Para Rasul dalam Peradaban (Seri ke-1)

1183
Atalantis of the Sands, The Lost City of Ubar, Yaman-Oman. Diduga merupakan peninggalan peradaban Kota Iram, Suku ‘Aad, kaum Nabi Hud. (Foto: franks-travelbox)

Oleh: Agus Mualif Rohadi (Pemerhati Sejarah)

I. Nabi Hud dan Nabi Shalih.

1- Masa kerasulan dan tempat diutusnya Nabi Hud.

Nabi Hud dari suku ‘Aad adalah nabi pertama setelah masa Nabi Nuh atau orang pertama yang diangkat jadi Rasul Allah dari keturunan suku Iram bin Sem bin Nuh. Diperkirakan berdasarkan penggalian situs di wilayah Hadramaut terdapat bekas kota yang dihuni pada tahun 2450 SM atau sebelumnya.

Penyebutan Iram bin Sam bin Nuh, bukan menunjukkan bahwa Iram adalah anak Sem tetapi lebih tepat suku Iram atau Aram adalah suku yang berasal dari keturunan Sam bin Nuh. Suku Iram atau Aram tersebar dalam wilayah yang luas mulai dari Syiria hingga Yaman.

Jika melihat tahunnya, maka pada masa itu sudah banyak suku suku yang tersebar di wilayah yang sangat luas bukan hanya di Timur Tengah, tetapi juga tersebar sampai ke daratan China, Eropa, Asia dan Afrika.

Sebagai contoh, pada tahun 2450 SM, bangsa Mesir telah terdapat kerajaan dinasti kelima dari dinasti awal Mesir, yang raja kelimanya bernama Neferefre atau setelahnya yaitu raja ke enam yang bernama Nyuserre. Sedang Dinasti Awal di Mesir terdapat dua, yaitu Dinasti Awal Mesir Hilir dan Dinasti Awal Mesir Hulu. Raja pertama dari Dinasti Awal Mesir Hilir bernama Tiu yang tidak diketahui masanya.

BACA JUGA: Menelusuri Penyebaran Awal Islam di Jawa

Sedang yang diketahui perkiraan masanya adalah raja ke-4 dinasti awal Mesir Hilir yang bernama Wazner yang memerintah sekitar tahun 3100 SM. Dinasti Awal mesir Hulu raja pertamanya adalah Serket I (Dewi Kalajengking) yang memerintah sekitar tahun 3200 SM. Pada tahun 3100 SM, Rajake empat Mesir Hulu yaitu Scorpio atau Scorpion dapat menyatukan kerajaan Mesir Hulu dan Mesir Hilir.

Sedang penemuan arkheologis menunjukkan suku tertua Mesir adalah suku Badaria yang diperkirakan hidup tahun 5000 SM-4000 SM dan suku Naqada diperkirakan hidup tahun 4000 SM-3000 SM.

Raja kesukuan di wilayah Sumeria Mesopotamia ditemukan sekitar tahun 3800 SM, sedang dinasti awal di Sumeria yang dapat dikenali adalah Dinasti Kish dengan raja pertama yang dapat dikenali bernama Gaur yang memerintah pada sekitar tahun 2700 SM. Di wilayah Uruk dikenal raja yang hebat yaitu Gilgameshyang hidup pada masa sekitar tahun 2700 SM-2500 SM.

Di India, zaman kerajaan Kaliyuga atau Dewa Nagara pada zaman kegelapan dapat diketemukan peninggalan arkheologisnya paling awal adalah sekitar tahun 3100 SM. Sedang di China dapat diketemukan seorang raja pertama kali adalah Fu Xi pada sekitar tahun 2850 SM.

BACA JUGA: Maulid Nabi Muhammad Saw. dan Revolusi Peradaban Dunia

Dengan demikian di banyak wilayah di belahan bumi, pada masa sekitar tahun 4000 SM-3000 SM sebenarnya telah berkembang kehidupan kesukuan. Meskipun sulit ditemukan peninggalan arkehologis dalam bentuk fisik yang memadai pada masa itu, namun terdapat isnkripsi dalam bentuk teks historiografi. Inskripsi pada masa Gilgamesh menyebutkan bahwa Gilgamesh sudah membangun tembok di Uruk.

Kisah Nabi Hud diperkirakan tidak terlampau jauh dengan masa Gilgamesh. Tempat kerasulan Nabi Hud di dalam Al-Quran disebut sebagai Al-Ahqaf atau Bukit-bukit Pasir. Dalam tafsir Al-Jalalin, Al-Ahqaf berada di Yaman diperkirakan terletak tidak jauh dari wilayah antara Al-Rubu’ Al-Khali dengan Hadramaut, masuk ke dalam wilayah negeri Yaman.

