Walimatul ‘Urs

129

Oleh: Dea Guru H. Ahmad Nahid, M.Pd (Wakil Pengasuh dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa Indonesia)

Walimatul ‘Urs atau yang lazim dikenal sebagai pesta pernikahan, adalah jamuan makan yang diselenggarakan berkenaan dengan pernikahan. Biasanya walimatul ‘urs dilaksanakan setelah akad nikah.

Kata walimah berasal dari kata al-Walamu yang dalam bahasa Indonesia bermakna “pertemuan”. Di dalam kamus ilmu fiqih disebutkan bahwa walimah itu adalah makanan pernikahan atau semua makanan yang ditujukan untuk disantap para undangan.

Kemudian kedua, kata al-‘Urs. Kata al-‘Urs terdiri dari tiga huruf arab: ‘ain, ra, sin. Karena posisinya sebagai mudhaf ilaih, maka ditambah alif lam ma’rifah atau (اَلْ). Jika ditulis dalam bahasa arab menjadi: اَلْعُرْسُ / al-‘Ursu.

BACA JUGA: Khitbah (Bagian 1)

Kata al-‘Urs dalam kalimat Walimatul ‘Urs artinya adalah az-Zifaf wa Tazwij; perkawinan dan pernikahan. Bentuk plural dari Al-‘Ursu adalah al-A’rasu / اَلْأَعْرَاسُ.

Jadi ‘Urs artinya perkawinan dan pernikahan. Sedangkan al-‘Ursy terdiri dari tiga kata: ‘ain, ra, dan syin. Jika dirangkai menjadi عُرْشٌ. Kata ‘Ursyun dalam kamus bahasa arab berarti sama dengan الأذُنُ / telinga.

Sering kita jumpai penulisan kalimat Walimatul ‘Ursy pada kartu undangan, banner, atau papan pemberitahuan pernikahan seseorang. Padahal yang benar adalah Walimatul ‘Urs.

Para ulama ahli hukum Islam fiqih bersepakat bahwa mengadakan pesta pernikahan hukumnya adalah sunnah muakkadah, yakni sebuah perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan karena itu dianjurkan bagi sang suami yang merupakan seorang laki-laki (rasyid) dan wali suami yang bukan rasyid.

BACA JUGA: Qadha dan Qadar

Pembiayaan pesta pernikahan harus dibayarkan oleh sang suami. Meskipun demikian, pengadaan pesta pernikahan harus menyesuaikan kemampuan sang suami, karena tujuan adanya pesta pernikahan adalah untuk mengembirakan hati kedua pengantin.

Ketika mengadakan Walimatul ‘Urs tamu yang diundang hendaknya adalah orang-orang yang shalih, baik yang kaya maupun yang miskin. Oleh hukum Islam, Tidak diperbolehkan mengundang hanya orang-orang kaya saja. Orang miskin maupun kaya memiliki hak yang sama.

Tidak ada batasan tertentu untuk melaksanakannya, namun lebih diutamakan untuk menyelenggarakan walimatul ‘urs setelah ”dukhul”, yaitu setelah pengantin melakukan hubungan seksual setelah akad nikah. Hal itu berdasarkan apa yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ, yang juga tidak pernah mengadakan walimatul ‘urs kecuali sesudah dukhul.

BACA JUGA: Lisan Salim

Menghadiri undangan walimatul ‘urs hukumnya adalah wajib atau fardhu ‘ain, yaitu sebuah perbuatan yang apabila ditinggalkan akan mengakibatkan dosa.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa mendatangi sebuah walimatul ‘urs, merupakan sebuah fardhu kifayah, yaitu sebuah perbuatan yang apabila orang lain telah melakukan maka orang yang lain tidak wajib melakukannya.

Mereka beranggapan bahwa esensi dan tujuan adanya sebuah pernikahan adalah untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa pasangan ini telah menikah dan membedakannya dari perbuatan zina.

BACA JUGA: Din Salim

Syarat-syarat yang menjadikan seorang muslim wajib menghadiri walimatul ‘urs adalah:

1- Orang yang mengundang adalah kerabat atau saudara.

2- Ditentukan orangnya.

3- Jika undangan walimatul ‘urs bersifat umum (tidak menentukan orangnya), maka tidak wajib untuk menghadiri undangan tersebut, dan hukum menghadirinya adalah fardhu kifayah–apabila orang lain telah melakukan maka orang yang lain tidak wajib melakukannya.

4- Tidak ada halangan sah sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Misalnya saja, sakit keras, hujan yang deras, banjir, dan lainnya.

5- Di tempat walimatul ‘urs tidak terdapat perbuatan jahat (kemungkaran).

BACA JUGA: Jismun Salim

Dalam kitab Subulus Salam, Imam Muhammad bin Ismail Ash-Shan’ani menyebutkan bahwa makna acara tersebut adalah mengumumkan untuk pernikahan yang menghalalkan hubungan suami istri dan perpindahan status kepemilikan.

Sementara menurut kalangan mazhab Ahmad menyatakan bahwa acara tersebut merupakan jamuan makan yang diadakan untuk merayakan pernikahan pasangan pengantin.

Selain itu, walimah ‘urs juga salah satu jalan agar tidak menimbulkan kecurigaan dari masyarakat ketika melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan bagi sepasang kekasih yang belum melakukan akad nikah. Dan juga bisa sebagai perangsang bagi para jomlo agar tidak membujang selamanya.

Walimah ‘Urs juga bertujuan untuk memohon doa dari para undangan, agar pernikahan tersebut mendapat keberkahan dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Walimah juga dapat dianggap sebagai wasilah untuk mensyiarkan hukum-hukum Allah, sebagai satu rangkaian yang menyertai pernikahan dan mempunyai tujuan yang mulia, yaitu beribadah kepada Allah dan mengharapkan rida Allah Swt.

BACA JUGA: Qolbun Saliim

Walimah ‘Urs merupakan perkara yang disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ اَثَرَ صُفْرَةٍ فَقَالَ: مَا هذَا؟ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنّى تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ. قَالَ: فَبَارَكَ اللهُ لَكَ. اَوْلِمْ وَ لَوْ بِشَاةٍ. مسلم

“Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi ﷺ. melihat ada bekas kuning-kuning pada ‘Abdur Rahman bin ‘Auf. Maka beliau bertanya, “Apa ini?”. Ia menjawab, “Ya Rasulullah, saya baru saja menikahi wanita dengan mahar seberat biji dari emas”. Maka beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu. Selenggarakan walimah meskipun (hanya) dengan (menyembelih) seekor kambing”.

Semoga bermanfaat.

Sumber: (www.zakat.or.id, www.wikipedia.com, www.bincangsyariah.com, www.republika.com, www.islam.or.id)

Wallahu a’lam bish shawab.

Mari istiqamah dalam beribadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here