Rodhiyatan Mardhiyyatan

426

Oleh: H. Winarto AR bin Darmoredjo (Majelis Dakwah Edwin Az-Zahra)

Ridha dulu kepada Allah, nanti Allah akan meridhai.

Kebanyakan muslim ketika ditanyai apa yang mereka cari dalam hidup ini? Mereka selalu menjawab mencari ridha Allah karena mereka ingin mendapat ridha dari Allah SWT. Akan tetapi hal yang sebenarnya bahwa ridha Allah bukan untuk diminta dan dicari tetapi untuk mereka lakukan.

Karena subjek utama ridha Allah adalah diri mereka sendiri yang harus ridha kepada Allah bahwa kemudian Allah SWT ridha adalah hal yang otomatis. Karena tidak mungkin kalau mereka ridha dengan takdir Allah lalu Allah tidak meridhai.

BACA JUGA: Sosok Ibunda Rasulullah ﷺ

***

Rumus sederhana di puncak firman-firman Allah dengan siapa yang dipanggil Allah untuk memasuki hilir kemesraan cinta dengan Allah. Siapa yang kompatibel terhadap cinta Allah, karena unsur kompatibelnya adalah Rodhiatan Mardiyah. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya,” (QS. Al-Fajr [89]: 27-28).

Dari dalil di atas menyebutkan bahwa semua manusia di muka bumi ini bisa jadi Allah meridhai dan menerima amalan kita bisa jadi tidak, kecuali beberapa orang yang dijamin masuk surga oleh Allah seperti Rasulullah. Selain itu, semua manusia di dunia ini kedudukannya sama di mata Allah.

Oleh karena itu, kita tidak usah sibuk mencari ridha Allah, akan tetapi kitalah yang harus terus menerus ridha kepada Allah karena rumusnya adalah Rodhiatan Mardiyah bukan terbalik Mardiyatan Rodhiah. Jadi kitalah yang harus memastikan setiap saat ridha kepada apapun saja yang Allah tentukan untuk kita, jika kita ridha dan terus ridha efeknya pasti diridhai oleh Allah.

BACA JUGA: Advice for My Self

Hal yang disebut kita ridha kepada Allah adalah ridha kepada setiap aplikasi Allah dalam hidup kita. Misalnya jantung kita berdetak menandakan bahwa Allah mempunyai urusan dengan jantung kita dan kita harus ridha dengan nikmat demikian.

Sebagaimana pohon, binatang dan alam itu adalah 100% ekspresi dari ridha. Oleh karena itu, temukanlah ridha karena manusia adalah makhluk yang diberi akal untuk mengambil jalan dari kehidupan maka setiap hari manusia harus menemukan yang mana saja dari perilaku kita hari ini yang diridhai Allah dan mana saja yang tidak diridhai.

Termasuk yang mana perilaku kita yang mencerminkan ridha kepada Allah dan mana yang tidak itulah ukuran hidup.

Seharusnya kita ridha berlangsung di setiap saat dalam hidup kita. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak berdiri di fakta hidupnya, tidak berdiri di kenyataan hidupnya mereka berdiri di harapannya saja. Maka yang akan terjadi adalah akan selalu merasa kurang apa yang di dapat dari hidupnya.

BACA JUGA: Point of No Return

Namun jika kita ikhlas berpijak ditempat dan momentum yang Allah beri serta dengan meridhai apa yang telah Allah karuniai kita sampai saat ini dengan posisi dan keadaan bagaimanapun. Maka ridha Allah akan menyertai keikhlasan kita untuk melangsungkan kehidupan kita.

Kesimpulan pada pembahasan Rodhiatan Mardiyatan adalah ketika umat muslim di dunia ini telah mengaplikasikan ridha untuk diridhai, maka akan terciptanya hati yang senantiasa ikhlas kepada setiap ketentuan yang Alah berikan. Serta kita menjadi hamba Allah yang insyaAllah dimuliakan Allahkarena mendapatkan ridha Allah.

Semoga kita semuanya senantiasa istiqomah menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur atas ni’mat Allah dengan segala takdir-Nya.

Wallahu a’lam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here