makarios. Sebagai Uskup Aelia Capitolina di Yerusalem, Makarios menyadari pentingnya tempat yang suci bagi kaum Kristen berdasarkan pengalaman Bani Israel dan agama Yahudi.

Perselisihan teologis ini dengan cepat menyebar ke seluruh pengikut Kristen di banyak wilayah, yang sewaktu waktu dapat menimbulkan perselisihan. Dua madzhab pemikiran ini akan menjadi induk dari berbagai aliran madzhab Kristen yang akan muncul kemudian. Alexandria adalah kota Mesir dimana tradisi intelektual Kristen dimulai. Pemikir teologia pertama dari Kristen juga dari kota ini, yaitu Origenes yang lahir tahun 185 M.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-155)

28. Konstantine Agung dan Syahadat Nicaea.

Konstantinus adalah prajurit Romawi yang dapat mendaki karir tertinggi militernya dengan merebut jabatan kaisar Romawi, merebutnya dari tangan kaisar Mexentinus pada tahun 312.

Maxentinus yang mati tenggelam di sungai, diangkatnya mayatnya kemudian dipenggal kepalanya dan kemudian kepala Maxentinus diarak hingga ke Afrika untuk memberi pesan bahwa mahkota raja telah beralih kepada dirinya. Para pendukung utama Maxentinus dieksekusi dan kesatuan militernya dibubarkan.

Saat itu, Wilayah imperium Romawi yang sangat luas terbagai dalam pemerintahan tiga raja yang bermitra. Licinius menjadi raja pada wilayah tengah imperium yang wilayahnya mulai dari sebelah timur wilayah Pannonia hingga sebelah barat laut hitam yaitu wilayah Macedonia dan Yunani.

Sedang wilayah timur Romawi dibawah pemerintahan raja Maximinus Daia dengan wilayah Asia Kecil, Syam hingga Mesir. Wilayah timur berbatasan dengan wilayah imperium Persia.

Konstantine tidak ingin membagi wilayah imperium Roma, namun pada awalnya tidak melakukan gerakan militer untuk menyatukan kekuasan imperium Roma. Langkah pertamanya adalah menjadikan Licinius sebagai sekutu karena wilayahnya berbatasan dengan wilayahnya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-154)

Licianus yang umurnya sudah mau menginjak 60 tahun diberikan tawaran yang sulit untuk ditolaknya yaitu dikawinkan dengan saudari tirinya yang umurnya belum sampai 20 tahun. Dengan senang hati tawaran tersebut diterima Licianus dari pada menghadapi resiko perang melawan Konstantinus.

Sebagai imbalan atas tawaran itu, setelah beberapa bulan Konstantinus menguasai Roma, Licianus memerangi Maximinus Daia. Meskipun pasukannya hanya separuh dari jumlah pasukannya Maximinus, namun berkat keunggulan startegi perangnya, Licianus dapat mengalahkan Maximinus di kota Andrianople.

Maximinus lari namun ketika sampai di kota Tarsus, Licianus dapat menjebak Maximinus. Sebelum Licianus menangkapnya Maximinus telah menenggak racun terlebih dahulu sehingga menemui ajalnya. Sedang istri dan anak anaknya tidak ada yang lolos dari algojo Licianus.

Setelah kemenangan perang itu, Konstantinus dan Licianus bertemu untuk merayakan perkawinan Licianus dengan saudari tirinya. Konstantinus tanpa susah payah dapat mengendalikan wilayah imperium Roma tanpa harus banyak mengeluarkan keringat dan kehilangan tentara.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-153)

Kontantinus dengan cerdas melihat arah perubahan kehidupan religius di negerinya.Agama Kristen telah merambah ke seluruh wilayah imperium Roma, meskipun Kristen berkembang dengan penuh tekanan, tidak jarang pengikutnya dibunuh dan harta gerejanya dirampok dan dijarah.

Kontantinus pernah pergi ke wilayah Yudea dan bersahabat dengan Eusebius, dan banyak mengetahui Kristen dan perkembangannya dari Eusebius, meskipun masih belum melepaskan kepercayaan pada dewa dewanya. Bahasa Yunani saat itu lebih luas penggunaannya pada bangsa bangsa di wilayah imperium dibanding bahasa latin Roma.

Oleh karena itu pemanfaatan pemeluk Kristen dalam satu kesatuan politis sangat penting untuk memperkuat imperiumnya yang terbagi dalam dua kerajaan mitra antara barat dan timur dan sekaligus menanamkan jasa pada kaum Kristen agar menjadi rakyat yang setia kepadanya.

