Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-163)

Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-163)
Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) 2. Perkembangan Kristen di Bizantium, Persia dan Yaman. Pada tahun 380, Theodosius menyatukan doktrin Kristen dengan menyingkirkan madzab Arius dengan menetapkan satu pehaman doktrin ke-Kristen-an, satu untuk semuanya yaitu Katolik. Namun pada saat yang sama, Theodosius juga mengumumkan kedudukan setara antara Uskup Roma dengan Uskup Konstantinopel. Injilnya dilengkapi Septuaginta atau perjanjian lama berbahasa Yunani yang diterjemahkan dari bahasa ibrani. Theodosius bermaksud memberikan penghargaan pada bangsa Yunani sebagai bangsa yang telah berjasa terhadap muncul dan berkembangnya agama Kristen. Keputusan kesetaraan uskup dua kota ini, pada tahun 382 langsung di reaksi oleh Uskup Roma Paus Damasus I dengan mengumpulkan semua uskup dari kota kota di wilayah imperium Roma, termasuk mengundang Uskup Konstantinopel. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-162) Pertemuan memutuskan Uskup Roma adalah pemimpin dari semua uskup. Uskup Konstantinopel kedudukannya sama dengan uskup kota kota lainnya. Pertemuan juga memutuskan penerjemahan Injil 4 evangelic dari bahasa Yunani ke bahasa latin. Injil berbahasa latin ini disebut Vulgata. Keputusan pertemuan tersebut untuk menunjukkan bahwa Gereja tidak bisa datur oleh Kaisar. Gereja mempunyai organisasinya sendiri dan mempunyai tradisi keagamaan sendiri yang tidak bisa diatur oleh Kaisar. Hanya ada satu gereja yaitu Katolik namun tidak boleh diatur oleh Kaisar. Gereja kedudukannya lebih tinggi dari Kaisar karena berada bukan hanya di wilayah imperium Roma, yang hal itu hanya dapat di organisasikan oleh gereja sendiri. Penganut Katolik melampaui batas batas negara, yang keperluan keagamaannya tidak bisa diatur suatu negara tertentu. Disisi lain madzab Arius meskipun tidak diakui oleh negara dan telah dinyatakan sebagai paham bid’ah, namun tidak dapat dihapuskan dengan mengusir atau membunuh penduduk. Madzab Arius tetap hidup bukan hanya di wilayah Imperium Roma. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-161) Syam menjadi wilayah dimana penyeberan madzab Arius sangat besar. Gereja Arius berkembang dengan cara berbeda yaitu dengan tanpa penyatuan Gereja. Kota Alexandria di Mesir juga menjadi salah satu kota dimana Madzab Arius berkembang dengan kuat. Madzab Arius ini kemudian menggunakan Perjanjian lama dan Injil dalam bahasa Aram atau Syiriac atau Suryani yang disebut Pesyita atau Pesyito atau Psyito atau Fsyito. Bahasa Aram adalah bahasa kedua dari Yesus. Jika dalam bahasa Ibrani nama Yeshus adalah Yeshua sedang dalam bahasa Aram namanya adalah Eesho M’sheekha atau ‘Iyso Masikha yang mempunyai arti ‘Iysaa Al Masih. Pesyita menterjemahkan Perjanjian Lama yang berbahasa ibrani dan Injil berbahasa Yunani ke dalam Bahasa Aram. Pesyita kemungkinan besar dibuat pertama kali pada abad 2 M, namun baru abad ke 5 M banyak digunakan oleh madzab Arius sebagai reaksi atas keputusan Roma. Pesyita digunakan terutama oleh gereja ortodoks Suryani atau Gereja Asyur di timur atau lebih dikenal dengan Gereja Timur. Ketetapan satu gereja oleh Theodosius I juga semakin menyulitkan agama pagan Roma dan Yunani yang menyembah para dewa yang sudah tidak mempunyai tempat pada jabatan Kaisar. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-160) Pemimpin agama mereka tidak mengerti kenapa untuk memperkuat kristianitas harus melepaskan Kaisar sebagai pelindung agama mereka. Mereka bertanya, dimana mereka harus meletakkan keimanan mereka pada kewajiban menyatakan kesetiaannya pada bangsa dan negara. Pemimpin agama pagan Roma dan Yunani memohon pada kaisar agar tetap menjadi pelindung penduduk beragama pagan. Namun Kaisar belum menjawab, Uskup Roma telah lebih dahulu menjawab bahwa Dewa Roma dan Yunani tidak mungkin disatukan pada jiwa kaisar yang justru mendapatkan kedamaian dari Kristus. Theodosius I tidak berani mengambil resiko menentang Ambrosius Uskup Roma karena tidak berani berselisih dengan Katolik yang dicetuskannya sendiri. Kaisar bahkan menyatakan peribadatan pagan Roma adalah pengkhianatan pada dirinya, dan kemudian memerintahkan penutupkan kuil kuil Roma dan Yunani. Penerusnya yaitu Theodosius II beberapa tahun kemudian, melakukan kodifikasi peraturan peraturan imperium Roma yang sangat banyak yang merupakan hasil dari perjalanan kesejarahannya yang panjang. Ketika kodifikasi peraturan selesai, maka posisi agama pagan Roma dan Yunani betul betul telah hilang. Agama pagan Roma dan Yunani bernasib seperti agama Yahudi yang keberadaannya tidak diakui negara. Thedosius II juga membentengi Kontantinopel dengan tembok besar dan panjang untuk mengatasi gangguan dari wilayah barat dan utara. Meskipun tembok tersebut meningkatkan keamanan Konstantinopel, namun keberadaan tembok tersebut membuat wilayahnya semakin terpisah dengan Roma. BERSAMBUNG