Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-63)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) Sampai dengan masa Nabi Dawud menjadi raja kerajaan Israel, tidak ada persentuhan antara kerajaannya dengan kerajaan Mesir, Hitti, Asyiria atau Elam, sedang wilayah kerajaan Israel dahulu menjadi wilayah perebutan kekuasaan kerajaan kerajaan tersebut. Kerajaan Israel hanya berebut wilayah dengan kerajaan-kerajaan kesukuan dari suku-suku asli Kana’an, Filistin dan suku-suku lainnya keturunan Nabi Luth seperti Amon dan Moab serta suku Edom yang masih punya hubungan kekerabatan dengan Bani Israel. Hal ini menunjukkan bahwa sampai dengan masa Nabi Dawud, kerajaan-kerajaan besar disekitarnya belum pulih dari perpecahan dan belum muncul penguasa yang betul-betul kuat yang dapat menyatukan kerajaan kerajaan besar tersebut. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-62) 12. Yerusalem IR Dawud. Dawud ingin meneguhkan bahwa dirinya bukan hanya raja suku Yehuda, tetapi raja kerajaan Bani Israel yang mempunyai wilayah dan mempunyai ibu kota kerajaan Israel. Dawud berkeinginan menaklukkan Yerusalem kotanya suku Kana’an yaitu suku Yebus untuk dijadikan ibu kota kerajaan. Di kisahkan dalam Kitab 2 Samuwel 5 : 6 -9, orang-orang Yebus menjumpai Dawud dengan mengatakan, “Engkau tidak akan sanggup masuk ke mari, orang-orang buta dan orang-orang timpang akan mengenyahkan engkau”. Dari perkataan tersebut dapat diterjemahkan suku Yebus memahami bahwa mereka tidak mungkin bisa menghadapi Dawud dan pasukannya. Mereka mengerti reputasi Dawud sebagai rasul Bani Israel yang terkenal sebagai jago perang yang memegang moralitas dari kitab mereka yaitu Taurat. Karena tidak mungkin unggul maka untuk menghadapi pasukan Dawud mereka menaruh di depan pintu benteng kota adalah orang-orang buta dan cacat sebagai suatu sindiran kepada Nabi Dawud. Namun Nabi Dawud cukup cerdik menghindari benturan dengan orang-orang cacat, dengan memerintahkan pasukannya memasuki Yerusalem melalui saluran air di bawah tembok benteng kota yang melintasi cadas yang terdapat celah yang dapat dilewati pasukan Bani Israel. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-61) Nabi Dawud memasuki Yerusalem tanpa harus melalui pintu benteng sehingga terhindar dari peperangan. Suku Yebus akhirnya mau berdamai dan Nabi Dawud tidak memanfaatkan menyerahnya suku Yebus tersebut menjadi perbudakan, namun hidup berdampingan. Nabi Dawud oleh Allah telah diberi kerajaan. Yang dilakukannya pertama kali setelah menguasai Yerusalem adalah membangun aliansi dengan kerajaan Tirus (sekarang Tyre masuk wilayah Lebanon). Langkah seperti ini adalah hal baru dalam kerajaan Israel yang sebelumnya tidak pernah dilakukan Saul maupun pada masa kepemimpinan para hakim. Dengan aliansi ini menegaskan bahwa wilayah kerajaan Israel tidak akan sampai atau bahkan melampaui wilayah Tirus sekaligus menjaga agar kerajaan Tirus tidak menjadi sumber kesulitan kerajaan Israel. Hubungan dengan Tirus diperkuat dengan hubungan dagang, dimana dalam membangun kota baru di sekitar Yerusalem, Nabi Dawud membeli kayu aras sekaligus mendatangkan tukang kayu dan tukang batu dari Tirus. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-60) [caption id="attachment_77541" align="aligncenter" width="382"]
Lukisan tabut Perjanjian diambil dari rumah Abinadab. (Sumber: Editorial La Paz)[/caption] Nabi Dawud juga mengawini perempuan-perempuan berpengaruh dari beberapa suku Kana’an maupun perempuan Yerusalem agar suku Kana’an di sekitar Yerusalem tidak menjadi gangguan bagi rencananya. Namun suku Filistin tetap menjadi lawan Bani Israel dalam perebutan wilayah. Pasukan Kerajaan Israel harus berperang dengan suku Filistin di perkampungan perkampungan lembah Refaim yang terletak di sebelah barat daya Yerusalem. Mereka berhasil memukul mundur suku Filistin mulai dari Gebaon sampai dekat Gezer. Dengan terusirnya suku Filistin dari lembah Refaim, maka Yerusalem sebagai IR Dawud sepenuhnya telah dapat diwujudkan. Setelah kondisi Yerusalem aman dari kemungkinan gangguan dari suku Filistin dan suku-suku Kana’an, Nabi Dawud kemudian memindahkan tabut dan Taurat yang saat itu masih berada di rumah Abinadab sejak dikembalikan oleh suku Filistin dari penguasaannya pada masa hakim Eli dan ketika Nabi Samuwel masih remaja. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-59) Jadi sudah lebih dari lima puluh tahun Tabut Taurat berada di rumah Abinadab. Nabi Dawud mengumpulkan tiga puluh ribu orang untuk mengambil dengan penuh penghormatan terhadap tabut Taurat. Dari sejak dari rumah Abinadab, Nabi Dawud sambil menari melantunkan pujian pujian kepada Allah. Anak-anak Abinadab yaitu Uza dan Ahyo menjadi pengantar berjalan di samping kereta yang membawa tabut Taurat. Namun terjadi kecelakaan diperjalanan atas lembu penarik kereta yang tergelincir karena Uza membuat keteledoran dalam menyentuh Tabut Taurat dengan maksud agar Tabut tidak tergelincir, namun justru berakibat Uza terjatuh dan mati disaat itu pula. Dawud merasa kejadian itu menunjukkan bahwa Allah belum meluluskan maksut Dawud untuk membawa tabut Taurat ke Yerusalem. Oleh karena itu Nabi Dawud membatalkan maksudnya mengambi tabut Taurat untuk dibawa ke Yerusalem dan kemudian dititipkan pada rumah Obed-Edom orang suku Gad. Allah memberkati seluruh keluarga dalam rumah Obed Edom sehingga tabut Taurat dapat ditempatkan dirumahnya. Suatu kepekaan yang tinggi dari Nabi Dawud, bahwa saat itu belum waktunya membawa tabut Taurat. Yerusalem belum mempersiapkan tempat bagi tabut Taurat yang bukan hanya berisi lempengan lempengan batu yang tertulis wahyu Allah namun juga berisi beberapa barang peninggalan Nabi Musa dan Harun. Nabi Dawud masih harus mempersiapkan kemah suci sebagaimana dahulu selalu ada sebagai tempat tabut Taurat dan peralatan ibadahnya. Perlu dibuatkan pula mezbah untuk tempat kurban bakaran melengkapi tempat ibadah bagi Bani Israel. BERSAMBUNGDapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group
