Kandidat lain yang diperkirakan sebagai bekas kota Iram adalah di dekat Oman. Seorang arkheolog bernama Nicholas Clapp pada tahun 1993 mengumumkan hasil temuannya berdasarkan penelitiannya pada ayat Al-Quran dalam bukunya, yaitu Atlantis of the Sands: The Search for the Lost City of Ubar atau Ubar, Atlantis di padang pasir, di wilayah Yaman, yang menceritakan penggalian sebuah kota yang tertimbun gurun pasir dimana ditemukan pilar-pilar bangunan menara.

Dengan demkian jauh sebelum masa Nabi Hud di wilayah tersebut telah berkembang kehidupan kesukuan atau kerajaan kesukuan. QS. Hud: 50-53 dan QS. Al-Ahqaf: 21-23, menunjukkan pada kaum ‘Aad atau suku ‘Aad keturunan dari suku Iram telah diutus Hud dari saudara mereka untuk memperingatkan kaumnya. Namun peringatan Nabi Hud selalu ditentang bahkan ditantang oleh kaumnya agar mendatangkan adzab untuk mereka.

Ayat-ayat tersebut secara tersirat menjelaskan bahwa kaum ‘Aad sudah lama lupa pada ajaran tauhid Nabi Nuh yang bertuhankan Allah dengan menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Tuhan-tuhan suku ‘Aad adalah Shamad, Shamud dan Huran.

Tidak diketahui secara persis kapan keturunan nabi Nuh di Al-Ahqaf ini mulai melupakan Allah dan peristiwa apa yang menyebabkan suku ini mempunyai tuhan-tuhan dengan nama-nama tersebut sehingga kemudian Allah mengutus Nabi Hud untuk memperingatkan mereka, sedang mereka sangat kukuh dengan keyakinannya sehingga menantang agar Nabi Hud mendatangkan adzab bagi mereka.

Ayat ini secara tidak langsung juga menunjukkan ada jarak rentang waktu panjang antara masa Nabi Nuh dengan masa Nabi Hud. Nama Iram dan ‘Aad sangat mungkin berawal dari nama orang yang kemudian berkembang menjadi nama suku maupun wilayah.

Al-Quran juga menunjukkan bahwa suku ‘Aad adalah suku yang memiliki kelebihan fisik (QS. Al-A’raf: 69, “……… Ingatlah Ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Alah agar kamu beruntung”).

Dengan kelebihan itu membuat kaum ‘Aad mempunyai peradaban yang paling tinggi di dunia dibanding peradaban-peradaban suku-suku lain keturunan Nabi Nuh di wilayah lainnya, mempunyai kekayaan yang tinggi, mampu memanfaatkan mata air ditengah padang pasir untuk membuat peternakan dan perkebunan yang subur.

Namun suku ‘Aad sangat bengis kepada kaum yang lemah. Hal ini ditunjukkan Al-Quran pada QS. Al-Fajr: 68, “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? Yaitu penduduk Iram yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu pemukiman atau kota) seperti itu di negeri negeri lain”.

QS. Asy-Syu’araa: 128-134, “Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati, dan kamu membuat banteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu lakukan secara kejam dan bengis. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan tetaplah kamu bertaqwa kepadaNya yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia (Allah) menganugerahkan kepadamu hewan ternak dan anak-anak dan kebun-kebun, dan mata air”.

Dari ayat-ayat tersebut di atas, Al-Quran menunjukkan bahwa pada masa itu, suku ‘Aad keturunan suku Iram, mempunyai peradaban paling tinggi di antara suku bangsa lainnya. Mampu membuat bangunan tinggi, membangun istana, dan kotanya dikelilingi oleh tembok benteng yang kuat, mampu membuat saluran air yang bagus sehingga dapat membangun kebun-kebun yang subur.

Namun dengan segala kehebatan perdaban dan kenikmatan serta kekuatan fisik tersebut justru membuat suku ‘Aad menjadi kaum yang sombong dan lupa bahwa semua kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah.

Suku ‘Aad justru menjadi kaum yang sesat yang tidak dapat diperingatkan lagi oleh Nabi Hud, bahkan menantang agar diturunkan adzab sambil membanggakan sesembahannya dengan menyembah berhala sesembahan nenek moyang (QS. Hud: 53 -57, QS. Al-A’raf: 70-71, QS. Al-Fushshilat: 15).

BERSAMBUNG

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here