Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-64)

Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-64)
Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah) Di Yerusalem, Nabi Dawud terus berdoa memohon kepada Allah agar tabut Taurat dapat sampai kepadanya. Setelah tiga bulan lamanya tabut Taurat berada di rumah Obed-Edom, Nabi Dawud mendapat wahyu untuk mengambilnya. Seperti pertama kali cara mengambilnya Nabi Dawud juga menari-nari sambil memuji Allah, namun Nabi Dawud juga menyembelih kurban lembu untuk jarak langkah tertentu sehingga cukup banyak lembu yang dijadikan kurban bakaran. Bani Israel juga bersorak bergembira serta meniupkan terompetnya untuk mengiringi perjalanan Tabut Taurat. Akhirnya, tabut Taurat sampai di kota Yerusalem dan ditempatkan dalam kemah suci yang disediakan untuk tabut Taurat. tabut Taurat ternyata tidak bisa ditempatkan di dalam istana. Hal itu menunjukkan bahwa tabut Taurat tidak boleh terkooptasi oleh perilaku raja dan pejabat istana. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-63) Di depan Kemah Suci kemudian Dawud menyembelih kurban bakaran lagi. IR Dawud telah lengkap atributnya dengan keberadaan tabut Taurat di dalam kota. Namun Nabi Dawud merasa tidak pada tempatnya menempatkan tabut Taurat di Kemah sedang dirinya berada di istana. Dawud mengeluhkan hal ini kepada orang shalih di antara Bani Israel yang orang tersebut menjadi Nabi Bani Israel, yaitu Nabi Nathan. Dan Ketika Nabi Nathan mendapatkan wahyu atas keluhan Nabi Dawud, maka wahyu tersebut disampaikannya kepada Nabi Dawud bahwa yang akan mendirikan Bait Allah untuk tempat tabut Taurat adalah anaknya yang juga akan menjadi raja Bani Israel menggantikan dirinya. Nabi Dawud kemudian memanjatkan doa dan bersujud syukur atas turunnya wahyu tersebut. Kota Dawud, diyakini oleh negara Israel terletak di Kota Lama Yerusalem yang terletak di dataran tinggi Pegunungan Yudea, berada di tengah-tengah kota Yerusalem saat ini, berdekatan dengan Bukit Zaitun (bagian timur) dan dan Gunung Scopus (bagian timur laut), dikelilingi oleh lembah Kidron, Hinnom dan Tyropeon. Lembah Kidron terdapat di sebelah timur kota lama yang memisahkan Bukit Zaitun dari pusat kota. Sepanjang sisi selatan kota lama terdapat lembah curam Hinnom, Lembah Tyropeon berada di barat daya kota lama, dekat gerbang Damaskus. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-62) 13. Batsyeba dan Teguran Allah kepada Nabi Dawud. Di dalam QS. Shad 22–26 disebutkan bahwa Allah telah menegur Nabi Dawud atas kesalahannya dalam perbuatannya. Suatu saat, Nabi Dawud kedatangan tamu. Mereka begitu saja masuk istana sehingga Nabi Dawud terkejut atas kedatangannya. Mereka berkata, “Janganlah takut! Kami berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zhalim kepada yang lain. Maka berilah keputusan diantara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukkanlah kami kejalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai satu ekor saja, lalu dia berkata “serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku”. Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan. Dia (Dawud) berkata: “Sungguh, dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak diantara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zhalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan hanya sedikit mereka yang begitu. Dan Dawud menduga bahwa Kami mengujinya, maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Lalu kami mengampuni (kesalahannya) itu. Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-61) [caption id="attachment_77651" align="aligncenter" width="504"] Lukisan tentang Nathan Le Prophete Confronte David, Nabi Nathan mengingatkan kesalahan perbuatan Nabi Dawud. (Sumber: IStock)[/caption] Allah berfirman: “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan adzab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan”. Dari ayat tersebut, Nabi Dawud telah memutus perkara dari dua orang yang datang kepadanya tersebut bahwa yang mempunyai sembilan puluh sembilan kambing betina telah berbuat zhalim karena mengambil kambing betina milik saudaranya yang hanya satu ekor. Kezhaliman orang kaya tersebut adalah telah mengambil harta orang miskin. Namun Nabi Dawud merasa dirinya telah melakukan hal yang serupa dari orang kaya tersebut dalam perkara yang lain, sehingga kemudian menyungkur sujud dan bertaubat kepada Allah, lalu Allah mengampuni kesalahannya. Dari Kitab 2 Samuel 11, ditunjukkan perkara tersebut, yaitu perkara Nabi Dawud jatuh hati kepada Batsyeba binti Eliam istri Uria yang orang Hetsalah satu komandan perang Nabi Dawud. Uria adalah salah seorang kepala prajurit Nabi Dawud. Karena terdorong oleh nafsunya untuk mengambil Batsyeba sebagai istrinya, kemudian Nabi Dawud mengirim Uria dalam suatu perang yang berat dan memerintahkan panglima perangnya untuk menempatkan Uria dalam barisan depan yang berbahaya dengan maksud Uria terbunuh dalam perang di kota Raba, kotanya suku Amon. BACA JUGA: Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-60) Pada akhirnya Uria meninggal dalam peperangan tersebut. Setelah masa perkabungan Batsyeba selesai, Nabi Dawud kemudian mengambil Batsyeba sebagai istrinya. Dalam hal yang dikisahkan pada QS. Shad 22-26 tersebut, pada Kitab 2 Samuel 12, dikisahkan yang datang masuk menemui Nabi Dawud adalah Nabi Nathan yang waspada terhadap kesalahan Nabi Dawud. Nabi tersebut datang mengingatkan secara tidak langsung dengan mengadukan perkara kambing betina dimana orang yang mempunyai kambing betina banyak mengambil kambing betina saudaranya yang hanya seekor dan pemilik kambing betina yang seekor itu tidak berdaya atas perbuatan saudaranya. Sebagai seorang rasul, Nabi Dawud langsung tersentuh hatinya dan merasa tersindir atas perkara kambing itu dimana dirinya yang telah mempunyai istri banyak telah membuat Uria, seorang yang membantunya, yang tidak berdaya apabila berhadapan dengan dirinya, kemudian meninggal akibat perbuatannya. Setelah itu, Batsyeba istri Uria diambilnya menjadi istrinya. Atas sindiran itu Nabi Dawud menjadi sadar atas kesalahannya kemudian bertaubat memohon ampunan kepada Allah atas perbuatannya. BERSAMBUNG

Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group