Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-157)

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (Masjidil Aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik.

287
Lukisan suasana Konsili Nicaea I, inisiatif dari Konstantin Agung. (Sumber: wikipedia)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

Konstantinus terlibat langsung dalam perumusan keyakinan Ke-Tuhan-an Yesus. Bukan hanya terlibat secara fisik namun juga terlibat secara politik kekuasaan, karena Konstantinus kemudian memberikan pengesahan atas rumusan Ke-Tuhan-an Yesus dengan membubuhkan stemple pengesahan kerajaan. Rumusan tersebut kemudian dikenal dengan Syahadat Nicaea yang berbunyi:

Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,

Putra Allah yang tunggal,

Yang lahir dari Bapa sebelum segala abad,

Allah dari Allah,

Terang dari Terang,

Allah benar dari Allah benar,

Ia dilahirkan bukan dijadikan,

Sehakikat dengan Bapa,

Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.

Rumusan ini berarti dengan tegas menolak teologi Arius. “Syahadat” Nicaea itu bukan menyatukan pendapat yang memang tidak mungkin disatukan, namun memaksakan satu pemahaman tentang Tuhan dari dua pemahaman yang tidak dapat disatukan.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-156)

Karena “syahadat” Kristen itu distempel kerajaan, jiwa Arius bisa dalam keadaan berbahaya. Arius kemudian pergi dari negerinya, konon ke Samaria atau Syam. Stemple kerajaan tidak menghentikan terjadinya perbedaan keyakinan.

Pemahaman Tuhan Yesus adalah mahluk yang diciptakan kemudian diperanakkan oleh Allah, masih tetap kuat, terutama di wilayah Syam. Dari Konsili Nicaea, para imam pulang ke negerinya masing-masing dengan tetap dengan keyakinannya sendiri sendiri.

Usai konsili Nicaea, Konstantinus secara tak terduga justru mengsekusi mati Licianus dan anaknya yang masih berumur sekitarsepuluh tahun. Konstantin tidak ingin ada bibit yang dapat mengklaim tahta yang suatu saat bisa menyingkirkannya. Saudari tirinya yang menjadi janda, yaitu Konstantina akhirnya menjadi pendukung utama madzab Arius.

Keputusan Konstantin yang tak terduga lainnya adalah, beberapa tahun kemudian, memindahkan ibu kota imperium dari Roma ke Bizantium. Semua pejabatnya di minta pindah ke ibukota baru yaitu Konstantinople, kotanya Konstantinus. Konstantinople dibangunnya sebagai kota Kristen baru dengan persepsinya sendiri, yang menjadi simbul keberadaan dirinya.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-155)

Roma yang ditinggalnya menerima dengan perasaan sakit hati karena kehilangan martabat. Demikian pula Kristen Athanasius yang telah diberinya hadiah stemple kerajaan atas Syahadat Nicaea merasa kehilangan penopang untuk bertahan terhadap tetap berkembangnya Kristen Arius.

Imperium Roma menuju perpecahan antara imperium barat dan imperium timur, sedang perasingan antara Athanasius melawan Arius akan menjadi semakin sengit. Era baru imperium Roma segera muncul, yaitu Roma versus Konstantinople.

29. Madzhab Kristen dan Perpecahan wilayah imperium.

Memindahkan ibu kota dari Roma ke Konstantinople, juga dapat dipersepsikan bahwa Konstantinus ingin menghadapi Persia dengan berhadap hadapan sendiri. Raja Persia, Shapur II yang juga disebut Shapur Agung, sepertinya berpikir bahwa Konstantinus ingin melakukan serangan sendiri ke negerinya. Baik Konstantinus maupun Shapur II masing-masing berhati hati dengan Langkah masing-masing.

Konstantinus berkirim surat kepada Shapur II untuk menjajagi niat Shapur II, dengan menjadikan Kristen sebagai alat untuk melihat reaksi Shapur II. Dalam suratnya Konstantinus meminta agar Shapur II tidak berbuat jahat terhadap penduduknya yang beragama Kristen.

Perkembangan Kristen yang pesat di negeri negeri yang berbatasan dengan Persia, juga menjadi perhatian Konstantinus. Dengan raja raja negeri lebih kecil dan lemah yang memeluk Kristen, Konstantin membangun persahabatan dengan visi sebagai raja yang memberikan perlindungan. Dengan demkian, menjadi penganut agama Kristen telah bimplikasi pada hubungan antar negara.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-154)

Langkah Konstantinus tersebut oleh Persia dibaca sebagai tantangan. Persia menyerbu Armenia namun Persia tidak berniat betul-betul untuk menguasainya, hanya untuk memberikan pesan yang jelas kepada Konstantinus. Pemeluk Kristen di perbatasan barat
Persia mendapat tekanan kuat, mendapatkan perlakuan kekerasan dan penganiayaan, karena dianggap membahayakan negeri, memata-matai negeri.

Konstantinus menangkap pesan tantangan itu, dan menanggapinya dengan mempersiapkan pasukan untuk menyerang Persia. Namun belum sempat menggerakkan tentaranya, Konstantinus sakit keras yang berakibat kematiannya.

Konstantinus meninggal pada Mei 337. Jasadnya dikuburkan di gereja dengan didampingi dua belas makam simbolik dari dua belas rasul Kristen. Para sejarawan menyebutnya sebagai pengagungan yang luar biasa terhadap Konstantinus.

Konstantinus tidak membuat surat waris untuk tahta kekaisarannya, yang kemudian menjadi ajang perebutan anak dan kemenakan yang merasa mempunyai hak waris atas tahta. Bulan bulan setelah kematian Konstantinus merupakan siatuasi yang sulit bagi imperium Roma. Tiga anak kandung yang kesemuanya masih berumur belasan tahun, pada awalnya dapat bersatu untuk mengalahkan saudara-saudara sepupunya yang ingin merebut tahta.

BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-153)

Setelah semua lawan dapat dikalahkan, wilayah imperum dibagi tiga kerajaan mitra. Konstantinus paling muda yang mendapat wilayah timur langsung menggerakkan pasukannya ke Armenia untuk menolong raja Khosrov dan mendudukkannya lagi sebagai raja Armenia.

Namun setelah itu, terjadi perebutan wilayah antar saudara lagi yang dimenangkan oleh Konstantinus Timur. Saudaranya yang menjadi raja di wilayah tengah di bunuhnya di Italia. Sedang raja di wilayah barat, dibunuh oleh jendralnya sendiri yang merebut kekuasannya.

Konstantinus wilayah timur kemudian menggerakkan pasukannya ke wilayah barat dan dapat merebut kembali wilayah barat. Kontantinus muda kemudian mendudukkan sepupunya yang tidak pernah ikut dalam perebutan kekuasaan, yaitu Julianus yang telah dididik dengan agama Kristen menjadi raja mitra di wilayah barat, dan konstantinus tetap berkedudukan di Konstantinopel. Pada tahun 355, seluruh wilayah imperium roma telah disatukan lagi oleh Kontantinus muda.

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here