Menikmati Sujud

302

Oleh: H. Winarto AR bin Darmoredjo (Majelis Dakwah Edwin Az-Zahra)

Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih mendapatkan kesuksesan atau rezeki tidak terduga yang diberikan oleh Allah SWT.

Dalam agama Islam, memang menekankan kepada umat Muslim agar senantiasa bersyukur.

Tetapi ada pula sujud untuk ungkapan hati dan doa yang dilakukan lama sekali serta dengan rasa nikmat.

BACA JUGA: Mengenal Thaif, Kota yang Sangat Subur

***

Seorang tua susah payah untuk bisa melakukan sujud. Penyakit pinggang yang telah menderanya sekian lama membuatnya tidak bisa sujud saat shalat. Jika dipaksakan, ia akan kesakitan sampai mengaduh.

Matanya berkaca-kaca karena tidak bisa sempurna untuk menjalankan shalat. Terlebih lagi, ia baru saja bertobat untuk menjalankan shalat lima waktu ketika usianya sudah senja.

Subhanallah. Sungguh nikmat shalat itu justru ketika kita bisa berlama-lama sujud sambil berdoa dan meminta ampun kepada Allah SWT. Menyungkurkan wajah yang angkuh ini sambil menangis mengakui kekurangan dan kebodohan atas rahmat-Nya yang tak terkira.

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk,” (QS. Al-Isra [17]: 109).

BACA JUGA: Di Bumi Tak Dikenal, di Langit Sangat Terkenal

Namun lelaki tua yang saya jumpai itu tak lagi dapat melakukannya. Ia telah kehilangan salah satu nikmat Allah, bisa bersujud. Padahal sujud adalah saat dimana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya.

“Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya)” (HR. Muslim).

Di saat sujudlah, seorang hamba bisa mengadu, berkeluh kesah dan meminta bantuan atas berbagai cobaan hidup yang dialaminya. Saat sujud, rasa galau berganti menjadi ketenangan. Pesimis berganti menjadi optimis. Tangis putus asa berganti menjadi senyum harapan.

Namun nikmat sujud itu hilang dari lelaki yang saya jumpai di mesjid itu. Posisi yang paling dekat antara dia dengan Tuhan yang Maha Pengasih telah hilang dan menjadi cobaan baginya. Walau dipaksakan sampai merintih kesakitan untuk sujud, tetap ia tak bisa melakukannya.

BACA JUGA: Ketika Tahta dan Harta Belum Berhasil Diperoleh

Sungguh manusia BUTUH SUJUD. Saya tak dapat membayangkan betapa sedihnya hati ini jika suatu ketika saya tak bisa sujud seperti lelaki tua itu. Hilang sudah saat-saat indah berdekatan dengan Allah.

Hilang sudah kenikmatan berlama-lama menyungkur pasrah menguatkan jiwa seperti yang dilakukan Umar ra atau orang besar lainnya. Dengan berbekal sujud, mereka tampil perkasa di panggung dunia.

Sayangnya.. nikmat sujud ini justru sering diabaikan oleh mereka yang masih mampu bersujud. Sujud mereka kilat dan tak sempurna. Hal itu bukan saja membuat shalat tidak khusyuk, tapi juga membatalkan shalat.

“Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak mengenakan hidungnya ke tanah sebagaimana kenanya dahi” (HR. Ad Daruquthni, no. 1335 dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Sifat Ash Shalah).

BACA JUGA: Prolog dan Epilog Keberadaan Manusia

Lebih celaka lagi jika ada orang yang mengabaikan kenikmatan sujud dengan jarang melakukan shalat. Shalat lima waktu diabaikannya. Inilah orang yang kufur atas nikmat sujud dan sombong terhadap Allah.

Wahai saudaraku ….belumkah tiba bagimu waktu untuk bersyukur dengan nikmat sujud? Apakah engkau baru sadar setelah tak mampu lagi bersujud? Atau baru menyesal setelah Allah memaksamu bersujud (dengan kematian yang menyakitkan)? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُون

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami) mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri” (QS. As-Sajdah [32]: 15).

Salam sujud sepenuh hati …

 


#Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan kepadanya dari rezekimu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.” (HR. ‘Abdurrazaq).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here