Qolbun Saliim

117

Oleh: Dea Guru H. Ahmad Nahid, M.Pd (Wakil Pengasuh dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa Indonesia)

Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi kaya, bahkan dianjurkan kaya agar bisa membantu sesama dan menolong agama, dengan zakat dan beragam amal maliyah lainnya. Namun, sering kali kesibukan kita mengejar dunia menjadikan hati dan jiwa kita penat, bahkan terkadang keras.

Sulit ikhlas, sulit khusyu’ dalam beribadah dan sulit husnudhan kepada Allah dan sesama umat. Jika demikian, alamat hati kita tidak sehat. Padahal, harta sebanyak apapun tidak bisa menyelamatkan manusia kelak ketika berjumpa dengan Tuhannya, tanpa disertai dengan hati yang sehat, hati yang selamat, yang dalam istilah Al-Quran disebut dengan nama “qalbun salim.”

BACA JUGA: Idul Adha

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).

Ayat di atas sekaligus menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan hati, kesucian jiwa. Agar kita memiliki qalbun salim. Qalbun salim yang dijaga dengan tazkiyatun nafs bukan hanya bermanfaaat di akhirat, melainkan juga di dunia. Qalbun salim membuat jiwa tenang dan damai, serta membawa kebahagiaan karena hidup di atas kebenaran iman dan petunjuk Islam.

Lalu bagaimana kita agar sukses menjaga qalbun salim dengan tazkiyatun nafs?

BACA JUGA: Tarekat

1- Mengilmui Tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa yang benar haruslah berlandaskan ilmu agama yang benar.

Sebagaimana hati yang bersih itu berangkat dari aqidah yang benar, maka ilmu dan pemahaman tentang aqidah kita juga harus benar. Hati yang bersih, pondasinya adalah ikhlas; yaitu meniatkan segala amal ibadah yang kita lakukan selama ini hanya untuk Allah. Dan itu pula yang kita dapati selama ini mengapa surat yang keseluruhan ayatnya berbicara tentang tauhid dinamakan surat Al Ikhlas.

Kebaikan seseorang, termasuk pula kebersihan hati, bermuara dari ilmu agama yang dipahami lalu diamalkan.

Meskipun, konotasi ilmu di sini tidak selalu mengarah kepada apa yang didapatkan dari pendidikan formal.

Raasulullah ﷺ bersabda:

من یرد الله به خیرا یفقه فی الدین

Man Yuridillaha bihi Khoiron yufaqqihhu fiddin

“Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agama,” (HR. Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA: Syari’at

2- Memperbesar Ketaatan dan Menjauhi Kemaksiatan

Kiat kedua dalam tazkiyatun nafs adalah meningkatkaan ketaatan kepada Allah. Yakni dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Semakin kita taat kepada Allah, hati kita kian bersih, jiwa kita kian suci. Tetapi sebaliknya, jika kita menentang perintah Allah, melanggar larangan-Nya, sombong kepada-Nya, maka hati kita menjadi gelap, ternoda, keras, sakit dan makin dekat dengan kematiannya.

Langkah tazkiyatun nafs yang kedua ini sebenarnya amat dekat kaitannya dengan langkah pertama. Sebab ilmu yang hanya diketahui tanpa diamalkan, tidak berpengaruh dalam pembersihan jiwa.

Bahkan seperti apa yang dialami oleh Bani Israil, mereka tahu banyak hal tentang apa yang dikehendaki Allah, tetapi mereka mengabaikan itu dan menjadikannya bahan perdebatan semata, maka hati mereka pun keras membatu.

BACA JUGA: Ikhlas

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:

“Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan, maka ia telah tercemar. Dan setiap keyakinan yang tidak mendorong untuk beramal, ia juga telah tercemar.”

Agar kita giat memperbesar taat dan menjauhi maksiat, kita harus menanamkan muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah. Di manapun kita berada, baik di kala ramai maupun di saat sendiri. Baik terang-terangan maupun rahasia.

Baik bersama banyak orang maupun dalam kesunyian, sesungguhnya Allah mengawasi kita. Maka kita pun malu jika hendak bermaksiat, sekaligus malu jika tidak menjalankan ketaaatan kepadaNya.

“Dan Dia bersama kamu dimanapun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat segala apa yang kemu kerjakan,” (QS. Al-Hadid: 4).

BACA JUGA: Ihsan

3- Bermuhaasabah

Selanjutnya, untuk menjaga hati kita dengan tazkiyatun nafs, kita perlu membiasakan muhasabah, mengevaluasi diri kita. Secara rutin kita bisa mengambil momen tertentu sehingga bisa melakukan muhasabah secara periodik. Ada sahabat yang membiasakan diri sebelum tidur melakukan muhasabah, dan subhanallah, ia menjadi ahli surga karenanya.

Hal seperti itu bisa kita contoh. Dalam waktu khusus yang telah kita sediakan, secara rutin kita mengevaluasi hati kita sendiri. Apakah masih ada takabur dalam rentang waktu itu. Apakah masih ada ujub dalam rentang waktu itu.

Apakah masih ada hasad terhadap sesama. Apakah masih ada ghill terhadap saudara. Dan sebagainya. Jika kita mendapati penyakit-penyakit hati tersebut, kita segera bertaubat dan beristighfar kepada Allah, seraya berkomitmen untuk memperbaiki diri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orag-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok. Bertaqwalah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Hasyr: 18).

BACA JUGA: Hibah atau Hadiah

4- Berdoa

Ini hal yang tidak boleh kita lupakan. Berdoalah. Sebab Allah-lah Dzat yang membolak-balikkan hati. Maka memohonlah kepada-Nya agar hati ditetakan dalam keimanan, agar hati senantiasa dijaga sehingga menjadi bersih dan bening dengan penjagaanNya.

“Sekiranya tidaklah karena Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS. An Nur : 21)

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah doa dalam rangka tazkiyatun nafs:

Allahumma Aati Nasii Taqwaahaa wazakkahaa anta khaeru man zakkaha.

“Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaan dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikan jiwa,” (HR. Muslim).

Semoga kita bisa mengamalkan dan semoga Allah Ta`ala membimbing kita meraih qolbun salim.

Wallahu a’lam bish shawab.

Mari istiqamah dalam beribadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here