Konstantinus mengumumkan bahwa Kristen menjadi agama negara setelah kepercayaan pada dewa dewa Roma dan Yunani. Dewa Zeus, Leto, Artemis dan Apollo masih menjadi keyakinan utama bangsa Roma dan Yunani.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-152)

Konstantinus masih menjadi pontifex maximus, imam kepala dalam kepercayaan agama Roma dan Yunani. Dengan pengumuman tersebut, harta dan tempat ibadah kaum Kristen yang telah dirampas harus dikembalikan. Kristen boleh berkembang dengan bebas dan terbuka, tidak boleh diganggu dan diperangi. Agama Kristen secara tiba tiba telah berada di panggung dunia.

Pada saat yang sama, keputusan Konstantinus terhadap Kristen menjadi pukulan bagi agama Yahudi dan Nashara. Bani Israel yang masih terusir dari wilayah Yudea, setelah mendengar pengumuman itu, hanya bisa merasa semakin tersudut dan kemudian menengok kembali pada kitabnya, dan didapatinya ramalan Nabi Daniel tentang perwujudan binatang buas ke empat yang mempunyai tanduk kecil di tengah-tengah 10 tanduk besarnya, yang pada tanduk kecil itu terdapat mata dan mulut, dan mulutnya meneriakkan tantangan kepada Elloh. Perwujudan tanduk kecil itu mereka yakini adalah Konstantin yang sedang menantang Ellohnya.

Namun dengan menengok kitabnya itu, Bani Israel dapat menerima dengan sabar tragedi yang menimpa kaum dan agamanya, bahwa peristiwa itu telah dinubuwahkan oleh nabinya. Justru setelah menyadari dan memahami hal itu Bani Israel semakin teguh memegang keyakinan agamanya.

Namun, Licianus menentang keputusan Konstantinus dan menuduh Kristen melakukan kegiatan mata mata di istana Roma untuk mempengaruhi turunnya keputusan Konstantin. Licianus bahkan melakukan kekerasan terhadap kaum Kristen di wilayah timur. Konstantinus menjadi memperoleh alasan untuk memerangi Licianus. Dia kemudian menggerakkan pasukannya ke timur.

Perang terjadi di kota yang sama ketika Licianus mengalahkan Maximinus Daia. Pasukan Licianus dapat di desak mundur terus hingga sampai ke kota Chrysopolis. Tidak ada harapan untuk Licianus terus bertahan, dan memilih menyerah sebelum perang selesai, minta ampun pada Konstantinus yang kemudian tidak mengeksekusinya namun mengasingkannya. Konstantinus memenangkan perangnya dan menyatukan kekuasaan imperium Roma dalam satu tangan pada dirinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-151)

Ketika Kristen dipanggung dunia, justru mulai terbuka perbedaan teologisnya yang berpotensi menimbulkan ketidak stabilan politik di wilayah imperium. Perdebatan teologis terjadi sangat keras dan tidak menemukan titik temunya, membuat kaum Kristen terpecah. Perdebatan keras yang memang sulit untuk dicarikan komprominya.

Yesus adalah manusia tetapi juga tuhan. Tuhan yang Maha Pencipta harus merubah dirinya menjadi manusia. Ketika berwujud manusia, harus terlebih dahulu berada di rahim wanita, menjadi bayi dan akhirnya menjadi manusia seperti halnya manusia lainnya.

Apakah selama waktu itu, tuhan harus berhenti mencipta. Paradoks dua dzat yang sangat sulit untuk dipahami dalam penyatuan satu hakikat dzat, yang akan memunculkan perbedaan sejak ketika pertama kali dimunculkan sebagai sebuah keyakinan ke-Tuhanan.

Namun Konstantin dengan kecerdasannya justru melihat peluang lagi untuk sekali lagi menanamkan jasanya kepada kaum Kristen. Konstantinus berusaha membuat terobosan untuk menyatukan pendapat kaum Kristen sekaligus untuk mendapatkan loyalitas tinggi dari kaum Kristen.

Untuk pertama kali, atas inisiatif dan undangan Konstantinus, Kaum Kristen melaksanakan sidang dalam konsili untuk mencari upaya membuat kesepakatan pemahaman dan keyakinan tentang Yesus sebagai Tuhan. Konsili dilaksankan di Nicaea tahun 325 M.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here